500 Lamaran Sempat Ditolak, Lulusan Cumlaude Ini Diterima Magang Bergaji Rp 151 Juta

ADVERTISEMENT

500 Lamaran Sempat Ditolak, Lulusan Cumlaude Ini Diterima Magang Bergaji Rp 151 Juta

fahri zulfikar - detikEdu
Rabu, 11 Feb 2026 08:30 WIB
Nguyen Vo Thuan, yang memiliki nilai memuaskan di Universitas Massachusetts Amherst di Amerika Serikat tapi gagal berkali-kali usai mengirim lamaran kerja.
Foto: Nguyen Vo Thuan via VN Express/Nguyen Vo Thuan, yang memiliki nilai memuaskan di Universitas Massachusetts Amherst di Amerika Serikat tapi gagal berkali-kali usai mengirim lamaran kerja.
Jakarta -

Mahasiswa dengan predikat cumlaude (memuaskan) ternyata tidak berarti mudah mendapatkan pekerjaan atau magang. Hal ini dirasakan oleh Nguyen Vo Thuan, yang memiliki nilai memuaskan di Universitas Massachusetts Amherst di Amerika Serikat tapi gagal berkali-kali usai mengirim lamaran kerja.

Tak tanggung-tanggung, sebanyak 500 lamaran kerja magang pernah ia tebar di perusahaan AS dari tahun awal kuliah dan berakhir gagal. Menyadari kekurangannya dalam melamar kerja, ia akhirnya memutuskan kembali ke kampung halamannya di Vietnam selama libur semester, untuk membangun pengalamannya dengan magang di perusahaan lokal.

Namun setelah kembali ke AS dan melamar magang lagi, hasilnya masih sama. Ia pun kembali ke Vietnam untuk magang selama libur dan menginvestasikan waktunya untuk meningkatkan keterampilan di bidang ilmu komputer, jurusan yang ia tekuni di kampus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diterima Perusahaan Top AS dan Bergaji Rp 151 Juta per Bulan

Pada masa magang di Vietnam, Thuan mendapatkan upah USD 150 per bulan atau sekitar Rp 2,5 juta. Selama tiga bulan magang, ia mempelajari bahasa kueri GraphQL dan kerangka kerja Bootstrap Next.js.

Meski akhirnya memiliki pengalaman magang dan meningkatkan keterampilan, ratusan lamaran kerjanya tetap tertolak di AS. Sampai akhirnya setelah mencapai 500 lamaran, ada 10 panggilan wawancara untuk magang, termasuk perusahaan top AS yaitu Amazon.

ADVERTISEMENT

Akhirnya, dia berhasil melewati tahap seleksi dengan persiapan yang matang. Bahkan, ia berhasil menjawab pihak Amazon yang bertanya tentang algoritma dan struktur data dalam pemrograman.

"Kegagalan adalah hal yang pasti dalam proses pencarian kerja; yang penting adalah berpikir positif dan percaya pada diri sendiri," ujar Thuan, dikutip dari VN Express.

Berawal dari gaji magang USD 150, ia kemudian berhasil mendapatkan upah USD 9.000 per bulan atau sekitar Rp 151 juta sebagai peserta magang di Amazon.

Di Amazon, Thuan bekerja selama setahun dan bertugas membangun perangkat lunak bagi para insinyur untuk mengelola server.

Usai Bekerja di Amazon, Diterima Perusahaan Top Lainnya

Selain magang di Amazon, Thuan juga sempat diterima magang pada tahun-tahun akhir kuliahnya di Tesla dan Apple secara berurutan. Ia menghabiskan sekitar tiga bulan di masing-masing tempat.

Usai magang dan kuliahnya selesai, ia akhirnya ditawari bekerja di Scale AI dengan gaji USD 345 ribu per tahun atau sekitar Rp 5,7 miliar. Namun, ia menolak dan lebih memilih perusahaan lain yakni Uber, karena lebih menyukai bidang sistem terdistribusi.

Di Uber, Thuan bertugas memastikan sistem yang membantu para insinyur memeriksa dan menyetujui kode sumber beroperasi dengan cepat, akurat, dan stabil.

Dengan pengalamannya, ia mengaku bahwa magang selama masa-masa kuliah penting untuk meningkatkan keterampilan. Selain itu, juga bisa membangun relasi yang nantinya bisa diminta referensi untuk melamar kerja.

"Jangan berkecil hati jika kamu mengirimkan ratusan lamaran tetapi ditolak. Jika kamu benar-benar memiliki kemampuan, kesempatan itu akan datang; tetap tenang dan luangkan waktu untuk meningkatkan diri," tuturnya.



(faz/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads