Moeldoko Sandang Gelar Doktor Honoris Causa dari Unnes, Ini Kontribusinya

Moeldoko Sandang Gelar Doktor Honoris Causa dari Unnes, Ini Kontribusinya

Devi Setya - detikEdu
Senin, 24 Okt 2022 07:30 WIB
Moeldoko Sandang Gelar Doktor Honoris Causa
Moeldoko Saat Menerima Gelar Doktor Honoris Causa Foto: Humas Unnes
Jakarta -

Universitas Negeri Semarang (Unnes) resmi memberikan gelar Doktor Kehormatan Honoris Causa kepada Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia tersebut mendapat gelar untuk bidang Manajemen Strategi Pembangunan Sumber Daya Manusia, program studi Ilmu Manajemen Pascasarjana Unnes.

Pemberian Gelar Doktor Kehormatan Honoris Causa ini secara resmi dilakukan pada Sabtu (22/10/2022). Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman M.Hum menyampaikan Moeldoko memiliki komitmen besar dalam bidang pengembangan sumber daya manusia sehingga layak mendapatkan gelar kehormatan ini.



Bentuk Apresiasi untuk Cendekiawan Indonesia

Dikutip dari laman resmi Unnes (23/10/2022), Fathur Rokhman mengatakan penganugerahan gelar doctor honoris cuasa ini merupakan bentuk kepercayaan public kepada Unnes untuk memberikan apresiasi kepada putra terbaik bangsa.

Gelar ini diberikan kepada sosok yang pemikiran, karya, dan kompetensinya telah terbukti berperan dalam kemajuan bangsa dan negara.

"Unnes sungguh merasa bangga dan terhormat karena Jenderal TNI Moeldoko berkenan menerima gelar tersebut meskipun beliau sejatinya telah memiliki gelar doktor reguler dari Universitas Indonesia (UI)," kata Rektor Unnes.

Moeldoko mendapatkan gelar ini karena dianggap berhasil merumuskan konsep 3M yaitu Move, Motivate, dan Make Different. Konsep 3M ini memiliki nilai kebaruan sehingga memenuhi bobot akademis tinggi dan layak menjadi referensi dalam kajian kepemimpinan, kebijakan publik, dan pengembangan sumber daya manusia.

"Kita ketahui bersama bahwa Jenderal TNI Dr Moeldoko adalah seorang prajurit yang menghabiskan puluhan tahun waktunya untuk membela dan menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia," papar Rektor.

"Rekam jejaknya jelas menunjukkan bahwa beliau adalah seorang patriot yang tidak memiliki keraguan sekecil apa pun dalam membela dan memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Beliau mendedikasikan hidup bagi bangsa, negara, dan Tanah Air tercinta," lanjut Prof Fathur.

Proses Seleksi yang Ketat

Prof Fathur menjelaskan, saat ini perguruan tinggi dihadapkan perubahan dunia yang begitu cepat pada era Revolusi Industri 4.0. Apalagi ditambah perkembangan teknologi disruptif dan tantangan new normal pasca-pandemi COVID-19.

Banyak upaya yang dilakukan perguruan tinggi untuk menghadapi tantangan ini, salah satunya dengan melakukan kerja sama dan kolaborasi dari berbagai pihak. Perguruan tinggi perlu melibatkan masyarakat yang memiliki kompetensi luar biasa untuk turut serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Salah satu mekanisme pelibatan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas perguruan tinggi adalah melalui penganugerahan gelar doktor kehormatan atau doctor honoris causa kepada tokoh-tokoh yang memiliki kompetensi luar biasa di bidangnya.

Moeldoko bukan dengan mudah mendapatkan gelar kehormatan ini karena ada kriteria ketat yang diberlakukan pihak Unnes. Kriteria tersebut mencakup kriteria kuantitatif-objektif dan kriteria kualitatif-subjektif.

Selain kriteria yang ketat, penganugerahan gelar doctor kehormatan ini juga melalui proses panjang yang diawali dengan usulan dari program studi S3 yang terakreditasi A.

"Usulan tersebut kemudian dikaji oleh tim panel yang terdiri dari para ahli di bidang yang bersangkutan. Hasil kajian Tim Panel tersebut kemudian didalami kembali oleh Tim Promotor yang terdiri dari para pakar yang sesuai dengan bidangnya. Hasil kajian yang dilakukan Tim Promotor inilah yang kemudian disampaikan ke senat universitas sebelum kemudian ditetapkan Rektor," kata Prof Fathur.

Konsep Pengembangan SDM

Dr Moeldoko merupakan seorang cendekiawan yang telah berhasil merumuskan dan mengaplikasikan konsep pengembangan sumber daya manusia.

Berbagai terobosan telah dilakukan Moeldoko selama menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Panglima Tentara Nasional Indonesia, dan juga ketika menjadi Kepala Kantor Staf Kepresidenan Republik Indonesia.

Pada kesempatan ini, Moeldoko memaparkan orasi ilmiahnya yang berjudul "Membangkitkan Manusia Tangguh: Strategi Pembangunan Manusia Indonesia dalam Menghadapi Tantangan Nasional dan Global Menuju Indonesia Emas 2045".

Moeldoko menerapkan M-Leadership saat menjadi pimpinan. Ini adalah kombinasi kepemimpinan yang melibatkan Militer, Bisnis, dan Sipil.

Model kepemimpinan 3M ala Moeldoko:

Dalam kesempatan ini, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko menjabarkan 3M yakni Move, Motivate, and Make A Difference.

1. "Move" sebagai lompatan-lompatan penting untuk mencapai kemajuan

2. "Motivate" untuk melawan rasa takut pada diri para pemimpin

3. "Make a difference" berupa langkah-langkah inovasi yang bisa dilakukan secara nyata.

Deretan Terobosan Moeldoko

Adapun ketika menjadi Kepala Staf Angkatan Darat, Moeldoko melakukan terobosan untuk mengatasi kecilnya rasio personel TNI dengan beban pelaksanaan area tugas.

Beban tugas anggota TNI baik terhadap luas wilayah maupun jumlah jiwa warga negara jauh lebih besar dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Rasio berdasarkan wilayah yaitu 1 banding 5,79 kilometer dan rasio berdasarkan jiwa adalah 1 banding 722 jiwa merupakan tantangan yang besar. Oleh Jenderal TNI Moeldoko tantangan tersebut berhasil disiasati melalui pengembangan kapasitas prajurit.

Ketika menjadi Panglima TNI, Jenderal Moeldoko juga berhasil melakukan restrukturisasi sumber daya manusia dengan meningkatkan disiplin, profesionalisme, dan kesejahteraan prajurit. Reformasi internal yang dilakukannya membuat TNI menjadi lembaga yang paling dipercaya publik.

Capaian ini sekali lagi dilakukan Moeldoko dengan mengembangkan kapasitas sumber daya manusia dengan aneka strategi dan pendekatan yang dirumuskannya.

Sementara saat bertugas sebagai Kepala Staf Presiden Republik Indonesia, Moeldoko memiliki terobosan yang diwujudkan dengan mendirikan Sekolah Staf Kepresidenan sebagai inkubator kepemimpinan nasional untuk melahirkan calon pemimpin bangsa di masa depan.



Simak Video "Melihat Langsung Penganugerahan Gelar Dr Hc untuk Puan dari PKNU Korsel"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia