Mahasiswa Ini Bikin Mini 'Alam Semesta' di Lab, Ungkap Cikal Bakal Sebelum Ada Bumi

ADVERTISEMENT

Mahasiswa Ini Bikin Mini 'Alam Semesta' di Lab, Ungkap Cikal Bakal Sebelum Ada Bumi

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Jumat, 13 Feb 2026 20:00 WIB
Kandidat PhD Linda Losurdo (kiri) menghasilkan debu kosmik di laboratoriumnya yang bisa memberikan wawasan tentang unsur kimia sebelum Bumi Ada
Foto: Fiona Wolf/Universitas Sydney/Kandidat PhD Linda Losurdo (kiri) menghasilkan 'debu kosmik' di laboratoriumnya yang bisa memberikan wawasan tentang unsur kimia sebelum Bumi Ada
Jakarta -

Wawasan mengenai bagaimana kehidupan sebelum Bumi terbentuk terus ditelusuri oleh para ilmuwan. Baru-baru ini, seorang mahasiswa doktoral di Sydney berhasil mengungkap 'debu kosmik' yang mengandung zat organik penting untuk kehidupan.

Mahasiswa tersebut yaitu Linda Losurdo, seorang kandidat PhD di bidang fisika material dan plasma di Sekolah Fisika The University of Sydney. Ia membuat miniatur 'alam semesta' dalam botol di laboratoriumnya.

Ia melakukannya dengan menggunakan campuran gas sederhana mencakup nitrogen, karbon dioksida, dan asetilena. Campuran itu untuk meniru lingkungan yang keras dan dinamis di sekitar bintang dan sisa-sisa supernova.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil temuan 'debu kosmik' tersebut kemudian dipublikasikan di The Astrophysical Journal of the American Astronomical Society pada tanggal 30 Januari 2026.

Apa Itu Debu Kosmik?

Sekitar 3,5 hingga 4,56 miliar tahun yang lalu, Bumi dibombardir oleh meteorit, mikrometeorit, dan partikel debu antarplanet yang berasal dari asteroid dan komet. Benda-benda ini diperkirakan telah membawa sejumlah besar material organik ke permukaan planet, tapi asal-usul material tersebut masih misterius.

ADVERTISEMENT

"Karbon dan hidrogen yang terikat secara kovalen dalam material komet dan asteroid diyakini terbentuk di selubung luar bintang, dalam peristiwa berenergi tinggi seperti supernova, dan di lingkungan antarbintang," kata Losurdo.

"Yang ingin kita pahami adalah jalur dan kondisi kimia spesifik yang menggabungkan semua unsur CHON ke dalam struktur organik kompleks yang kita lihat di debu kosmik dan meteorit," imbuhnya.

Debu kosmik diketahui terbentuk di lingkungan astrofisika ekstrem, di mana molekul terus-menerus dibombardir oleh ion dan elektron. Para ilmuwan dapat mengidentifikasi debu ini di luar angkasa karena memancarkan sinyal inframerah yang khas - sidik jari molekuler yang mengungkapkan struktur kimianya.

Penemuan 'Debu Kosmik' di Laboratorium

Dalam penelitiannya, Losurdo memberikan energi listrik yang sangat besar pada campuran gas-gas yakni dikenai potensial listrik sekitar 10.000 volt selama sekitar satu jam. Proses itu menciptakan jenis plasma yang dikenal sebagai lucutan pijar.

Di bawah energi yang sangat besar ini, molekul-molekul terurai dan bergabung kembali menjadi struktur baru yang lebih kompleks. Senyawa-senyawa ini akhirnya mengendap sebagai lapisan tipis debu pada chip silikon yang ditempatkan di dalam tabung.

Itulah yang kemudian disebut "debu kosmik" yang kaya karbon, mirip dengan material yang ditemukan melayang di antara bintang-bintang dan tertanam dalam komet, asteroid, dan meteorit.

Debu yang ia hasilkan mengandung campuran kompleks karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen - yang secara kolektif dikenal sebagai molekul CHON, yang merupakan inti dari banyak zat organik yang penting untuk kehidupan.

"Kita tidak perlu lagi menunggu asteroid atau komet datang ke Bumi untuk memahami sejarahnya. Anda dapat membangun lingkungan analog di laboratorium dan merekayasa balik strukturnya menggunakan sidik jari inframerah," papar Losurdo.

Penemuannya bisa memberikan wawasan besar tentang bagaimana 'debu kosmik berkarbon' dapat terbentuk. Menurutnya, eksperimen 'alam semesta' di lab, menunjukkan tanda-tanda inframerah yang sama, sangat mirip dengan apa yang terjadi di luar angkasa.

Dengan mereplikasi kimia kosmik di Bumi, penelitian ini membuka jendela baru ke dalam proses bintang yang mendalam dan langkah-langkah kuno yang mungkin telah membantu mewujudkan kehidupan di Bumi.

Berkat penelitiannya, Losurdo berhasil memenangkan penghargaan presentasi terbaik untuk penelitian ini pada Pertemuan Tahunan Internasional dari Meteoritical Society akhir tahun lalu.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(sls/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads