Jika melihat beberapa jurnal ilmiah, mungkin detikers akan menemukan nama Premana Wardayanti Premadi sebagai peneliti sekaligus penulis makalah. Namun, ternyata nama Premadi juga terukir abadi di langit.
Guru Besar Astrofisika, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini namanya diabadikan sebagai nama asteroid (12937) Premadi. Bagaimana namanya dijadikan nama asteroid tersebut?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecintaan terhadap Astrofisika
Dunia astrofisika dan kosmologi bagi Premana bukan sekadar ilmu. Lebih jauh dari itu ia memandangnya sebagai bidang yang menghubungkan manusia dengan semesta.
"Semesta ini terlalu besar, terlalu indah, terlalu megah untuk dinikmati sendiri. Ada dorongan bagi kami para astronom untuk berbagi," ujarnya dikutip dari laman BRIN, Rabu (31/12/2025).
Premana adalah lulusan doktor di University of Texas. Ia juga merupakan perempuan pertama dari Indonesia yang meraih gelar doktor astrofisika dari sana.
"Astronomi itu sains yang mudah mendapat engage dibanding ilmu sains lain. Dan itu membuat anak-anak mudah terpikat," katanya.
Selain itu, ia juga memiliki perhatian serius dalam pendidikan sains astronomi untuk anak. Ia pun mendirikan Universe Awareness for Children (UNAWE).
UNAWE adalah gerakan global yang memperkenalkan astronomi pada anak-anak. Khususnya di daerah-daerah tertinggal.
"Semakin besar kesenjangan antara kemajuan sains dan pendidikan, semakin genting situasinya. Kita perlu jembatan yang kokoh agar masyarakat-terutama anak-anak bisa mengikuti perkembangan sains secara timely," ungkap Premana.
Kiprah Premana sebagai Periset
Wanita kelahiran 13 Juli 1964 ini meniti karier sebagai seorang astronom setelah ia lulus dari S1 Sains Astronomi, ITB. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di University of Texas.
Premana fokus meriset tentang evokusi stuktur skala besar alam semesta lewat teknik lensa gravitasi. Hasil penelitiannya pada 1990-an menjadi pionir dalam pengembangan uji model kosmologi teoritis lewat simulasi komputasional.
"Galaksi itu seperti manusia. Tidak ada dua galaksi yang sama. Lingkungannya berbeda, evolusinya berbeda, tetapi mereka mengikuti hukum alam yang sama. Dan itulah keindahannya," ungkapnya.
Premana pun melanjutkan karier sebagai dosen di ITB. Pada 2018-2023, ia juga memegang jabatan Kepala Observatorium Bosscha.
Selama menjadi kepala, Prema menginginkan agar Observatorium Bosscha menjadi simbol keinginan manusia dalam menjawab banyak pertanyaan sains.
"Kita ingin menjaga reputasi sebagai negara yang berada di garis depan. Potensinya luar biasa besar," katanya.
Nama Dibadikan sebagai Asteroid
Nama asteroid Premadi tidak begitu saja disematkan. Premana mendapatkannya setelah memiliki kiprash riset yang panjang dan berdampak.
Ia pernah terlibat dalam riset tentang simulasi distribusi supernova melalui lensa gravitasi dirujuk untuk pengembangan rancangan program Legacy Survey of Space and Time (LSST). Ia juga tergabun dalam misi Nancy Grace Roman Space Telescope yang dijadwalkan meluncur pada 2027.
Premana juga telah memberikan pemahamannya terkait gravity assist manuver "slingshot". Slingshot dapat mempercepat wahana antariksa dengan bahan bakar yang minim.
Ia juga menyebut pentingnya lensa gravitasi untuk mendeteksi materi gelap. Selain itu, menurutnya juga penting menggunakan teori relativitas dalam teknologi sistem navigasi GPS.
Dedikasi yang tinggi terhadap dunia astrofisika membuat International Astronomical Union (IAU) mengabadikan namanya sebagai asteroid (12937) Premadi pada 2017. Sebelumnya asteroid tersebut bernama 3024 P-L.
Ia juga pernah mendapat anugerah dari Kerajaan Inggris berupa gelar Honorary Fellow dari Royal Astronomical Society. Gelar tersebt merupakan pengakuan bergengsi bagi ilmuwan yang karyanya berpengaruh untuk dunia.
(cyu/faz)











































