Kesan Peserta IFLS 2025, Bantu Sekolah Persiapkan Pembelajaran Berbasis AI

ADVERTISEMENT

Kesan Peserta IFLS 2025, Bantu Sekolah Persiapkan Pembelajaran Berbasis AI

Devita Savitri - detikEdu
Jumat, 29 Agu 2025 18:30 WIB
CEO Refo Pepita Gunawan dan para pembicara di IFLS 2025.
CEO Refo Pepita Gunawan dan para pembicara di IFLS 2025. Foto: dok. IFLS 2025
Jakarta -

Indonesia Future of Learning Summit (IFLS) 2025 resmi usai dilaksanakan pada Sabtu, 23 Agustus 2025 lalu. IFLS 2025 dihadiri oleh lebih dari 300 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Mereka hadir mendengarkan berbagai paparan dari sembilan pembicara terkait kehadiran artificial intelligence (AI) di ranah pendidikan. Kesembilan pembicara ini merupakan praktisi pendidikan, orang tua, psikolog anak dan remaja, serta praktisi kebijakan.

Pendiri dan Direktur Pelaksana PT Reformasi Generasi Indonesia (REFO) Papita Gunawan menyatakan 2025 merupakan tahun keempat IFLS dilaksanakan. IFLS 2025 mengusung tema "AI-ducated: Unlocking The Future with AI Skills and Beyond."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melalui tema tersebut, peserta yang hadir diajak untuk memahami kekuatan dan dampak AI di ranah pendidikan. Tidak bisa dihindari, setiap pendidik dan orang tua masa kini pasti memiliki kekhawatiran tentang implementasi AI dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan diterapkannya koding-AI sebagai mata pelajaran pilihan, akan semakin banyak sekolah yang menggunakan AI. Untuk, itu sebagai pendidik dan orang tua diharapkan dapat memahami potensi dan risiko penggunaannya.

ADVERTISEMENT

"Tugas kita adalah membantu anak-anak ini untuk dapat menggunakan AI dengan benar dan bijak. Pertanyaan inilah yang saya renungkan beberapa bulan terakhir, dan akhirnya menjadi ide utama saat REFO mempersiapkan IFLS 2025," ujar Pepita dikutip dalam keterangan tertulis, Jumat (29/8/2025).

Kesan Peserta IFLS 2025

Diketahui, sebagian peserta IFLS 2025 adalah pendidik yang antusias untuk belajar tentang AI. Berbagai peserta mengungkapnya mereka terkesan dengan sesuai Ter-AI-ducated: AI to Support Mastery of Key Skills yang disampaikan oleh guru dari Jakarta Intercultural School (JIS) Hanna Christina.

Agus Dwi Iswanto menjadi salah satu peserta yang terkesan dengan materi Hanna. Sebagai pendidik dari SDN 013 Balikpapan Selatan, ia menyebut materi Hanna menjadi bukti bila AI mampu mendukung pembelajaran lebih menarik.

"Sesi Ter-AI-ducated: AI to Support Mastery of Key Skills oleh Hanna Christina, menunjukkan bagaimana AI dapat membuat pelajaran Sejarah lebih menarik dan mendalam, bahkan dengan alat gratis," tuturnya.

Senada dengan Agus, Irma Nurul Fatima dari SMP Lazuardi Al-Falah Global Islamic School juga terkesan dengan metode pembelajaran yang disampaikan Hanna. Menurutnya, metode Hanna efektif diterapkan di kelas karena bisa digunakan pada berbagai jenjang pendidikan.

"Termasuk untuk siswa yang lebih muda, tanpa terhambat materi yang bahasanya terlalu rumit," jelas Irma.

Pendapat berbeda datang dari Catherine Lim dari Sekolah Mahabodhi Vidya. Catherine mengaku ini kali keduanya hadir di IFLS dan terkesan karena acara berjalan sangat penuh persiapan.

Sesi Claire Simms dari Google Reference School yang menjelaskan implementasi Google Gemini dalam pembelajaran pendidikan dasar sangat menarik perhatiannya. Sebagai pemimpin sekolah, ia jadi paham AI bisa membantu dalam memajukan sekolah.

"Favorit saya adalah sesi dari Claire Simms, karena data yang ia gunakan memberi wawasan berharga bagi kami sebagai pemimpin sekolah tentang perubahan yang dibutuhkan dan bagaimana AI dapat membantu memajukan sekolah agar sejajar dengan standar global," kata Catherine.

Kesan positif juga disampaikan Felixtian Teknowijoyo dari SKK Surakarta dan Zulfadli dari YPS Sorowako. Keduanya menyebut IFLS 2025 memberikan paradigma baru, menawarkan wawasan yang berharga, serta bermanfaat dalam memberikan masukan tentang penerapan kebijakan AI di sekolah.

5 Sesi IFLS 2025

Seperti yang disebutkan sebelumnya, IFLS 2025 berlangsung dalam lima sesi, yakni:

1. Where is School in the Key Skills vs AI Saga?

Sesi pertama dibuka dengan panel Diskusi dengan pembicara Claire Simms dari St. Joseph's Institution International (SJI) Elementary School Singapore, Lee Ting Jian dari Jakarta Nanyang School, Yuliana dari IPEKA International Schools, dan Abdullah dari SMA Negeri 1 Glagah, Banyuwangi.

Para pemimpin sekolah tersebut menggambarkan pemanfaatan AI di sekolah masing-masing. Mereka juga menjelaskan tentang pemanfaatan AI yang positif dan berpusat pada manusia, serta penyeimbangan penggunaannya dengan pengembangan keterampilan masa depan.

2. AI and Beyond: From Adaptive Learning to Human-Centered Skills

Sesi selanjutnya adalah penyampaian pidato oleh Claire Simms dari Google Reference School, yaitu St. Joseph's Institution International Elementary School Singapore.

Dalam sesinya Claire mengeksplorasi implementasi Google Gemini secara menyeluruh dalam pendidikan dasar, dengan menyoroti nilai-nilai yang lebih dalam serta tujuan jangka panjang di balik penggunaannya.

3. Ter-AI-ducated: AI to Support Mastery of Key Skills.

Berbeda dengan sesi sebelumnya yang bersifat berbincang, Ter-AI-ducated merupakan sesi demo yang dibawakan oleh guru dari JIS. Ada dua sesi demo yang berlangsung, pertama dibawakan oleh Hanna Christina dan kedua oleh Mindy Slaughter.

Hanna mendemonstrasikan bagaimana ia memodifikasi AI Flint K12 menjadi 'sejarawan Indonesia' dan membantunya mengajar mata pelajaran Sejarah berbasis inkuiri untuk anak-anak kelas lima. Sedangkan, Mindy memberikan demo tentang bagaimana ia menggunakan AI dan Virtual Reality (VR) untuk mengajar anak-anak kelas empat menulis cerita.

4. Finding The Balance At Home

Dua psikolog membagikan ceritanya tentang kehadiran AI di lingkup keluarga. Sesi ini dipandu oleh Pepita Gunawan yang berdiskusi dengan Okki Sutanto, seorang pembicara dan penulis berlatar belakang psikologi dan Gloria Siagian, seorang psikolog anak dan remaja.

Sebagai orang tua, ketiganya memberikan pandangan tentang membesarkan anak di era digital dan AI. Selain itu, para pembicara juga memberikan strategi psikologis praktis untuk membentuk kebiasaan teknologi sehat di rumah.

5. The Most Important Skills for The Future

Terakhir, sesi yang paling ditunggu-tunggu oleh para peserta. Sesi ini dibawakan oleh Mantan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen) Iwan Syahril.

Iwan menekankan ada tiga keterampilan utama untuk menghadapi masa depan. Ketiga keterampilan itu adalah berpikir tingkat tinggi, sosial emosional, dan teknologi.

Ia juga menyoroti dampak perubahan dan teknologi pada pendidikan, serta pentingnya terus mengasah keterampilan masa kini dan menjadi pemimpin dengan kecerdasan emosional.




(det/nwk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads