Mahasiswa Indonesia Cerita Pengalaman Jadi Imam Masjid di London

ADVERTISEMENT

Mahasiswa Indonesia Cerita Pengalaman Jadi Imam Masjid di London

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 02 Jan 2026 20:00 WIB
Mahasiswa Indonesia Cerita Pengalaman Jadi Imam Masjid di London
Mahasiswa magister dual degree Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan SOAS University of London, Muhammad Fahmi Reksa Alfarisi terpilih sebagai imam masjid di Indonesian Islamic Centre London. Foto: Kemenag/Muhammad Fahmi Reksa Alfarisi
Jakarta -

Mahasiswa magister dual degree Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan SOAS University of London, Muhammad Fahmi Reksa Alfarisi terpilih sebagai imam masjid di Indonesian Islamic Centre London.

Ia terpilih dari 32 kandidat. Setelah melalui beberapa tahapan seleksi, hanya empat orang yang masuk ke tahap wawancara dan pemaparan grand design. "Ketika keputusan akhir diumumkan, saya benar-benar terkejut," jelas Fahmi pada Selasa (30/12/2025), dikutip dari Kementerian Agama (Kemenag) RI.

Ia menilai ada banyak kandidat lain yang mempunyai hafalan Al Quran lebih kuat dan penguasaan khazanah keislaman yang lebih mendalam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk Fahmi, kesempatan menjadi imam masjid di London bukanlah sebuah jabatan, tetapi kelanjutan perjalanan intelektual dan spiritual yang panjang. Mengalami 13 tahun pendidikan pesantren menjadi fondasi awal pendidikan Fahmi.

Meski demikian, menurut Fahmi ilmu yang ia dapatkan sejauh ini masih belum cukup untuk sepenuhnya menjawab kebutuhan umat dan tantangan zaman.

ADVERTISEMENT

"Namun Alhamdulillah, setidaknya itu menjadi titik awal yang kuat, sebuah pondasi untuk berpijak," imbuhnya.

Ruang Ibadah dari Berbagai Latar Budaya

Berada di tengah aktivitas Indonesian Islamic Centre London membuat Fahmi berada di persimpangan antara identitas, tradisi, dan keberagaman. Masjid tersebut menjadi rumah spiritual untuk masyarakat Indonesia yang ada di Inggris, sekaligus ruang ibadah untuk jamaah dari berbagai latar budaya dan kebangsaan.

Tanggung jawab ganda tersebut menurutnya penuh makna, tetapi juga menantang. Ia menyebut di satu sisi ada kewajiban untuk menjaga dan merepresentasikan tradisi keagamaan Indonesia dan melayani jamaah Indonesia. Namun, di sisi lain ia mengatakan juga dituntut responsif terhadap komunitas muslim yang lebih luas dan sangat beragam.

Perbedaan Menjadi Peluang

Fahmi melihat perbedaan kerap muncul, bahkan dalam praktik ibadah sehari-hari. Kendati demikian, Fahmi menilai hal ini sebagai peluang.

"Dalam konteks ini, perbedaan tidak memisahkan. Justru menjadi ruang untuk saling berbagi pengetahuan, belajar satu sama lain, dan menguatkan pemahaman," ujarnya.

Hidup sebagai muslim minoritas di London, juga mengubah cara pandang Fahmi. Ketimbang memperdebatkan siapa yang paling benar, fokusnya kemudian bergeser pada upaya menghadirkan ruang ibadah yang damai dan inklusif, tempat ibadah yang tenang dan bermartabat.

Ia pun membayangkan mahasiswa lain dari program dual degree UIII-SOAS bisa melangkah ke peran serupa, melanjutkan yang ia istilahkan sebagai estafet dakwah, yaitu rantai pengabdian dan komitmen.

"Kebutuhan akan terus bertambah. Dan pelayanan terbaik harus senantiasa diupayakan bagi jamaah dan masyarakat luas," ucapnya.

Untuk Fahmi, mimbar di London bukanlah titik akhir, tetapi bagian dari perjalanan panjang di mana keilmuan bertemu dengan pengabdian, serta proses belajar menemukan makna yang paling utuh dalam tanggung jawab.



(nah/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads