Cerita Mahasiswa Asal Malang Jalani Ramadan di Portugal, Puasa Hanya 12 Jam

ADVERTISEMENT

Cerita Mahasiswa Asal Malang Jalani Ramadan di Portugal, Puasa Hanya 12 Jam

Cicin Yulianti - detikEdu
Kamis, 12 Mar 2026 03:00 WIB
Zair saat menjalani program pertukaran pelajar di Portugal
Zair saat menjalani program pertukaran pelajar di Portugal. Foto: UMM
Jakarta -

Suasana Ramadan di Indonesia biasanya terasa hangat karena berbagai tradisinya. Mulai dari buka puasa bersama, ngabuburit, hingga berkumpul bersama keluarga di rumah.

Meski demikian, suasana tersebut saat ini tidak bisa dirasakan oleh Muhammad Zair Baitil Atiq. Ia adalah mahasiswa asal Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sedang menjalani program pertukaran pelajar di Universidade do Minho, Erasmus, Braga, Portugal.

Tantangan berpuasa di negara dengan minoritas Muslim ini cukup banyak. Mulai dari jauh dari keluarga hingga perbedaan suasa yang ada di sana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suasana Puasa Tak Seramai di Indonesia

Mahasiswa prodi Hubungan Internasional angkatan 2022 tersebut mengakui suasana Ramadan di sana tidak seramai di Indonesia. Walau demikian, atmosfer Ramadan di Portugal terasa lebih damai dibandingkan Indonesia.

ADVERTISEMENT

"Di Indonesia orang-orang sangat excited menyambut Ramadan. Kalau di sini rasanya seperti kita saja yang merayakan," katanya dikutip dari laman UMM, Rabu (11/3/2026).

Baginya, tahun ini menjadi tahun pertama Ramadan sekaligus merayakan Idul Fitri sendirian di luar negeri. Walau berat, tetapi Zair harus menjalaninya agar program pertukaran pelajarnya berjalan lancar.

Hanya Puasa 12 Jam

Dibandingkan dengan Indonesia, durasi berpuasa di Portugal ternyata lebih singkat. Hanya sekitar 12 jam dalam sehari, sedangkan Indonesia mencapai 13-14 jam.

Tantangan lain yang Zair rasakan saat berpuasa di sana adalah kurangnya informasi mengenai jadwal buka maupun imsak. Tidak seperti di Indonesia, banyak media yang mempublikasikan informasi jadwal sahur, imsak, buka hingga sholat.

Namun, Zair masih beruntung. Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Portugal ternyata menyediakan jadwal ibadan Ramadan secara daring. Ia menggunakan informasi dari sana sebagai patokan.

Retoran Turki Jadi Tempat Buka Favorit

Perbedaan lainnya yang Zair temui adalah kurangnya tempat makan atau restoran yang menyediakan menu halal. Sehingga Zair harus belajar memasak sendiri.

Untungnya ia membawa beberapa bumbu masak dari Indonesia. Zair masih bisa merasakan beberapa makanan Indonesia meskipun terbatas pada menu itu-itu saja.

Saat ia jenuh memasak, Zair terkadang keluar makan di restoran halal. Sebuah restoran Turki jadi tempat favoritnya dalam membeli makanan.

Di sana, ia sering membeli kebab dan makanan khas Turki lain. Selama Ramadan, restoran tersebut juga menyediakan takjil gratis bagi Muslim.

Menimba Toleransi di Negara Orang

Pengalaman selama Ramadan ini bukan sekadar cerita soal bagaimana ia menjalani puasa di negeri orang. Zair merasa mendapatkan pelajaran penting soal toleransi.

Selain melihat banyak perbedaa, Zair merasakan makna toleransi yang tinggi. Walau banyak non-Muslim tetapi teman-teman Zair sangat menghargai.

"Teman-teman di kelas sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa, bahkan mereka juga tahu saya tidak bisa makan babi atau minum alkohol. Jadi kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai," jelasnya.

Ia berpesan kepada mahasiswa lain yang tengah mejalani ibadan puasa di negara lain untuk tetap bersemangat. Ia yakin, perbedaan agama dan budaya tidak akan menjadi halangan dalam menjalankan ibadah.

"Ini pengalaman yang sangat berharga. Kita belajar hidup mandiri, menghargai perbedaan, sekaligus tetap menjaga identitas dan ibadah sebagai seorang Muslim," tutupnya.



(cyu/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads