27 Harimau Sumatera di Leuser Aceh Tertangkap Kamera!

27 Harimau Sumatera di Leuser Aceh Tertangkap Kamera!

Novia Aisyah - detikEdu
Minggu, 07 Des 2025 19:00 WIB
27 Harimau Sumatera di Leuser Aceh Tertangkap Kamera!
Kamera jebak peneliti tangkap 282 gambar yang jelas dari 27 individual harimau Sumatera di ekosistem Leuser. Foto: Figel, Akbar, Khairi dkk via jurnal Frontiers Conservation Science
Jakarta -

Habitat harimau di seluruh dunia menipis drastis karena habitat yang rusak, perburuan liar, dan berkurangnya mangsa. Saat ini, harimau hanya menempati 5-10% dari habitat historisnya.

Namun dalam sebuah studi terbaru terkait harimau Sumatera, teridentifikasi adanya jumlah populasi yang baik di pulau tersebut.

Penelitian ini diterbitkan pada 4 Desember 2025 dalam jurnal Frontiers Conservation Science Volume 6 dengan judul "Sumatran tiger density estimates in the Leuser Ecosystem, Sumatra, Indonesia" dan ditulis oleh Joe J Figel, M Ibnu Akbar, Kamal Khairi, dkk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan menggunakan kamera inframerah, para peneliti memperkirakan kepadatan populasi berdasarkan jenis kelamin dan pergerakan harimau. Observasi dilakukan dengan tiga survei.

"Kami mendokumentasikan jumlah populasi harimau yang kuat, tampaknya termasuk yang paling sehat di pulau ini," kata Dr Joe Figel.

ADVERTISEMENT

"Bagi mereka yang berada di lapangan, tanggung jawab sekarang jatuh pada kita untuk menggandakan upaya dan melindungi mereka secara memadai," ujarnya, dikutip dari Phys.org.

Tertangkap 282 Gambar Harimau Sumatera

Dalam banyak hal, ekosistem Leuser merupakan habitat ideal bagi harimau Sumatera. Tiga kali lebih luas dari Taman Nasional Yellowstone, ekosistem ini merupakan habitat harimau bersebelahan terbesar, yang tersisa di Sumatera. Di sana terdiri dari hutan dataran rendah, perbukitan, dan pegunungan, yang 44% di antaranya tergolong lanskap hutan utuh.

"Patroli di sini juga lebih menyeluruh daripada hampir semua tempat lain di pulau ini," kata Figel.

Bekerja sama dengan kolaborator lokal dari komunitas di pinggiran wilayah studi, tim memasang kamera di bentangan utara Leuser yang terletak di Provinsi Aceh. Peneliti menyimpan kamera-kamera tersebut di sana selama tiga periode pemantauan yaitu 34 kamera dipasang selama Maret hingga Mei 2023, 59 kamera antara Juni dan Desember 2023, dan 74 kamera antara Mei dan November 2024.

Figel menjelaskan, pemantauan menggunakan kamera jebak sangatlah penting untuk memperkirakan kunci parameter demografis harimau. Dengan data tersebut, para ahli juga bisa mengevaluasi upaya konservasi.

Selama periode pemantauan, tim menangkap 282 gambar harimau Sumatera yang cukup jelas untuk memungkinkan identifikasi individu. Dengan menganalisis pola belang, tim mengidentifikasi 27 individu dari citra kamera jebak, termasuk 14 betina, 12 jantan, dan satu harimau dengan jenis kelamin yang tidak diketahui.

Jumlah harimau yang relatif tinggi menunjukkan adanya mangsa yang cukup di area tersebut untuk mendukung keberadaan harimau. Selama periode penelitian, individu betina dan jantan difoto rata-rata 14 dan 16 kali.

Kepadatan harimau betina yang tinggi menunjukkan sistem sosial harimau yang sehat dan habitat berkualitas tinggi, tempat mereka dapat membesarkan sekitar tiga anak harimau selama satu dekade.

Selama enam bulan pada 2023, tiga kelompok anak harimau yang berbeda didokumentasikan. Dua harimau bersaudara yang difoto bersama saat masih anak-anak kemudian terlihat terpisah saat dewasa.

Berbagai Unsur Mendukung Keberadaan Harimau Sumatera

Kamera jebak yang dipasang oleh Figel dan rekan-rekannya menangkap gambar harimau hampir tiga kali lebih banyak dibandingkan survei 90 hari sebelumnya di lokasi lain di Sumatera. Tim tersebut juga mampu mengidentifikasi lebih banyak individu daripada yang dilaporkan dalam studi sebelumnya.

Hanya tiga survei sebelumnya, yang semuanya dilakukan di taman nasional yang dilindungi, yang mendokumentasikan lebih dari 10 harimau dalam satu survei. Estimasi kepadatan populasi harimau yang lebih tinggi daripada yang dilaporkan dalam studi ini, hanya didokumentasikan di zona perlindungan intensif di Sumatera bagian selatan.

Studi ini juga memberikan wawasan berharga untuk pemantauan harimau di masa mendatang, kata tim tersebut. Data tentang pergerakan harimau yang dikumpulkan, misalnya, dapat menginformasikan protokol survei dan jarak kamera yang optimal.

Tingginya jumlah penampakan harimau yang dilaporkan di sini menyoroti kisah sukses yang disebabkan oleh banyak faktor, kata tim tersebut.

"Berkat kerja keras, aktivitas, dan dukungan dari instansi pemerintah, masyarakat Aceh dan Gayo setempat, para donatur, dan peneliti lainnya, Leuser telah melestarikan petak-petak penting hutan dataran rendah dan perbukitan di mana, di Sumatera, kepadatan mangsa harimau mencapai tingkat tertinggi," simpul Figel.

"Keberlangsungan habitat dan populasi mangsa merupakan alasan utama temuan kami," ujarnya.




(nah/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads