Universitas Dinas Nuswantoro (Udinus) mengambil langkah penting untuk menghindari pemalsuan ijazah dari kampusnya. Upaya ini diwujudkan dengan penerapan sistem ijazah 100 persen berbasis blockchain.
Sistem ijazah ini disebut baru di Indonesia, sehingga menjadikan Udinus sebagai kampus pertama yang menerapkannya. Blockchain disebut sebagai buku besar data digital yang mencatat secara permanen, aman, dan transparan.
International Business Machines (IBM) menjelaskan bahwa data dalam sistem blockchain saling terhubung, tidak dapat diubah, dan divalidasi melalui suatu mekanisme. Akibatnya, data ini tahan dari perusakan dan penipuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerja Sama dengan UAE
Peresmian penggunaan ijazah berbasis blockchain ditandai dengan peresmian Indonesia Blockchain Center (IBC) di Udinus. IBC akan menjadi pusat studi dan pengembangan teknologi tersebut di Jawa Tengah.
Fasilitas ini merupakan hasil kerja sama antara Udinus, Dubai Blockchain Center, IBC, dan Sealbound Uni Emirat Arab (UAE). Rektor Udinus, Prof Dr Pulung Nurtantio Andono, menyatakan IBC akan menjawab tantangan di era digital.
Tantangan tersebut terutama dapat menyebabkan risiko pemalsuan terhadap dokumen. Dengan blockchain, ijazah lulusan Udinus tidak hanya sekadar berbentuk kertas, tetapi juga disertai rekam jejak digital yang transparan, aman, dan tidak bisa diubah.
"Implementasi ini bertujuan untuk memastikan keaslian ijazah, mencegah pemalsuan, hingga memudahkan verifikasi di skala global. Melalui kolaborasi global ini, kami siap menjadi pusat pengembangan blockchain dan pencetak talenta digital berstandar internasional," katanya, dikutip dari laman resmi Udinus, Jumat (3/4/2026).
Pusat studi blockchain pertama di Jawa Tengah ini berlokasi di Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Udinus. Tidak hanya teknologi, Dubai Blockchain Center juga memfasilitasi 30 trainer bersertifikat internasional.
Para trainer ini telah mengikuti kegiatan Training for Trainers (ToT) di Udinus. Bersama narasumber yang berafiliasi dengan Dubai Blockchain Center, di antaranya Ms. Moussa Alshhehi dari Sealbound dan Mr. Chantal Donelan dari NEXSTOX.
Pratama Arhan Bakal Jadi Lulusan Pertama yang Punya Ijazah Blockchain
Lebih lanjut, Udinus menyebutkan, penerapan ijazah blockchain baru akan ditetapkan pada lulusan 2026. Salah satu wisudawan yang akan menerima ijazah ini adalah atlet sepak bola dan pemain Timnas, Pratama Arhan.
Arhan diketahui baru menyelesaikan sidang skripsi dan resmi dinyatakan lulus S1 Manajemen. Pulung menyampaikan berdasarkan data dari Biro Akademik (Biak) Udinus, Arhan diprediksi akan mengikuti wisuda pada April 2026.
Jika benar, Arhan bersama angkatannya akan menjadi lulusan Udinus pertama yang memiliki ijazah berbasis blockchain.
"Sistem ini menjawab tantangan era digital, di mana risiko pemalsuan dokumen semakin tinggi. Dengan teknologi blockchain, ijazah lulusan Udinus tidak hanya sekadar lembaran kertas, tetapi memiliki rekam jejak digital yang transparan, aman, dan tidak dapat diubah," ungkapnya.
Pasca lulus, Arhan mengaku akan melanjutkan studi ke jenjang S2 di kampus yang sama, yakni Udinus. Mendengar hal ini, Pulung menyampaikan rasa senang.
Hal ini juga disebutnya sebagai bukti bahwa Udinus memberikan dukungan penuh bagi atlet profesional untuk tetap berprestasi di bidang akademik. Udinus juga telah memberikan beasiswa S2 untuk Arhan.
"Mendengar Arhan akan melanjutkan kuliah ke jenjang S-2, saya ikut senang. Ini menjadi contoh positif untuk atlet-atlet lainnya bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting," pungkasnya.
(det/faz)











































