Mendengar matematika, termasuk (mungkin) bagi khalayak detikEdu, belum apa-apa sudah muncul parno dan khawatir. Akhirnya jadi malas, padahal materi belum juga diberikan! Ternyata merujuk buku yang satu ini, ada tiga pendekatan penyebabnya.
Pertama, jika dilihat dari konten, bahan ajar cetak seperti buku teks, modul, dan lembar kerja siswa sering kali menjadi sumber utama di sekolah, namun justru dapat menimbulkan kesenjangan antara perkembangan kognitif anak dan kompetensi yang diharapkan. Penyajian materi yang terlalu kaku dianggap membatasi daya nalar siswa dan menghilangkan kealamian matematika sebagai ilmu yang seharusnya dekat dengan kehidupan nyata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buku ini menyoroti berbagai kesalahan konseptual dalam buku teks matematika, seperti kekeliruan dalam penarikan kesimpulan, pendefinisian konsep, serta hierarki konsep. Misalnya, dalam materi himpunan dan geometri, beberapa definisi dianggap ambigu dan sulit dipahami siswa. Selain itu, konsep-konsep baru sering tidak diawali dengan prasyarat yang memadai, menyebabkan kesulitan dalam memahami keterkaitan antar topik.
Permasalahan lain muncul dalam representasi konsep, di mana penyajian visual dan tabel kadang menimbulkan salah tafsir, serta penggunaan metode cepat yang mengabaikan pemahaman mendalam. Kritik terhadap buku Kurikulum 2013 juga disampaikan, karena meskipun buku tersebut bersifat 'dokumen hidup' yang selalu disesuaikan, kenyataannya masih terdapat kekeliruan logis dan pedagogis yang berpengaruh pada proses belajar siswa.
Kedua, dari sisi problematika anak didik, buku ini menyoroti beragam hambatan berpikir matematis yang berakar pada perbedaan kemampuan kognitif dan psikologis siswa. Salah satu kelompok yang dibahas adalah slow learner, yakni anak dengan kemampuan belajar di bawah rata-rata yang membutuhkan bimbingan individual, dukungan emosional, dan kolaborasi antara guru dan orang tua. Mereka memerlukan pengulangan materi, pendekatan personal, serta penguatan positif agar tidak kehilangan kepercayaan diri.
Ada pula yang disebut diskalkulia, yaitu gangguan dalam memahami angka, waktu, arah, dan informasi spasial yang membuat penalaran matematis menjadi sulit. Siswa dengan kondisi ini sering gagal menyelesaikan soal sederhana karena keterbatasan otak dalam mengelola simbol dan pola numerik. Buku juga menyinggung kecemasan matematika yang menyebabkan siswa merasa takut atau tertekan setiap kali berhadapan dengan pelajaran ini, sehingga menghambat potensi berpikir logis mereka.
Kemudian, aspek kecemasan matematis yang kerap dialami siswa. Kecemasan ini muncul ketika peserta didik merasa takut, gugup, atau tidak percaya diri saat berhadapan dengan pelajaran matematika. Wigfield dan Meece (1990) menyebut kecemasan matematis memiliki dua komponen utama, yaitu math anxious dan ketidakmampuan yang berulang terhadap aktivitas matematika. Kondisi ini dapat memicu reaksi emosional negatif seperti penolakan terhadap pelajaran, penghindaran tugas, bahkan kegagalan dalam memahami konsep dasar.
Penyebab kecemasan tersebut beragam, mulai dari pengalaman buruk sebelumnya, metode pengajaran yang terlalu menekankan hasil akhir, hingga minimnya pendekatan yang membangun rasa percaya diri. Beberapa siswa juga mengalami gangguan pemrosesan informasi seperti diskalkulia atau lemahnya memori kerja, sehingga setiap aktivitas berhitung terasa menakutkan. Ketika rasa cemas meningkat, otak kesulitan menyimpan informasi baru dan mengaitkannya dengan pengetahuan lama. Akibatnya, siswa menjadi semakin tertekan dan menganggap matematika sebagai pelajaran yang tidak dapat dikuasai.
Guru Matematika
Dari sisi guru, buku yang satu ini menekankan, kompetensi profesional menjadi kunci utama keberhasilan pembelajaran matematika. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi dan pola pikir ilmiah, tetapi juga harus memiliki kemampuan pedagogis, sosial, dan kepribadian yang mendukung suasana belajar yang kondusif.
Guru matematika perlu menjadi fasilitator yang kreatif, reflektif, dan empatik terhadap perbedaan kemampuan siswa. Mereka diharapkan mampu menggunakan teknologi pembelajaran secara tepat, mengembangkan materi sesuai kebutuhan peserta didik, dan melakukan refleksi diri secara berkelanjutan agar proses pembelajaran lebih manusiawi dan bermakna. Dengan demikian, guru berperan bukan sekadar sebagai pengajar rumus, tetapi sebagai pembimbing yang menumbuhkan minat, rasa percaya diri, serta kesabaran dalam berpikir matematis.
Melalui pembahasan tersebut, buku ini mengajak pembaca, terutama guru dan calon pendidik, untuk memahami bahwa problematika matematika di sekolah tidak hanya bersumber dari bahan ajar, tetapi juga dari aspek psikologis, emosional, dan sosial siswa. Solusi yang ditawarkan bukan sekadar perbaikan metode mengajar, melainkan pendekatan menyeluruh yang menempatkan matematika sebagai sarana untuk menumbuhkan logika, kesabaran, dan kepercayaan diri peserta didik. Buku ini ditulis oleh empat akademisi berpengalaman yaitu Dr Puguh Darmawan, Dr Nonik Indrawatiningsih, Dr Muhammad Irfan, dan Dr Imam Rofiki, yang seluruhnya aktif dalam pengajaran, penelitian, dan pengembangan pendidikan matematika pada berbagai universitas negeri di Indonesia.
Melalui pembahasannya yang lengkap, literasi ini mengajak pembaca, terutama guru dan calon pendidik, untuk memahami bahwa problematika matematika di sekolah tidak hanya bersumber dari bahan ajar, tetapi juga dari aspek psikologis, emosional, dan sosial siswa. Solusi yang ditawarkan bukan sekadar perbaikan metode mengajar, melainkan pendekatan menyeluruh yang menempatkan matematika sebagai sarana untuk menumbuhkan logika, kesabaran, dan kepercayaan diri peserta didik. Mari buat matematika jadi pelajaran favorit nan menyenangkan!
Judul Buku: Problematika Matematika Sekolah
Penulis: Dr Puguh Darmawan, Dr Nonik Indrawatiningsih, Dr Muhammad Irfan, Dr Imam Rofiki
Penerbit: PT Refika Aditama, Bandung
Tahun Terbit: Oktober 2024 | 131 halaman | ISBN: 978 623 5031 088
*) Dr Muhammad Sufyan Abdurrahman, Dosen Digital Public Relations Telkom University
(nwk/nwk)











































