Felix Degei adalah putra Papua yang berhasil meraih beasiswa LPDP ke University of Adelaide, Australia. Setelah menempuh studi, Felix menolak tawaran bergengsi dan memilih mengabdi sebagai guru honorer.
Pilihan karier Felix tak jauh dari pengalaman masa kecilnya. Diketahui, Felix muda harus menempuh 26 kilometer untuk sampai ke sekolah.
"Pulang pergi itu pagi berangkat subuh sudah mulai jalan (kaki). Lalu habis sekolah pulang lagi. Begitu terus selama dua tahun" tutur Felix dalam laman LPDP dikutip Minggu (8/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi kampung kelahirannya di Putaapa bahkan belum sepenuhnya terhubung listrik dan internet. Dalam situasi seperti itu, banyak anak menghadapi ancaman putus sekolah.
Mengejar Cita-cita ke Australia
Felix kecil senang menenteng radio Tiens milik ayahnya. Saat itu, radio menangkap siaran jauh dari Melbourne. Setiap kali penyiar menyebut, "Radio Australia dari Melbourne," Felix menyimpan kalimat itu dalam-dalam. Suatu hari, katanya pada diri sendiri, ia akan sampai ke sana.
Felix melanjutkan studi S1 Bimbingan dan Konseling di Universitas Cenderawasih dan lulus pada 2012. Sembari bekerja sebagai asisten dosen, Felix mengikuti kursus bahasa Inggris di Indonesia Australia Language Foundation (IALF) Denpasar, Bali. Di sana ia mulai mengenal berbagai beasiswa internasional seperti Australia Awards, Fulbright, Chevening, dan ada LPDP.
Felix sempat mengikuti seleksi Australia Awards tapi gagal. Kemudian ia mendaftarkan diri dalam English Language Training Assistance (ELTA) yang didanai Kedutaan Australia. Di tengah ketidakpastian itu, Felix melamar LPDP.
"Jadi sejak saat itu yang sebelumnya hanya menaruh hati ke Australia Award Scholarship (AAS) itu, saya berpikir LPDP juga bagus ini." ucapnya.
Tak disangka, rezeki Felix berada di Beasiswa LPDP. Akhirnya Felix bisa sampai ke Australia untuk menekuni studi Master of Education di The University of Adelaide.
Pulang ke Tanah Papua
Peluang terbuka lebar setelah Felix merampungkan studi di Negeri Kangguru. Felix sempat diminta membantu staf atau tenaga ahli dari seorang anggota DPD RI di Jakarta. Namun pria sederhana ini memilih pulang dan mengabdikan diri menjadi guru honorer di sebuah SMA di Nabire.
Sejak 2019, rutinitas Felix selalu padat. Pagi hari ia mengajar di SMA Negeri 1 Plus KPG (Kolese Pendidikan Guru) Nabire sebagai guru honorer. Siang hingga sore ia mengajar di Unit Pelaksana Program PGSD milik Universitas Cenderawasih di Nabire. Ia juga mengajar di Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) dan menjadi tutor Bahasa Inggris di sekolah persiapan Imam Katolik.
Anak-anak SMA yang diajar Felix mayoritas berasal dari wilayah pedalaman. Ia banyak menjumpai anak-anak SMA belum bisa baca tulis dan perkalian.
"Jadi perkalian 1 sampai 10 itu kita harus tunggu sampai menit, sampai lama keringatan mereka melafalkan membaca dengan lancar. Berbicara dengan baik itu jauh dari yang seharusnya di tingkat SMA." tuturnya.
Menolak tawaran besar untuk kembali mengabdi ke tanah kelahirannya tentu bukan hal mudah. Tapi keputusan itu datang dari kepedulian Felix akan siswa-siswa di Papua.
"Kalau saya menghilang, itu tidak baik," katanya.
(nir/nwk)











































