DO dari Stanford, Perempuan Muda Ini Pilih Dirikan Perusahaan Bidang AI

DO dari Stanford, Perempuan Muda Ini Pilih Dirikan Perusahaan Bidang AI

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Sabtu, 07 Feb 2026 09:00 WIB
DO dari Stanford, Perempuan Muda Ini Pilih Dirikan Perusahaan Bidang AI
Foto: MIT/Carina Hong, ahli matematika lulusan MIT dan Oxford, memilih keluar dari program S3 Stanford untuk dirikan perusahaan
Jakarta -

Lulus sampai S3 dari kampus top dunia tampaknya bukan impian semua orang. Seorang matematikawan muda berusia 24 tahun, Carina Hong, justru memilih keluar dari program PhD Matematika di Universitas Stanford, salah satu kampus paling bergengsi di dunia.

Tak main-main, Stanford merupakan kampus terbaik nomor 3 di dunia, menurut QS World University Rankings 2026. Namun alih-alih melanjutkan jalur akademik, Hong memilih mendirikan Axiom Math, sebuah startup yang mengembangkan kecerdasan buatan dengan kemampuan penalaran matematika tingkat lanjut.

Dengan kemampuannya, ia sanggup membangun tim kerja berkelas di perusahaannya. Termasuk merekrut mantan profesor yang pernah membimbingnya serta para ahli dari perusahaan teknologi besar seperti Meta dan Google Brain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikenal sebagai Anak Ajaib Ahli Matematika

Mengutip Vietnam.Vn, Hong dikenal sebagai anak ajaib matematika karena prestasinya di level internasional. Semasa di Guangzhou, Tiongkok, Hong pernah menerima pelatihan formal di tim matematika Olimpiade provinsi dan berpartisipasi dalam berbagai program matematika internasional seperti Program Ross dan Stanford Math Camp, demikian menurut American Mathematical Society (AMS).

Kuliah jenjang sarjananya, bahkan ditempuh di kampus top nomor 1 dunia yakni Massachusetts Institute of Technology (MIT). Di MIT, ia meraih gelar ganda Matematika dan Fisika hanya dalam tiga tahun.

ADVERTISEMENT

Usai lulus, ia melanjutkan studi Master Neurosains di Universitas Oxford. Hong meneliti kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin di Gatsby Unit, dan dianugerahi Beasiswa Rhodes.

Kejeniusannya pun dibuktikan dengan penghargaan sebagai peneliti, seperti Morgan Prize 2023, Alice T. Schafer Prize 2022, dan Maryam Mirzakhani Fellowship. Ia juga telah menulis banyak makalah yang diterbitkan di jurnal bereputasi dan dipresentasikan di konferensi internasional.

Matematika dan AI

Secara garis besar, perusahaannya bertujuan membangun sistem kecerdasan buatan yang mampu memecahkan masalah-masalah matematika sulit, terutama yang telah lama membingungkan para ilmuwan. Hong sangat antusias dengan upaya interdisipliner yang menggabungkan matematika dan pembelajaran mendalam.

"Saya selalu menjadi peneliti sejati. Saya ingin memecahkan masalah teknis yang benar-benar sulit," katanya, dikutip dari laman MIT Alumni.

"Ada hambatan teknis menarik yang ingin saya bantu selesaikan. Bagaimana masa depan interaksi AI dan matematikawan? Dan bagaimana ilmuwan terapan akan berinteraksi dengan matematikawan AI? Ini adalah teka-teki yang ingin saya kerjakan selanjutnya," tambahnya.

Dengan perusahaan yang dibangun, Hong percaya penalaran matematis tak hanya berhenti dalam ranah akademis. Menurutnya, penalaran matematis bisa diperluas ke banyak bidang lain seperti verifikasi perangkat lunak dan perangkat keras hingga kriptografi.

Meski saat ini perusahaannya hanya memiliki tim kecil, tapi Axiom telah menunjukkan kemampuannya untuk menarik talenta dan memunculkan pertanyaan tentang masa depan kecerdasan buatan ketika dipimpin oleh pemikiran matematis yang canggih.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(crt/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads