Kemiskinan memaksa sebagian penduduk di dunia menggunakan sampah plastik untuk bahan bakar kegiatan rumah tangga. Hal ini bahkan terbilang jamak terjadi di daerah perkotaan miskin di negara berkembang. Sayangnya, gejala kemiskinan ini turut menimbulkan polusi dan risiko kesehatan yang serius bagi masyarakat.
Fenomena ini diteliti melalui 1.000 responden di 26 negara di Global South. Responden termasuk juga dari para peneliti, aparatur sipil negara, dan pejabat setempat.
Para peneliti menemukan sepertiga responden menyadari adanya rumah tangga yang membakar plastik. Sementara 16% menyatakan mereka telah membakar plastik di rumah tangga mereka sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pembakaran plastik telah diintegrasikan ke dalam praktik energi rumah tangga dalam berbagai cara di banyak komunitas perkotaan," tulis para penulis.
Penulis utama studi dan peneliti di Universitas Calgary, Bishal Bharadwaj mengatakan masalah ini sebagian besar telah diabaikan, karena terjadi di lingkungan yang terpinggirkan dan sebagian besar tersembunyi di dalam kota.
"Praktik ini lebih luas daripada yang kita duga," katanya, dikutip dari ZME Science.
Bharadwaj menerbitkan sebuah makalah pada 2025 yang menguraikan bagaimana praktik ini berkembang di negara-negara selatan. Namun, penelitian yang lebih baru ini menambahkan data yang lebih mendalam.
Penelitian kali ini juga dilakukan di tengah peringatan para ahli, yaitu praktik pembakaran plastik secara terbuka merupakan masalah kesehatan global yang mendesak karena masyarakat semakin banyak menggunakan pembakaran plastik sebagai sumber bahan bakar dan untuk mengatasi krisis pembuangan limbah plastik yang berkembang pesat.
Masalah yang Dipicu Kemiskinan dan Buruknya Sistem Pengelolaan Sampah
Bharadwaj menilai praktik ini pada dasarnya didorong oleh kekurangan, bukan hanya karena masalah pengelolaan sampah, tetapi sekaligus karena kemiskinan energi di daerah perkotaan.
"Kota-kota dianggap sebagai pusat energi bersih, tetapi ada daerah di dalam kota di mana masyarakat membakar plastik sebagai bahan bakar," jelasnya.
Tim peneliti menemukan ada banyak alasan rumah tangga membakar plastik. Pada masa lalu, diasumsikan plastik terutama digunakan sebagai bahan bakar untuk menyalakan api. Hal tersebut benar di beberapa lokasi, tetapi penelitian kali ini menemukan penanganan sampah, bersamaan dengan kebutuhan akan sumber bahan bakar padat, diperkirakan juga menjadi pendorong utama.
Rumah tangga membakar campuran barang-barang yang meliputi kantong plastik, pembungkus, botol, kemasan, dan wadah bahan kimia, menurut Bharadwaj. Studi ini juga menemukan perbedaan regional, yakni Afrika sub-Sahara menunjukkan prevalensi rumah tangga yang membakar plastik lebih tinggi daripada wilayah lain. Di Asia Tenggara, penggunaan plastik sebagai sumber bahan bakar tidak terlalu menonjol, tetapi pembakaran terbuka masih terjadi untuk mengurangi sampah.
Meskipun survei ini memiliki jangkauan global, menurut Lisa Thompson seorang profesor di Universitas California, San Francisco, studi kali ini dinilai menganggap enteng skala masalahnya. Pasalnya beberapa responden survei kemungkinan berada pada jarak yang cukup jauh dari masalah tersebut dan penduduk pedesaan mungkin membakar lebih banyak plastik daripada di daerah perkotaan.
Penelitian dari Guatemala misalnya, menemukan di antara 1.572 rumah tangga pedesaan yang disurvei, sekitar 300 menggunakan plastik sebagai bahan bakar sekunder. Sementara 1.066 rumah tangga melaporkan membakar bahan lain selain kayu, seperti pakaian (yang dapat mengandung plastik), logam, atau sampah lainnya.
Bharadwaj setuju studi mendalam tambahan diperlukan untuk mempelajari lebih lanjut tentang praktik pembakaran plastik dan untuk menyelidiki dampak kesehatan dan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari praktik pembakaran sampah.
"Ini adalah studi yang sangat deskriptif," katanya.
"Kita perlu melakukan studi yang lebih detail [dan] survei tingkat rumah tangga," imbuhnya.
Meskipun survei ini memiliki jangkauan global, studi saat ini mungkin meremehkan skala masalahnya, kata Lisa Thompson, seorang profesor di Universitas California, San Francisco. Itu karena beberapa responden survei mungkin berada di jarak yang cukup jauh dari masalah tersebut dan penduduk pedesaan mungkin membakar lebih banyak plastik daripada di daerah perkotaan, tulisnya dalam sebuah email.
Penelitian dari Guatemala, misalnya, menemukan bahwa di antara 1.572 rumah tangga pedesaan yang disurvei, sekitar 300 menggunakan plastik sebagai bahan bakar sekunder, sementara 1.066 rumah tangga melaporkan membakar bahan lain selain kayu, seperti pakaian (yang dapat mengandung plastik), logam, atau sampah lainnya.
Bharadwaj setuju bahwa studi mendalam tambahan diperlukan untuk mempelajari lebih lanjut tentang praktik pembakaran plastik, dan untuk menyelidiki dampak kesehatan dan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari praktik pembakaran sampah.
"Ini adalah studi yang sangat deskriptif," katanya.
"Kita perlu melakukan studi yang lebih detail [dan] survei tingkat rumah tangga," ujarnya lagi.
Risiko Kesehatan Bakar-bakar Sampah Plastik
Pelepasan senyawa berbahaya ketika plastik dibakar banyak dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan termasuk masalah pernapasan, gangguan reproduksi, kerusakan sistem kekebalan tubuh, dan kanker, meskipun penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan.
Karena rumah tangga membakar plastik bersama dengan biomassa yang mencemari, menentukan dampak kesehatan akut dari pembakaran plastik itu kompleks dan sulit, menurut Thompson. Hal ini semakin rumit karena adanya campuran senyawa dalam berbagai jenis plastik. Misalnya, plasticizer dikaitkan dengan gangguan endokrin, sementara aditif lain diketahui bersifat karsinogenik.
Survei Bharadwaj mengungkapkan PVC sebagai jenis plastik ketiga yang paling umum dibakar, dengan beberapa bahan yang diketahui sebagai pengganggu endokrin dan karsinogenik.
"Efek jangka panjang dari paparan praktik umum pembakaran plastik masih belum terlihat, tetapi itu tidak berarti kita tidak akan melihatnya pada akhirnya," tambah Thompson.
Bharadwaj menyebut tidak ada solusi mudah, tetapi mengatasi ketidaksetaraan di daerah perkotaan sangat penting untuk mengatasi masalah yang muncul ini.
"Ini semua tentang kemiskinan dan ketidaksetaraan yang mendalam di dalam kota," katanya.
"Yang jelas saya lihat adalah kebutuhan akan masyarakat inklusif, termasuk tata kelola kota, lebih banyak infrastruktur di kota, dan kondisi memasak yang lebih bersih," ungkapnya.
Simak Video "Video Ilmuwan Serbia Latih Ulat Hongkong Agar Dapat Makan Plastik"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/pal)











































