Cerita Mahasiswa Unesa Kuliah di Jepang, Belajar Budaya hingga Kedisiplinan

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 03 Okt 2022 10:30 WIB
Tiga mahasiswa Universitas Negeri Surabaya berhasil merasakan belajar di Jepang
Foto: Doc. Unesa/Mahasiswa Unesa kuliah di Jepang
Jakarta -

Negara Jepang menjadi salah satu destinasi favorit program pertukaran mahasiswa Indonesia. Negara yang dikenal dengan budaya tepat waktu dan disiplin ini memiliki daya tarik bagi mahasiswa Indonesia termasuk tiga mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Tiga mahasiswa Unesa tersebut adalah Lintang Novitasari, Dinda Ayu Pratiwi, dan Cynthia Lailanisa Soegiono. Mereka adalah mahasiswa prodi S1 Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS).

Lolos Program NUPACE

Ketiga mahasiswa Unesa berangkat ke Jepang untuk belajar setelah dinyatakan lolos dalam program NUPACE (Nagoya University Program Academic Exchange).

NUPACE bertujuan untuk menjalin persahabatan, internasionalisasi melalui pendidikan, dan memotivasi pelajar atau mahasiswa Indonesia untuk belajar atau melanjutkan studi di Jepang.

Salah satu peserta, Lintang mengatakan bahwa program tersebut berlangsung April-Agustus 2022.

Selama kurang lebih lima bulan di sana, Lintang dan dua temannya banyak belajar dan mendapatkan pengalaman baru, terutama di Kota Nagoya, kawasan tempat tinggal mereka di sana.

Takjub dengan Budaya dan Kebersihan Kota

Selama di Negeri Matahari Terbit, Lintang mengaku mendapat kesan yang menakjubkan tentang aspek lingkungannya.

"Takjub sekali dengan kebersihan kotanya. Bersih banget. Kalau mau buang sampah harus pisah-pisah dan ada jadwalnya sendiri," ucap Lintang dikutip dari laman Unesa, Minggu (2/10/2022).

Selain itu, budaya jalan kaki di Jepang juga menjadi salah satu budaya yang membuat Lintang dan teman-temannya terkejut.

"Maklum kalau di Indonesia, ke mana-mana, jauh dekat, bahkan ke warung saja terbiasa menggunakan sepeda motor," ucap Lintang.

Di Jepang sendiri, orang jarang menggunakan kendaraan pribadi, justru lebih memilih menggunakan transportasi umum yang tentunya dari sisi keamanan, kebersihan dan fasilitas yang sangat memadai.

"Kalau misal kita ketinggalan kereta, tiketnya tidak hangus, masih bisa kita gunakan untuk kereta selanjutnya dengan tujuan yang sama," imbuhnya.

Harga Makanan Jadi Murah Jelang Malam Hari

Lintang juga bercerita bahwa di Nagoya, semakin malam, harga barang atau makanan di supermarket semakin banyak diskonnya.

Mulai jam 6 sore, makanan mulai diskon 10-20 persen. Semakin malam, diskon semakin bertambah secara bertahap sampai 50 persen.

"Kita kalau mau belanja ya pas malam, biasanya lebih murah dan bisa lebih hemat," jelasnya.

Hal lain yang menyorot perhatian adalah tingkat keamanan di Jepang yang bagus. Hal ini karena sistem keamanan yang terkoneksi dengan baik.

Lintang menceritakan, ada CCTV di mana-mana sehingga ketika ada keperluan malam di luar pun aman. Namun tetap saja, semua warga diimbau untuk tetap waspada.

Hal ini tentu berbeda dengan di Indonesia, terlebih tentang aturan privasi. Di sana, orang tidak bisa foto sembarangan, apalagi dalam frame tertangkap wajah atau orang lain tanpa sengaja.

Etika di sana, lanjut Lintang, harus meminta izin terlebih dahulu. Jika tidak, foto itu bisa dihapus.

Pendidikan yang Disiplin dan Kompetitif

Sementara itu, dari aspek akademik juga memiliki perbedaan. Hal ini yang membuat tiga mahasiswa Unesa seperti dicambuk semangatnya.

"Pendidikan di Jepang tidak mentolerir segala macam kecurangan seperti nyontek, ketidakdisiplinan seperti jam karet misalnya. Kagum sih, kompetitif, tetapi rajin dan disiplin. Jujur dan santunnya itu lho. Bikin gimana gitu," papar Lintang.

Bahkan rata-rata guru di Jepang saat masuk ke dalam kelas biasanya langsung memberikan tes atau pertanyaan berkaitan dengan materi yang akan diberikan. Sehingga, para mahasiswa dituntut untuk mempelajari materi sebelum kelas dimulai.

Selain itu, budaya membaca juga sangat tinggi di Jepang. Setiap tugas yang diberikan akan berhubungan dengan membaca jurnal, buku atau artikel dan sebagainya.

"Dari sana saya membawa banyak bekal dan pengalaman; santun, rajin dan disiplin itu bukan pilihan, tetapi kewajiban. Selain itu, belajar bukan hobi, tetapi juga kewajiban," ungkap Lintang.

Dia juga menuturkan bahwa di Jepang, mahasiswa sangat sibuk belajar sampai susah mencari waktu untuk berleha-leha.

Berbeda dengan banyak mahasiswa di Indonesia, yang sibuk berleha-leha sampai lupa belajar. Menurut Lintang bagian ini harus bisa diubah perlahan.

"Bukan memuji budaya lain, tetapi membudayakan kembali nilai-nilai disiplin, rajin, gotong royong dan sebagainya yang sebenarnya sudah ada dalam akar budaya kita sendiri. Hanya nilai ini belum terinternalisasi dengan baik sehingga belum menjadi perilaku dalam kehidupan sehari-hari," tutur mahasiswa prodi Sastra Inggris Unesa tersebut.



Simak Video "Motif Pembunuhan Mahasiswa Unpad: Sakit Hati Foto Aib Akan Disebar"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/kri)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia