Nama Thomas Djiwandono tengah menjadi sorotan publik. Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baru saja menyetujuinya sebagai Deputi Bank Indonesia (BI) baru.
Thomas menggantikan pimpinan sebelumnya yakni Juda Agung karena mengundurkan diri. Ketua Komisi XI DPR Misbakhun menyebut pemilihan Thomas diputuskan setelah uji kelayakan.
"Telah dilakukan kesepakatan melalui proses musyawarah mufakat dan kemudian dimasukkan ke rapat internal di Komisi XI bahwa diputuskan yang menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia pengganti Bapak Juda Agung yang mengundurkan diri adalah Bapak Thomas Djiwandono," kata Misbakhun, dikutip dari detikNews, Selasa (27/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain dikenal sebagai keponakan Presiden Prabowo Subianto, siapakah sosok Thomas Djiwandono ini? Bagaimana jejak pendidikan hingga kiprahnya?
Latar Belakang Keluarga Tommy
Pria yang akrab disapa Tommy ini lahir di Jakarta pada 7 Mei 1972. Mengutip laman Partai Gerindra, ia adalah anak dari pasangan Soedradjad Djiwandono dan Biantiningsih Miderawati.
Tak jauh berbeda dengan kariernya saat ini, sang ayah juga merupakan mantan Gubernur Bank Indonesia. Saat ini ia mengajar di Nanyang Technological University, Singapura.
Sang ibu yakni Bianti yang juga merupakan kakak kandung Prabowo Subianto merupakan pendiri Partai Gerindra. Sang kakek yakni M Margono Djojohadikusumo juga merupakan pendiri Bank BNI 46.
Dari sana, terlihat bahwa Tommy lahir dari keluarga yang ternama. Tommy dan istrinya memiliki tiga orang anak.
Riwayat Pendidikan Tommy
Dalam hal pendidikan, Tommy tentunya mendapatkan kesempatan sekolah yang baik. Ia menempuh sekolah menengah di SMP Kanisius, Menteng, Jakarta.
Kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Haverford Colloge, Pennsylvania, Amerika Serika dengan bidang studi sejarah. Tak sampai di sana, ia terus melanjutkan ke ke jenjang S2.
Tommy mengambil master di bidang International Relations and International Economics di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies, Washington, Amerika Serikat.
Karier dan Kiprah di Dunia Politik
Sebelum berkecimpung di dunia politik, Tommy aktif sebagai wartawan. Pada 1993, ia adalah wartawan magang majalah Tempo.
Lalu, pada 1994 ia menjadi wartawan Indonesia Business Weekly. Seusai berkarier sebagai wartawan, ia melebarkan sayapnya di Whetlock NatWest Securities, Hong Kong sebagai analis.
Pada 2006, ia menjadi Deputy CEO Arsari Group yang merupakan perusahaan pamannya yakni Hashim. Pada 2014, Tommy pun berkecimpung di dunia politik.
Tommy terpilih menjadi Bendahara Umum Partai Gerindra. Kemudian, ia juga sempat mencalonkan diri sebagai caleg di Provinsi Kalimantan Barat.
Selama kampanye presiden sang paman, Tommy tak diam. Sejak Pilpres 2014 ia sudah memiliki peran penting dalam Koalisi Merah-Putih.
Kinerja Tommy sebagai bendahara yang catatannya rapi, membuahkan hasil bagi partainya. Partai Gerindra pernah mendapatkan penghargaan Transparency International Indonesia dan Indonesia Corruption Watch.
(cyu/nah)











































