Kisah Dosen Unsoed di Polandia: Pernah Puasa 18 Jam, Suhu -20°C

ADVERTISEMENT

Kisah Dosen Unsoed di Polandia: Pernah Puasa 18 Jam, Suhu -20°C

Cicin Yulianti - detikEdu
Jumat, 13 Mar 2026 18:00 WIB
Wilda bersama kawan tanah air lain di Polandia
Wilda bersama kawan tanah air lain di Polandia. Foto: Unsoed
Jakarta -

Apakah detikers pernah membayangkan menjalani puasa di tengah suhu -20°C? Kondisi tersebut pernah menjadi tantangan bagi Wilda Khafida.

Mahasiswa yang kini tengah menjalani pendidikan doktor di Institute of Biology and Earth Sciences UKEN, Polandia inimenuturkan, ia sempat harus bertahan dan puasa di musim dingin.

Dosen Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) tersebut juga menemukan sederet tantangan lain menjalani puasa di daerah dengan Muslim yang minoritas. Simak kisah Wilda ini!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jalani Puasa Selama 18 Jam

Tahun ini bukan kali pertamanya puasa di Polandia. Pada 2018, ia juga menempuh pendidikan S2 di negeri yang sama. Meski demikian, sebagai orang Indonesia, ia mengaku tetap tak mudah menjalankan puasa di sana.

ADVERTISEMENT

Perbedaan geografis dengan Indonesia menjadikan waktu berpuasa di Polandia bisa sampai 18 jam. Tantangan itu membuat Wilda harus memiliki daya tahan tubuh yang prima.

"Saya pernah merasakan puasa selama 18 jam, waktu Maghrib di jam 9 malam, Isya di jam 11 malam sedang adzan subuh di jam 2 pagi," katanya dilansir dari laman Unsoed, Jumat (13/3/2026).

Untuk menghindari lelah dan kekurangan asupan, Wilda menyiasatinya dengan memilih makanan yang tinggi protein dan lemak. Beruntungnya, ia juga mudah menemukan halal food di sana.

"Halal food, banyak tersedia di kota Warsawa, Krakow dan Gdansk, di sana terdapat daging bersertifikat halal, di Polandia juga banyak terdapat restoran vegan, restoran Turki, Arab dan Timur Tengah yang dapat dijadikan alternatif pilihan," katanya.

Harus Selalu Menjaga Wudhu

Tantangan lain juga ia rasakan untuk beribadah sambil beraktivitas di luar tempat tinggal. Wilda harus menjaga wudhu seharian karena kurangnya fasilitas ibadah di sana.

"Hal yang saya syukuri selama di Polandia adalah saya terbiasa menjaga wudhu, karena fasilitas Ibadah tidak selalu tersedia, saya harus memanfaatkan tempat yang ada. Saya pernah sholat di perpustakaan, di hutan, di halaman bahkan di pinggir danau," ungkap Wilda.

Tetap Ada Takjil

Walaupun negara minoritas muslim, Polandia memiliki cukup banyak fasilitas ibadah. Salah satunya yakni Islamic Center yang ada di kota besar.

Tempat ibadah tersebut mendukung pelaksanaan salat tarawih. Termasuk juga pembagian takjil, Wilda dapat menemukannya di fasilitas tersebut.

Komunitas Muslim di Polandia

Mengenang masa-masa menjalani S2 dahulu, Wilda menuturkan, ia juga berkenalan dengan rekan-rekan sesama muslim di Polandia. Kala itu, ia bergabung dengan komunitas Muslim Girl.

Belum seperti sekarang, komunitas tersebut mulanya hanya beranggotakan 50 orang. Dari tahun ke tahun, Wilda melihat ada kemajuan komunitas muslim di sana.

Hingga Desember 2025, jumlah anggota Muslim Girl sudah naik drastis menjadi 400 orang. Lewat komunitas tersebut Wilda masih bisa tetap berdiri kokoh dengan prinsip keislamannya.

Wilda juga melihat tak sedikit warga Polandia yang penasaran dengan Islam. Wilda kerap menerima pertanyaan "Mengapa harus berjilbab?", "Apa itu sholat?", "Mengapa harus puasa?", dan masih banyak lagi.




(cyu/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads