Dosen ITB Sulap Tanah Jadi Logam dalam Waktu 2 Menit, Bagaimana Caranya?

ADVERTISEMENT

Dosen ITB Sulap Tanah Jadi Logam dalam Waktu 2 Menit, Bagaimana Caranya?

Cicin Yulianti - detikEdu
Senin, 11 Nov 2024 10:00 WIB
Dosen ITB sulap tanah jadi besi dalam waktu kurang dari 2 menit
Dosen ITB sulap tanah jadi besi dalam waktu kurang dari 2 menit. Foto: Kemendiktisaintek
Jakarta -

Seorang dosen sekaligus Profesor dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Zulfiadi Zulhan menghasilkan terobosan dalam bidang metalurgi ekstraktif. Ia berhasil mengubah tanah menjadi logam dalam waktu kurang dari dua menit saja.

Pengolahan tanah menjadi logam ini dilakukan lewat sebuah reaktor plasma hidrogen. Alat tersebut berfungsi mempercepat waktu proses reduksi bijih menjadi logam secara drastis.

Selain itu, alat buatan Guru Besar Teknik Metalurgi ITB ini pun bisa mengurangi dampak lingkungan dengan tidak meninggalkan jejak emisi karbon. Lantas, bagaimana proses pengubahan tanah menjadi logam ini?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proses Perubahan Bisa dalam 1 Menit 45 Detik Saja

Sebagaimana dijelaskan dalam unggahan resmi Instagram Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) @kemdiktisaintek.ri, teknologi buatan Prof Zulfiadi tersebut dapat mengubah bijih besi atau limonit (gutit) atau tanah menjadi logam dalam waktu 1 menit 45 detik saja.

Adapun proses pengolahan logam ini bisa cepat karena reaktor plasma hidrogen yang memanfaatkan hidrogen sebagai reduktor. Gas hidrogen akan berubah menjadi plasma di dalam reaktor tersebut.

ADVERTISEMENT

Kemudian, plasma tersebut akan mereduksi hampir seluruh oksida menjadi logam. Reaktor plasma hidrogen ini juga mempunyai reaksi yang sangat cepat dengan suhu yang bisa mencapai puluhan ribu derajat.

Dengan panas yang ekstrem tersebut, bijih dapat direduksi menjadi logam dalam hitungan menit pertama. Lalu, pada menit berikutnya proses reduksi bisa menjadi sempurna.

Metode Cepat dan Ramah Lingkungan

Prof Zulfiadi kemudian menjelaskan bahwa proses seperti ini biasanya memakan waktu 6 jam. Hal tersebut dikarenakan adanya proses kominusi, konsentrasi, ekstraksi, dan pemurnian.

Sementara lewat alat buatannya tersebut tahapan menjadi lebih ringkas. Selain itu, prosesnya lebih sederhana dan lebih cepat.

Metode pengubahan besi menjadi tanah juga pada umumnya menyebabkan polusi berupa emisi karbon dengan jumlah yang banyak. Akan tetapi, reaktor hasil inovasi Prof Zulfiadi sepenuhnya bebas karbon.

Reaktor memanfaatkan hidrogen sehingga hanya menghasilkan air. Sehingga bisa dikatakan bahwa reaktor ini lebih ramah lingkungan.

"Reaktor plasma hidrogen menggunakan green hidrogen dan sumber EBT merupakan alternatif produksi logam yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Mari kita realisasikan pengolahan logam yang greener, cleaner, faster, smarter bersama," ujar Prof Zulfiadi dalam postingan tersebut.




(cyu/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads