Pakar sekaligus Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Hardiansyah soroti kebiasaan makan mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa memiliki kebiasaan yang sering mengabaikan sayur.
Alasan mahasiswa mengabaikan sayur disebut karena faktor waktu dan biaya. Alih-alih mengonsumsi sayur, mahasiswa lebih sering berburu karbohidrat.
"Padahal sayur dan buah itu sumber antioksidan," katanya dikutip dari laman resmi IPB University, Rabu (21/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain mengabaikan sayur, Hardiansyah juga menyoroti maraknya makanan junk food yang ada di sekitar kampus. Ia tidak melarang mahasiswa, namun Hardiansyah berpesan agar mereka bijak dalam mengombinasikan makanan.
"Kalau terpaksa makan ayam goreng, tidak apa-apa, tapi imbangi dengan jus buah asli, bukan jus rasa, dan gulanya minimal," sambungnya.
Kunci Pola Makan Mahasiswa
Prof Hardiansyah menegaskan bahwa kunci pola makan mahasiswa adalah keseimbangan. Mahasiswa tetap bisa penuhi kebutuhan gizinya, meski memiliki anggaran terbatas.
"Tidak apa-apa sesekali makan junk food, tapi tetap harus diseimbangkan dengan sayur dan buah," ujar Hardiansyah.
Asupan makanan yang seimbang punya peran penting bagi mahasiswa dengan jadwal perkuliahan padat. Makanan dapat menjaga konsentrasi, stamina, dan produktivitas mereka.
Ia menekankan pentingnya mengonsumsi makanan pokok, lauk berprotein, sayur, dan buah, sehingga memenuhi seluruh zat gizi. Lauk berprotein yang dimaksud Hardiansyah juga bisa disesuaikan dengan kondisi mahasiswa.
Tidak harus mahal, protein dapat diperoleh dari telur, tempe, tahu, ikan, atau, ayam yang dapat menjaga masa otot dan kebugaran. Satu hal yang harus mahasiswa ingat, protein tidak hanya penting bagi mereka yang sedang program kebugaran atau gym, tetapi semua orang yang aktif.
Dibanding konsumsi junk food, Hardiansyah menyarankan mahasiswa membeli makanan di warteg yang kini semakin bersih. Ia menyebutkan kini Rp 10 ribu sudah bisa makan makanan bergizi lengkap.
Selain itu, mahasiswa juga bisa memasak makanan bersama di kos masing-masing. Selain menghemat pengeluaran, memasak bersama juga melatih komitmen, kerja sama, dan tanggung jawab.
"Masak bersama itu ada nilai kepemimpinan yang luar biasa," urainya.
Makan Mie Boleh, Tapi...
Makanan praktis seperti mie instan juga tak lepas dari perhatian Hardiansyah. Kebiasaan ini menurutnya perlu diperbaiki dengan penambahan protein dan sayuran.
Hardiansyah kembali tidak melarang mahasiswa memakan mie, tetapi perlu ditambah dengan protein dan sayur yang cukup. Cukup dalam hal ini adalah tidak terlalu sedikit bak hiasan semata.
"Kalau makan mi, pakai telur, tambahkan timun setengah biji yang disayat-sayat, atau tomat satu biji. Jangan cuma satu sayat, itu hanya aksesoris," tegas Hardiansyah.
