Pakar sekaligus editor buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global, Agus Suwignyo dan Sarkawi ungkap akan ada perubahan yang terjadi dari hadirnya buku sejarah nasional baru.
Keduanya menyebutkan hadirnya buku ini bisa mengubah kurikulum pelajaran sejarah di sekolah. Mengingat selama ini, materi pembelajaran bersumber pada buku sejarah nasional.
Agus menyebut perubahan materi yang diberikan kepada siswa tidak serta-merta diberikan sekaligus, melainkan bertahap. Hadirnya buku dengan total 10 jilid itu akan memberikan pengetahuan sejarah yang belum ada sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasti akan ada perubahan, pelan-pelan secara bertahap. Siswa perlu mengetahui pengetahuan sejarah yang belum pernah diperkenalkan sebelumnya," tutur Agus yang juga dosen Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) dikutip dari laman resmi UGM, Selasa (6/1/2026).
Buku Sejarah yang Timbulkan Kekhawatiran Masyarakat
Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global diluncurkan oleh Kementerian Kebudayaan pada 14 Desember 2025 lalu. Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Sejarah Nasional yang diusulkan oleh para Sejarawan Indonesia.
Terdiri dari 10 jilid, buku ini melibatkan 123 penulis dari 34 perguruan tinggi dan 11 lembaga non-perguruan tinggi. Agus sendiri menjadi editor yang menangani struktur jilid V.
Jilid V membahas tentang sejarah Indonesia di abad ke-19. Menurutnya, pembaca akan memiliki paradigma baru tentang sejarah pengetahuan, infrastruktur, dan hukum pada masa itu.
Kehadiran buku Sejarah Indonesia ini bisa dikatakan penuh perhatian. Masyarakat khawatir akan adanya perubahan signifikan sejarah terkait suatu tokoh tertentu.
Kendati demikian, Agus menyatakan buku ini harus dibaca secara keseluruhan dan detail untuk mengetahui sejarah yang ada. Bila perlu, pembaca juga bisa membandingkan dengan buku sejarah nasional sebelumnya.
Melihat hal ini, Agus justru berharap buku tersebut bisa membuka diskusi dan perdebatan publik. Sehingga, narasi yang lebih luas bisa terbuka dan tidak hanya fokus pada satu atau dua segmen buku saja, serta mengabaikan seluruh segmen sejarah Indonesia.
"Saya pribadi akan senang, nanti peluncuran ini akan memancing diskusi-diskusi di ruang publik, di komunitas-komunitas, di perguruan tinggi, di sekolah mengenai sejarah Indonesia," katanya.
Revisi Soal Indonesia Dijajah Belanda 350 Tahun
Pada acara peluncuran buku, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan buku sejarah Indonesia terbaru ini merevisi bila Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Alih-alih menekankan penjajahan, ia mengungkap buku akan menonjolkan perlawanan masyarakat Indonesia di berbagai daerah.
"Jadi yang ditonjolkan adalah perlawanan. Jadi kita tidak dijajah 350 tahun, tetapi perlawanan-perlawanan itu, ada yang mungkin dijajah 40 tahun, ada yang 10 tahun, ada yang tidak dijajah sama sekali, ada yang mungkin 100-200 tahun, dan seterusnya," ucapnya dikutip dari arsip detikEdu.
(det/pal)











































