Populasi Harimau Sumatera Tertekan, Pakar IPB Beberkan Dampaknya Jika Punah

ADVERTISEMENT

Populasi Harimau Sumatera Tertekan, Pakar IPB Beberkan Dampaknya Jika Punah

Devita Savitri - detikEdu
Sabtu, 07 Mar 2026 10:00 WIB
Seekor harimau Sumatera (panthera Tigris Sumatrae) terkena jerat di ladang masyarakat di Nagari Palupuah, Agam, Sumatera Barat, Sabtu (22/11/2025). Tim BKSDA Sumatera Barat mengupayakan penyelamatan harimau Sumatera yang terkena jerat babi yang dipas
Harimau Sumatera. Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Jakarta -

Pakar sekaligus Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University soroti jumlah populasi harimau Sumatera yang semakin sedikit. Ia menyebut, kini populasi hewan tersebut semakin tertekan.

Sebagai informasi, harimau Sumatera merupakan satu-satunya subspesies harimau yang masih ada di Indonesia. Seiring dengan berkembangnya zaman, habitat hewan ini semakin menyempit.

Penyempitan hutan juga diiringi dengan berkurangnya populasi hewan mangsa, yakni rusa. Akibatnya, populasi predator puncak ini terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jumlahnya malahan bukan nambah, bukan tetap, malah menurun. Harimau itu predator, cari makan susah. Hutannya juga sudah semakin sedikit," tutur Ani dikutip dari laman IPB University, Jumat (6/3/2026).

ADVERTISEMENT

Predator Puncak yang Terancam

Sebagai apex predator atau predator puncak, harimau Sumatera punya peran penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan. Ia juga bertugas dalam menjaga stabilitas keanekaragaman hayati di hutan.

Berkurangnya mangsa alami, membuat harimau Sumatera mendekati permukiman warga. Akibatnya mereka kerap turun ke wilayah pemukiman yang berujung timbulnya konflik baru.

Ani meyakini, masyarakat pada dasarnya tidak anti akan harimau. Manusia hanya mempertahankan harta benda mereka, dalam hal ini hewan ternak yang dimangsa harimau Sumatera.

"Mereka hanya takut karena ternaknya diambil. Di sinilah dilema terjadi antara keselamatan manusia dan pelestarian satwa," imbuhnya.

Lebih lanjut, pakar konservasi satwa liar itu menyoroti alih guna lahan hutan untuk kepentingan manusia. Akibatnya, ruang hidup harimau semakin sempit.

"Sumatera yang dahulu didominasi hutan, kini mengalami perubahan lanskap besar, sehingga satwa liar kehilangan tempat tinggal sekaligus sumber makanan," jelasnya.

Seluruh kondisi ini berujung dengan penangkapan pada harimau Sumatera setelah konflik terjadi. Hal ini juga menjadi faktor yang mendukung penurunan populasi harimau Sumatera di alam liar.

Keseimbangan Alam Akan Terganggu

Ketika harimau Sumatera punah, Indonesia dan dunia tidak hanya kehilangan satu spesies. Hilangnya predator puncak akan berdampak pada ekosistem secara keseluruhan.

Predator puncak berperan dalam pengendalian populasi satwa herbivora agar tidak merusak vegetasi hutan. Ketika hewan herbivora lebih banyak, tentu jumlahnya tidak seimbang.

"Ada semakin banyak satwa liar, kondisi bumi semakin seimbang. Kalau keseimbangan ini terganggu, dampaknya sering baru terasa puluhan tahun kemudian," urai Ani.

Sebuah studi di Amerika menyatakan hilangnya predator dapat menyebabkan perubahan besar pada ekosistem hutan. Tanpa predator, populasi mangsa meningkat tak terkendali dan mampu merusak proses regenerasi tumbuhan.

Untuk itu, Ani mengingatkan pentingnya menjaga habitat harimau Sumatera sebelum terlambat. Ia juga mengimbau dengan tegas agar masyarakat tidak memperdagangkan tubuh satwa liar.

Bagi, pemangku kebijakan, Ani berpesan akan pentingnya meningkatkan kesadaran publik melalui edukasi dan kampanye konservasi. Dengan begitu, populasi harimau Sumatera bisa diselamatkan.

"Sebelum terlambat, cobalah kita selamatkan. Konservasi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua," tandasnya.




(det/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads