Kisah Mahasiswi Pertama di ITB, Kuliah di Teknik Sipil dan Teman Sukarno

Kisah Mahasiswi Pertama di ITB, Kuliah di Teknik Sipil dan Teman Sukarno

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 18 Mar 2026 09:00 WIB
Gedung kampus ITB Ganesa.
Kampus ITB. Foto: Dok ITB
Jakarta -

Pada era kolonial, menempuh pendidikan terlebih bagi perempuan adalah hal yang dipandang tidak biasa. Terlebih apabila hal ini dilakukan di suatu sekolah teknik.

Namun, itulah yang dilakukan oleh Elisabeth Antoinette Odenthal. Ia menjadi satu-satunya perempuan pertama yang tercatat sebagai mahasiswa Technische Hogeschool Bandung (TH Bandung) pada 1920, yang sekarang merupakan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dilihat dalam arsip yang diunggah di media sosial ITB, ia lahir pada 29 April 1902 di Yogyakarta. Siapakah sosok Odenthal ini?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mahasiswi Pertama ITB

Arsip yang cukup komprehensif tentang Elisabeth Antoinette Odenthal ditemukan dalam laman Delft University of Technology. Arsip tersebut merupakan cerita yang dituangkan oleh cucu Odenthal, yakni Annette Lievaart.

Elisabeth Antoinette Odenthal akrab disebut sebagai Lies Odenthal di kalangan teman-temannya. Ia merupakan perempuan dalam angkatan pertama Teknik Sipil Technische Hogeschool Bandung (TH Bandung).

ADVERTISEMENT

Lies Odenthal lahir dan dibesarkan di Hindia Belanda. Para leluhur Lies juga tinggal selama beberapa generasi di Hindia Belanda.

Ia memutuskan untuk belajar teknik sipil di Bandung dengan dorongan dari orang tuanya. Lies pernah bercerita kepada cucunya, sebenarnya lebih suka belajar matematika.

Namun, hal itu tidak bisa dilakukan di Hindia Belanda. Selain itu, ia tidak ingin pergi ke Belanda yang jauh.

Suami Lies, Adolf Petrus Frederik Kist, juga kuliah di angkatan pertama TH Bandung. Akan tetapi, Lies menyelesaikan studinya setahun sebelum Kist dan bekerja sebagai guru sains di sekolah biara di Bandung.

Keduanya menikah di Surakarta pada 22 Mei 1926. Adolf lantas bekerja sebagai insinyur di Dinas Pekerjaan Umum Provinsi di Bandung dan Lies menjadi seorang ibu rumah tangga.

"Dalam cerita keluarga, disebutkan kalau kakek saya harus menghitung suatu proyek baru, ia akan membawanya ke rumah agar bisa dibantu nenek saya," ujar Annette Lievaart melalui laman Delft University of Technology, dikutip Selasa (17/3/2026).

Mengajar Matematika pada Zaman Perang Dunia II

Tepat pada awal Perang Dunia II, Adolf ditahan karena ia merupakan seorang perwira cadangan. Ini membuat Lies harus mengurus tiga anak sendirian.

Lies tinggal di sebuah rumah bersama sepupu kedua dan semua anak-anak. Sepupu tersebut memberikan les menyanyi, yang sebenarnya tidak diperbolehkan. Namun menurut pengakuan Lies, orang Jepang begitu terpesona sehingga mengizinkan sepupu tersebut untuk melanjutkan.

Kemudian karena sudah banyak orang yang keluar masuk rumah, Lies memutuskan untuk memberikan les matematika secara privat. Sekolah dan universitas ditutup dan apa yang dilakukannya dilarang, tetapi murid-muridnya berbaur dengan semua siswa musik.

"Ini membuatnya bisa mendapatkan penghasilan, meskipun ia melakukannya lebih karena prinsip ketimbang uang. Ia juga menolak untuk membungkuk kepada Jepang yang ditemuinya di jalan," kata Annette.

Setelah perang, Lies dan suaminya mencoba untuk membangun kembali kehidupan mereka. Meskipun aksi militer telah dimulai, Adolf menjadi kepala Dinas Pekerjaan Umum distrik Jawa.

Pada 1948 ia juga diangkat sebagai dosen luar biasa dalam bidang konstruksi jalan di ITB. Pada 1949 Adolf dapat mengambil cuti dan melakukan perjalanan ke Belanda.

Sebagai informasi, dikutip dari laman resmi ITB, kampus pencetak insinyur ini sempat menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung setelah Indonesia merdeka. Pada 21 Juni 1946 juga terjadi perubahan nama Universiteit van Indonesie di bawah kontrol NICA dengan Faculteit van Technische Wetenschap dan Faculteit van Exacte Wetenschap yang didirikan kemudian.

Tidak Bisa Kembali ke Indonesia

Pada 26 Juli 1949, mereka (Lies dan Adolf) berlayar dengan kapal Willem Ruys dan sampai di Rotterdam pada 15 Agustus.

"Kakek dan nenekku berencana membantu bibi-bibi menetap dan kemudian kembali ke Hindia Belanda dengan ibuku," terang Annette.

Sayangnya, Lies dan Adolf terpaksa mengubah rencana karena ada peralihan kedaulatan saat mereka berada di Belanda. Kembali ke Indonesia bukan lagi pilihan. Meskipun Adolf bekerja untuk pemerintah Belanda selama bertahun-tahun, ia pun jadi menganggur dan harus mengurus dirinya sendiri.

"Salah satu bibi saya mengatakan ini sebagian karena kakek dan nenek saya mengenal Presiden Sukarno sejak masa kuliah mereka dan Sukarno bahkan sedikit menyukai nenek saya," kata cucu Lies itu.

"Orang-orang dari lingkaran kakek saya secara eksplisit memintanya untuk kembali ke posisi lamanya, yang dalam hal ini keluarga akan diberikan kewarganegaraan Indonesia. Kakek saya menolak tawaran itu," lanjutnya.

Adolf akhirnya mendapatkan pekerjaan di Laboratorium Siklus Air di Delft dan mengajar di Institut Teknologi, dengan spesialisasi bidang teknologi jalan. Pada 1955, ia menerima jabatan mengajar Teknik Sipil di Akademi Militer Kerajaan di Breda. Di sana ia melatih kadet-kadet teknik militer dan mendirikan Laboratorium Teknik Militer.

Teman Kuliah Presiden Sukarno

Adolf bekerja di Breda hingga pensiun. Keinginannya untuk mengajar terus berlanjut.

Selama sisa hidup mereka, Lies dan Adolf membantu anak-anak tetangga mengerjakan pekerjaan rumah sains. Ketika Annette mengikuti ujian kelulusan sekolah pra-universitas, Lies sangat tertarik dengan tugas matematika dan fisika, meskipun kurang tertarik dengan teori probabilitas dan statistik.

Lies masih hidup ketika Annette menjadi mahasiswa Matematika Terapan di Delft dan memiliki pacar.

"Ngomong-ngomong, aku melihat nama nenekku disebutkan dalam biografi tentang Sukarno karya Lambert Giebels (Sukarno: Sebuah Biografi). Nenekku mengatakan bahwa Sukarno menerima perlakuan yang sama sebagai mahasiswa sampai ia memulai kampanye propaganda kemerdekaannya dengan sungguh-sungguh," ungkap Annette.

"Bahwa Sukarno tidak pernah melupakan nenekku dapat dilihat saat ia diperkenalkan kepada sepupu ibuku yang sangat mirip dengan nenekku, dan ia berkata, 'Lies, apakah itu kamu?". Ketika nenekku mendengar ini, ia berkata, 'Apakah orang itu mengira aku akan tetap awet muda selamanya!'," pungkasnya.

Lies meninggal pada 16 Januari 1984 di Roosendaal.




(nah/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads