Ini Orang Indonesia Pertama yang Berkuliah di Harvard, Ternyata Mantan Rektor Unair!

ADVERTISEMENT

Ini Orang Indonesia Pertama yang Berkuliah di Harvard, Ternyata Mantan Rektor Unair!

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Jumat, 06 Mar 2026 20:00 WIB
Rektor ke-5 Universitas Airlangga (Unair), Prof R Kwari Setjadibrata, dr SpA adalah orang Indonesia pertama yang melanjutkan studi di Harvard University.
Foto: Harvard School of Public Health Annual Book, 1954./Rektor ke-5 Unair, Prof R Kwari Setjadibrata, dr SpA (paling kiri) jadi orang Indonesia pertama yang kuliah di Harvard University.
Jakarta -

Rektor ke-5 Universitas Airlangga (Unair), Prof R Kwari Setjadibrata, dr SpA adalah orang Indonesia pertama yang melanjutkan studi di Harvard University. Ia merupakan dokter lulusan tahun 1948 dari kampus yang sekarang Universitas Indonesia (UI).

Pada masa setelah kemerdekaan, dr Kwari dikenal sebagai tokoh yang masyhur di kalangan dokter. Karena saat itu, tokoh-tokoh terkenal lebih banyak dari ahli hukum, pengacara dan insinyur.

Lantas bagaimana perjalanan Rektor Unair tersebut ke Harvard?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ambil Spesialis Ilmu Penyakit Anak

Pada 1954, dr Kwari Setjadibrata mengambil Spesialis Ilmu Penyakit Anak, sekaligus pergi ke Amerika Serikat untuk menempuh studi di Harvard School of Public Health. Pria kelahiran Serang 21 Januari 1920 tersebut, menyelesaikan studinya di Amerika selama 2 tahun yang didukung oleh Foreign Office Affairs dan Eisenhower Fellowship, demikian dilansir laman resmi Unair.

Setelah pulang ke Indonesia tahun 1956, dr Kwari ditetapkan sebagai Asisten Ahli Golongan FII di Fakultas Kedokteran (FK) UI. Empat tahun kemudian, ia diangkat menjadi Kepala Golongan FVI di FK UI. Kemudian pada 1964, dirinya resmi menyandang status Guru Besar di Fakultas Kedokteran (FK) Unair.

ADVERTISEMENT

Setelah pindah tugas di Unair, Prof Kwari bertugas sebagai Pembantu Rektor Khusus Bidang Pembangunan dari 1969-1974.

Ditunjuk Menjadi Anggota MPRS-Rektor Unair

Tak hanya di dunia pendidikan, dr Kwari juga sempat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) di Jakarta pada 1968-1971. Sosoknya terkenal sebagai pribadi yang memiliki semangat tinggi sekaligus pionir penggerak.

Pada akhirnya, ia sampai di puncak karier sebagai rektor Unair dari 1974. Namun, masa jabatannya yang relatif singkat karena Guru Besar Unair tersebut tutup usia pada 1975 karena masalah kesehatan.

Meski demikian, jasanya cukup besar sebagai seorang pemimpin yang memiliki segudang pengalaman dan capaian luar biasa pada masa itu. Sebab, sisa hidupnya ia habiskan dengan berkontribusi dan berdedikasi terhadap ilmu pengetahuan.

Sekolahnya di Harvard Berganti Nama Sejak 2014

Saat ini, sekolah yang pernah jadi tempat menuntut ilmu rektor Unair tersebut, berubah nama menjadi Harvard T.H. Chan School of Public Health. Keputusan ini lahir dari sumbangan terbesar yang pernah diterima Harvard dari Chan dan Yayasan Morningside, sekitar Rp 5,9 triliun.

Nama tersebut adalah penghargaan terhadap keluarga penyumbang dana pada 8 September 2014.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(sls/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads