Indonesia Darurat Sampah, UGM Jawab Lewat Aplikasi Pengelolaan Sampah Berbasis AI

ADVERTISEMENT

Indonesia Darurat Sampah, UGM Jawab Lewat Aplikasi Pengelolaan Sampah Berbasis AI

Devita Savitri - detikEdu
Senin, 16 Mar 2026 15:30 WIB
Ilustrasi - Penanganan sampah di TPST Sandubaya, Bertais, Kota Mataram, NTB, beberapa waktu lalu. (Foto: Nathea Citra/detikBali)
Sampah jadi masalah, Pakar UGM jawab pakai teknologi berbasis AI. (Foto: Nathea Citra/detikBali)
Jakarta -

Indonesia tengah menghadapi krisis serius dalam pengolahan sampah yang semakin menumpuk tiap harinya. Berdasarkan data per Januari 2026, sebanyak 336 kabupaten/kota atau 65,4 persen masuk dalam kategori status darurat sampah.

Ada tiga alasan mengapa sampah menjadi persoalan serius hingga masuk kategori darurat. Pertama, adanya keterbatasan lahan tempat pemrosesan akhir (TPA), kedua soal peningkatan volume sampah yang sangat pesat.

Sedangkan alasan terakhir yang tidak bisa disepelekan adalah minimnya proses pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Melihat Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) UGM, Luluk Lusiantoro mencoba untuk menyelesaikan alasan terakhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini dilakukan bersama tim peneliti FEB UGM, ia memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) untuk proses pengelolaan sampah. Aplikasi ini kemudian dikenal dengan nama Westa.

ADVERTISEMENT

Mengelola Sampah dengan AI Bersama Westa

Luluk menegaskan Westa hadir sebagai solusi untuk pengelolaan sampah. Ia berangkat dari rasa prihatin melihat kondisi pengelolaan sampah di Indonesia yang belum tertata dengan baik.

"Proses identifikasi jenis sampah selama ini masih banyak dilakukan secara manual oleh petugas pengumpul sampah atau pengepul. Padahal, proses tersebut tidak mudah dan tidak banyak orang yang bersedia melakukannya," katanya dikutip dari laman UGM, Senin (16/3/2026).

Westa akan membantu proses identifikasi secara cepat dan praktis. Aplikasi ini nantinya diinstal di ponsel masing-masing pengguna.

Setelahnya, pengguna cukup memotret sampah menggunakan kamera ponsel. Setelah difoto, AI akan mengenali jenis sampah hingga mengestimasi berat sampah tersebut secara otomatis.

Data berat sampah perlu diketahui karena penting untuk menghitung emisi karbon yang dihasilkan oleh limbah tersebut. Selama pengembangan Westa, ia dan tim menggunakan emission factor dari Environmental Protection Agency sebagai acuan perhitungan emisi karbon.

"Dan aplikasi ini juga dirancang untuk dapat mengidentifikasi merek produk yang menghasilkan sampah tersebut," bebernya.

Dengan mengindetifikasi merek, data akan mencatat produk apa saja yang berkontribusi terhadap limbah. Kemampuan ini disebut Luluk juga berkaitan dengan konsep Extended Producer Responsibility (EPR) dalam ekonomi sirkular.

"Bahwa prinsip tersebut menekankan produsen tidak hanya bertanggung jawab pada tahap produksi dan distribusi, tetapi juga terhadap lingkungan setelah produk dikonsumsi," kata Luluk lagi.

Punya Fitur Canggih

Selain fitur sebelumnya, aplikasi Westa ikut dilengkapi dengan fitur geotagging. Fitur canggih ini membuat sistem mampu mencatat lokasi ditemukannya sampah tertentu.

Lewat fitur ini, data yang dihasilkan semakin kaya, dari jenis sampah hingga pola penyebarannya di berbagai wilayah. Data penting ini nantinya bisa digunakan sebagai dasar untuk merumuskan kebijakan oleh pemerintah.

Terutama kebijakan dalam pengelolaan sampah yang lebih efektif. Pemerintah juga bisa mengidentifikasi produk yang menghasilkan limbah besar.

"Sehingga dapat mendorong produsen lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah," katanya.

Saat ini, pengembangan Westa masih difokuskan untuk organisasi atau institusi. Ke depan, Luluk berharap Westa bisa digunakan oleh masyarakat luas.

Cukup dengan ponsel pintar mereka, masyarakat bisa memotret sampah yang dihasilkan. Hasil potretan ini akan membentuk profil pribadi soal jenis sampah harian atau mingguan apa yang paling banyak dihasilkan melalui dashboard aplikasi.

Hasil laporan ini bisa membantu pengguna dalam menghindari praktik overconsumption dan mempertimbangkan untuk mengurangi konsumsi yang tidak perlu. Dengan begitu, jumlah limbah yang dihasilkan dapat ditekan.

Luluk juga berharap Westa bisa berkembang menjadi ekosistem digital yang menyediakan data komprehensif soal profil sampah di Indonesia. Sehingga, proses pengelolaan sampah dari rumah tanggal bisa segera terselesaikan.

"(Westa) menjadi one stop waste circular ecosystem yang menyediakan data mengenai jenis dan jumlah sampah, tingkat daur ulang, dan dampak karbonnya sehingga dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan," tandasnya.



(det/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads