Dosen Unesa Beri Catatan Terkait Pendidikan Inklusif di Indonesia

Dosen Unesa Beri Catatan Terkait Pendidikan Inklusif di Indonesia

Anisa Rizki Febriani - detikEdu
Selasa, 06 Des 2022 13:30 WIB
Hari ini, 3 Desember 2022 diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasioal. Yuk, intip momen perayaannya diberbagai wilayah Tanah Air.
Foto: Antara Foto
Jakarta -

Peringatan Hari Disabilitas Internasional jatuh pada 3 Desember 2022. Perayaan ini menjadi momentum dalam merefleksikan kembali terhadap apa yang sudah diberikan kepada penyandang disabilitas dan membangun komitmen bersama untuk memperbaiki layanan di semua aspek.

Dosen program studi (prodi) S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Muhammad Nurul Ashar menjelaskan mengenai peningkatan progress pendidikan inklusif di Indonesia.

Hal ini dibuktikan dengan adanya Komisi Nasional Disabilitas di tingkat nasional, dukungan dari pemerintah pusat serta daerah, dan regulasi tentang disabilitas.

Tak lupa, pemahaman terhadap kondisi disabilitas pun kian meningkat di kalangan masyarakat, terlebih menjamurnya sekolah-sekolah yang membuka layanan disabilitas.

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya detikers mengetahui lebih dulu terkait pengertian dari pendidikan inklusif.

Apa Itu Pendidikan Inklusif?

Pendidikan inklusif ialah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik penyandang disabilitas untuk mengikuti pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik lainnya.

Pendidikan inklusif ini bisa diterapkan dalam dua skema yaitu ada skema khusus lewat sekolah luar biasa (SLB) atau sekolah umum yang mengakomodasi kebutuhan atau menyiapkan layanan untuk peserta didik yang disabilitas.

Sejumlah Catatan Mengenai Pendidikan Inklusif di Indonesia

Meski mengalami peningkatan, Ashar mengatakan pendidikan inklusif di Indonesia masih memiliki sejumlah catatan. Baru sekian persen atau sekitar 2,5 persen lembaga pendidikan yang memberikan layanan disabilitas, ini menjadi tugas ke depan untuk memperluas akses pendidikan yang ramah bagi penyandang disabilitas dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi mereka.

Kini, hanya ada 40 ribu lebih sekolah inklusi dari total 400 ribu lebih sekolah tingkat dasar dan menengah di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Sementara itu, di pendidikan tinggi terdapat sekitar 184 kampus yang memberikan layanan mahasiswa disabilitas dari 3 ribu lebih kampus di Indonesia.

Dosen Unesa itu mengatakan, pendidikan yang ramah disabilitas urgen diterapkan di lembaga pendidikan dan semua daerah. Alasannya, jumlah disabilitas di Indonesia terbilang tinggi, seperti dikutip dari laman resmi kampus pada Selasa (6/12/2022).

Penyandang Disabilitas di Indonesia Capai 22 Juta Jiwa

Berdasarkan data yang diperoleh Kementerian Sosial (Kemensos) dan BPS 2018, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 21,8 juta jiwa. Angka ini diperkirakan mencapai sekitar 22 juta jiwa sekarang.

Kemudian, BPS melaporkan, pada 2021, jumlah penyandang disabilitas usia sekolah (5-19 tahun) berkisar 2.197.833 jiwa.

Sedangkan yang terdata di Pusat Data dan Informasi Kemendikbudristek ada sekitar 269.398 anak yang mengenyam pendidikan di sekolah luar biasa (SLB) dan sekolah inklusi. Hal tersebut menunjukkan hanya sekitar 12 sekian persen anak yang dilayani kebutuhan pendidikannya.

Perlunya Kesadaran dari Seluruh Pihak

Dalam mewujudkan pendidikan yang ramah disabilitas diperlukan kesadaran dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga daerah lewat regulasinya, kepala sekolah hingga guru juga lewat aturan, inovasi layanan hingga cara belajar dan lingkungan yang ramah di tingkat sekolah, hingga dukungan orang tua dan pihak terkait.

Sebagai informasi, pendidikan inklusi memang amanat UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang memuat 22 hak penyandang disabilitas yang harus dipenuhi. Sekolah menjadi perwujudan pemerolehan hak pendidikan, hak habilitasi dan rehabilitasi, dan hak berekspresi.

Diskriminasi atau perlakuan kurang menyenangkan dari sesama teman kerap muncul ketika penyandang disabilitas mengenyam pendidikan di sekolah umum, ini kembali lagi ke persoalan kesadaran yang perlu ditanamkan di lingkungan sekolah.

Dalam menumbuhkan kesadaran, bisa dilakukan dengan cara sosialisasi dan edukasi lewat berbagai kegiatan. Seperti proyek bersama, perlombaan dan latihan-latihan bahasa isyarat di sekolah.

"Seluruh anak termasuk yang disabilitas punya hak yang sama untuk mendapat pendidikan yang layak dan ramah, punya hak untuk membangun mimpi dan meraih masa depan yang mereka harapkan dan yang menjadi harapan kita bersama," pungkas Ashar.



Simak Video "Halil, Atlet Renang Disabilitas Berjuang Hidup dari Berjualan Tisu"
[Gambas:Video 20detik]
(aeb/nwk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia