Ade Putri Sarwendah telah mengabdi lebih dari 15 tahun sebagai guru siswa berkebutuhan khusus. Saat ditanya mengenai motivasinya, ia menggeleng pelan.
"Setiap kali seseorang bertanya mengapa saya ingin mengajar di SLB, saya tidak pernah punya alasan," ungkap Ade kepada detikEdu di Kantor Kedutaan Besar Kerajaan Thailand Jl. Dr. Ide Anak Agung Gede Agung, Jakarta, dikutip Rabu (14/1/2026).
"Karena bagi saya, tingkat cinta terdalam tidak membutuhkan alasan yang pasti. Itulah alasan mengapa saya masih memiliki hasrat yang luar biasa untuk mengajar anak-anak penyandang disabilitas," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang kariernya, Ade telah mengembangkan beragam aplikasi dan metode pengajaran untuk siswa berkebutuhan khusus. Beberapa inovasi terkait pembelajaran adalah aplikasi bernama Gembira Mengenal Ragam Bunyi dan Suara.
"Saya mengembangkan aplikasi ini untuk memfasilitasi pembelajaran program kebutuhan khusus guna mengoptimalkan potensi anak-anak dengan gangguan pendengaran," jelasnya.
Ia juga mengembangkan aplikasi pendidikan kesehatan reproduksi untuk siswa dengan gangguan intelektual. Aplikasi tersebut diberi nama Sehati Pendidikan Kesehatan Reproduksi.
"Kemudian beberapa inovasi lainnya adalah saya mengembangkan meja kerja adaptif saya sendiri yang berisi kegiatan pembelajaran yang termasuk dalam bahasa isyarat. Sehingga anak-anak dengan gangguan pendengaran dapat melakukan kegiatan pembelajaran sambil belajar bahasa isyarat," ujar guru SLBN Balikpapan, Kalimantan Timur, itu.
Selain pengembangan aplikasi, Ade juga memiliki proyek pembelajaran bernama ABK Farm. Tujuan dari proyek ini adalah untuk melatih kemandirian para siswa berkebutuhan khusus.
"Orientasinya belum tentang bagaimana mempersiapkan kemandirian mereka setelah lulus sekolah. Tetapi saya menyadari bahwa saya mengajar anak-anak penyandang disabilitas. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana mempersiapkan kemandirian mereka sedini mungkin," tuturnya.
Akui Tidak Punya Tantangan
Menurut Ade, ia tidak pernah mengalami tantangan yang berarti saat mengajar siswa berkebutuhan khusus. Sebaliknya, ia merasa ini adalah peluang baginya.
"Apa peluangnya? Pertama, peluang untuk membangun empati saya sebagai seorang guru. Kedua, peluang bagi saya untuk memahami kebutuhan mereka secara personal," ungkapnya.
"Dan ketiga, peluang bagi saya untuk terus belajar dan mengembangkan inovasi agar dapat memfasilitasi mereka dalam proses pembelajaran, memperkaya pengalaman belajar mereka, dan membuat pembelajaran ini lebih bermakna dan menyenangkan bagi mereka," tambahnya.
Panen Penghargaan
Kerja keras Ade berbuah manis. Sejak 2018, ia telah menerima beragam penghargaan baik tingkat provinsi, nasional, dan internasional.Ia mendapat juara kedua Guru Berprestasi Nasional.
Kemudian pada 2022, Ade memenangkan Penghargaan Inovasi Pendidikan Khusus di Malaysia. Kemudian pada 2024, Ade menjadi peserta favorit dalam Jambore Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) tingkat nasional dalam daftar Guru Inovatif SLB.
"Dan pada tahun 2025, alhamdulillah, saya mendapatkan penghargaan sebagai penerima Penghargaan Putri Maha Chakri," ujarnya.
Pada penganugerahan Princess Maha Chakri Award 2025, Ade bertolak ke Bangkok, Thailand, untuk memberikan presentasi mengenai metode pengajaran yang telah ia kembangkan. Putri Balikpapan itu telah mengenalkan metode pengajaran siswa berkebutuhan khusus ke tingkat internasional.
(nir/twu)











































