Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan organisasi eksplorasi laut global, OceanX, berhasil mengindentifikasi 14 megafauna di laut utara Sulawesi Utara. Spesies apa saja yang ditemukan?
Penemuan tersebut ditemukan saat misi penelitian laut "OCEANX-BRIN Collaborative Deep-sea Research and Capacity Building Program 2025 - Mission Leg 2". Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN,Nugroho Dwi Hananto menyampaikan Leg Kedua telah dilaksanakan pada 5-24 Januari 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Leg kedua ini dilaksanakan pada 5-24 Januari 2026, berfokus pada biodiversitas (keanekaragaman hayati), oseanografi, dan juga pengamatan laut, serta fish aggregating device (FAD) atau yang lebih kita kenal rumpon", kata Nugroho dalam laman BRIN dikutip Senin (26/1/2026).
ROV Program Lead OceanX, Andrew Craig, melaporkan penelitian ini mengidentifikasi 14 spesies megafauna selama misi berlangsung. Apa saja yang ditemukan?
14 Megafauna dalam Misi BRIN-OceanX
Peneliti mamalia laut, Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Sekar Mira, menyebut temuan 14 megafauna dalam misi BRIN-OceanX berhasil mengidentifikasi:
10 spesies mamalia laut
2 spesies hiu
2 spesies penyu.
Sekar mengatakan, mamalia laut ini ditemukan melalui pantauan udara menggunakan helikopter kapal, seperti paus sperma (sperm whales) dan paus berparuh (beaked whales).
"Bahkan, kami menjumpai Indopacetus pacificus (paus paruh Longman) yang jika terkonfirmasi akan menjadi catatan baru bagi daftar biodiversitas di perairan Indonesia," ujarnya.
Selain menggunakan helikopter, para peneliti menggunakan metode revolusioner menggunakan teknologi environmental DNA (eDNA) metabarcoding. Metode ini memungkinkan ilmuwan mendeteksi keberadaan paus dan megafauna lainnya melalui residu genetik yang tertinggal di air.
"Kira-kira kalau bisa cerita cepat, kita, tuh, kayak lagi berburu paus tanpa membunuh paus, whaling tanpa harpoon. Harapannya, kita bisa mempelajaridistribusinya, tidak hanya horizontal tapi juga secara vertikal," ungkap Peneliti Pusat Riset Zoologi TerapanBRIN,Andhika PrimaPrasetyo menambahkan.
Ekspedisi ini menggunakan dua unit kapal selam berawak (submersible), kapal selam Nadir difokuskan untuk merekam struktur komunitas di gunung bawah laut (seamount) melalui metode video transect. Sedangkan, Neptune yang dilengkapi dengan Niskin bottle berfungsi untuk mengoleksi sampel air.
Dengan lengan robotik Neptune, ia mampu mengambil sampel biota laut. Serta bio box untuk menjaga spesimen selama perjalanan naik ke permukaan untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium kapal.
