2 Inovasi Para Mahasiswa UNS untuk Penderita Diabetes Mellitus

2 Inovasi Para Mahasiswa UNS untuk Penderita Diabetes Mellitus

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikEdu
Rabu, 30 Nov 2022 10:20 WIB
Mahasiswa UNS pencipta plester hidrogel untuk pasien DM, PRIKAIYA
Foto: (Dokumentasi UNS)
Surakarta -

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menciptakan beberapa inovasi bagi penderita diabetes mellitus (DM). Berharap kualitas hidup penderita DM membaik. Apa saja?

Plester Luka Hidrogel dari Batang Ubi Kayu

Inovasi pertama adalah plester hidrogel untuk penyembuhan luka diabetes. Bukan sembarang plester, plester ini dibuat dari limbah batang ubi kayu. Produknya dinamai PRIKAIYA (Plester Hidrogel Berbahan Dasar Batang Ubi Kayu dan Biji Pepaya Muda) sebagai solusi penyembuhan luka diabetes melitus yang terinfeksi bakteri Staphylococcus aureus, demikian dilansir laman UNS, Senin (28/11) yang ditulis detikEdu, Selasa (29/11/2022).

Lima mahasiswa UNS yang menciptakan PRIKAIYA ini adalah Risma Rahmawati dari mahasiswa Program Studi (Prodi) Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS, Annisa Firda Lestari dari mahasiswa Prodi Kimia FMIPA UNS, Putri Regita Anggraini dari mahasiswa Prodi Biologi FMIPA UNS, Alfi Rizki A'yunin dari mahasiswa Prodi Farmasi FMIPA UNS, dan Rahmadita Irma Safitri dari mahasiswa Prodi Farmasi FMIPA UNS.

Mahasiswa UNS pencipta plester hidrogel untuk pasien DM, PRIKAIYAMahasiswa UNS pencipta plester hidrogel untuk pasien DM, PRIKAIYA Foto: (Dokumentasi UNS)

Risma Rahmawati menjelaskan, inovasi PRIKAIYA tersebut hadir dilatarbelakangi data International Diabetes Federation (IDF), pada tahun 2021 bahwa penderita diabetes di Indonesia mencapai 19,47 juta dan diperkirakan akan mencapai 28,57 juta pada tahun 2045.

"Peningkatan penderita DM tentunya akan meningkatkan angka kejadian komplikasi terkait DM. Komplikasi umum yang sering dialami, yaitu ulkus diabetik yang menjadi penyebab utama dari amputasi dan kematian pada penderita diabetes," tutur Risma.

Bahan ubi kayu untuk plester dipilih lantaran data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 total produksi ubi kayu di Indonesia mencapai 19.341.233 ton. Besarnya angka produksi ubi kayu menyebabkan limbah yang dihasilkan juga banyak, salah satunya limbah batang ubi kayu.

Kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah batang ubi kayu menjadi sorotan tersendiri. Padahal batang ubi kayu memiliki kandungan selulosa sebanyak 56,82% yang dapat dimanfaatkan untuk membuat plester hidrogel dengan dikombinasikan biji pepaya muda yang memiliki aktivitas antibakteri yang tinggi pada bakteri Staphylococcus aureus yang ada pada ulkus diabetik.

"Hidrogel dianggap sebagai kandidat pembalut yang ideal karena memiliki permeabilitas dan biokompatibilitas yang baik, kemampuan untuk menyediakan lingkungan lembab untuk perbaikan luka, serta mengatasi kekurangan metode tradisional," imbuh Risma.

Diharapkan dengan adanya PRIKAIYA ini dapat mengatasi berbagai permasalahan, di antaranya sebagai pengganti plester konvensional yang dapat lebih efektif untuk mempercepat penyembuhan luka diabetes.

"Selain itu, plester ini juga diharapkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan karena plester ini dibuat dengan memanfaatkan limbah batang ubi kayu. Serta mampu meningkatkan nilai ekonomis dari limbah batang ubi kayu dan biji pepaya muda yang ketersediaannya sangat melimpah di Indonesia," tandas Risma.

Penelitian ini lolos pendanaan PKM yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Plester Obat dari Daun Afrika

Para mahasiswa UNS pencipta plester obat pasien DMPara mahasiswa UNS pencipta plester obat pasien DM Foto: (Dokumentasi Humas UNS)

Inovasi kedua adalah plester obat dari tanaman daun afrika. Inovasi baru tersebut dilatarbelakangi karena keprihatinan rendahnya kepatuhan mengonsumsi obat bagi para penderita DM.

Inovasi ini dihasilkan 4 mahasiswa S-1 Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS . Inovasi tersebut menggunakan teknologi Microneedle Transdermal Patch yang berisi senyawa 11 beta dan 13 dihydrovernolide dari tanaman daun afrika (Vernonia amygdalina). Mereka adalah Amalia Daryati, Meila Tunjung Suryaningrum, Ahmad Prakoso, dan Ikke Rahmandita, demikian dilansir laman UNS, Senin (28/11) yang ditulis detikEdu, Selasa (29/11/2022).

Para mahasiswa UNS pencipta plester obat pasien DMPara mahasiswa UNS pencipta plester obat pasien DM Foto: (Dokumentasi Humas UNS)

Mereka memanfaatkan daun afrika ini lantaran banyak dijumpai di lingkungan sekitar. Mereka juga ingin penderita DM lebih patuh mengonsumsi obat dengan canggih dan praktis.

"Kepatuhan konsumsi obat merupakan tonggak utama keberhasilan pengobatan penyakit, khususnya Diabetes Melitus. Faktor ketidaktepatan bentuk sediaan yang diberikan dan faktor lupa karena umur menjadi salah satu penyebab menurunnya kepatuhan minum obat. Sediaan yang mudah dipakai dan nyaman serta dapat memberikan efek terapi dalam jangka yang cukup panjang merupakan sebuah solusi yang sangat dibutuhkan saat ini," urai Amalia.

Sistem microneedle, imbuh dia, dapat membuat obat mampu menembus lapisan stratum corneum kulit dan selanjutnya melebur sehingga zat aktif yang di dalamnya dapat keluar dari sistem dan masuk ke peredaran darah.

"Selain itu, senyawa yang sifatnya nonpolar dibuat menjadi sistem nanoemulsi yang dapat meningkatkan permeabilitas senyawa 11 beta dan 13 dihydrovernolide," papar dia.

Sistem microneedle pada penderita DM tersebut diharapkan dapat mengatasi permasalahan ketidakpatuhan pasien dalam mengonsumsi obat utamanya pada terapi jangka panjang. Hasil penelitian yang ini menunjukkan bahwa nanopartikel patch transdermal nanoemulsi menunjukkan penurunan yang lebih baik, yaitu sekitar 60% dari kadar glukosa awal dibanding kelompok dengan patch transdermal non nanoemulsi yang hanya turun sekitar 20%.

Amalia dan timnya tersebut tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta di bawah bimbingan Apoteker Syaiful Choiri, SFarm, MPharmSci.

Wah hebat-hebat ya para mahasiswa UNS ini detikers!



Simak Video "Penampakan Gedung Riset Polsri Terbakar, Bocah Bawa Korek Api Diamankan"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia