Kisah Hadi Subhan, Dulu Dilarang Masuk FH Unair Kini Guru Besar Hukum Kepailitan

Devi Setya - detikEdu
Jumat, 12 Agu 2022 16:00 WIB
Prof Hadi Subhan
Prof Hadi Subhan, Guru Besar Hukum di Unair Foto: Humas Unair
Jakarta -

Sosok bernama Hadi Subhan ini bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang sedang mengejar cita-cita. Ia baru saja dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Hukum di Universitas Airlangga (Unair) padahal dahulu sempat dilarang untuk sekolah hukum.

Dosen kelahiran Tegal ini di kalangan koleganya terkenal memiliki jiwa progresif, pandangan luas, visioner dan sangat peduli terhadap kualitas pendidikan. Perjalanannya di dunia pendidikan hingga bisa sampai di posisi saat ini bukanlah langkah yang mudah. Namun hal itu tak membuatnya gentar.

Dilansir dari situs resmi Universitas Airlangga Hadi yang lahir 6 april 1973 ini membuktikan dirinya bisa menyelesaikan pendidikan S1 hingga S3 di Unair. Gelar profesor pun kini resmi disandangnya.

"Kalaupun saya donor darah, mungkin darah saya tidak berwarna merah, tetapi biru kuning karena sangat UNAIR-nya hehe,'' celetuk Prof Hadi.

Hadi yang juga sebagai Direktur Kemahasiswaan UNAIR itu menyelesaikan S3 Bidang Hukum Kepailitan. Saat proses pengukuhan ini Prof Hadi menyampaikan orasi mengenai karakteristik hukum kepailitan Indonesia dan Perkembangannya sebagai Instrumen Hukum Recovery Pembayaran Utang.

Di samping itu, ia juga mengingatkan hakikat tanggung-jawab guru besar yakni shahihnya keilmuan dan kebermanfaatan ilmu bagi sivitas akademika maupun masyarakat umum.

Satu-satunya guru besar hukum kepailitan di Indonesia

Guru Besar FH Unair ini menyatakan bahwa kunci sukses seorang pendidik yang baik adalah dengan terus menimba ilmu. Setelah ilmu didapatkan, maka proses selanjutnya adalah membagikan ilmu ini kepada orang lain.

Untuk diketahui, Hadi merupakan satu-satunya guru besar Hukum Kepailitan di Indonesia dan hanya di Unair Surabaya. Sebelum dikukuhkan sebagai guru besar FH Unair, Prof Hadi sudah menyelesaikan ratusan jurnal dan juga karya ilmiah.

Saat menempuh studi S1, Prof Hadi termasuk mahasiswa berprestasi yang berhasil lulus hanya dalam 3,5 tahun dengan IPK 3,85.

Pernah dilarang sekolah di bidang hukum

Kesuksesan Hadi dalam karirnya ini tidak lepas dari doa dan restu kedua orangtuanya. Meskipun sempat mendapat larangan dari sang ayah untuk melanjutkan sekolah di bidang hukum.

Setelah lulus dari lMAN Yogyakarta 1, Jurusan MAPK tahun 1991, Hadi mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Kemudian Hadi melihat namanya lolos masuk Fakultas Hukum Unair melalui pengumuman di koran.

Kabar baik ini ternyata tak disambut hangat oleh ayah Prof Hadi yang justru berpesan jika lolos FH jangan dimasuki. Diungkapkan Prof Hadi, ayahnya berpendapat tanggung jawab hakim itu berat.

Hal ini ternyata tak menyurutkan niat Prof Hadi untuk tetap menimba ilmu. Dengan niat yang baik dan optimis, ia tetap nekat berangkat ke Surabaya untuk melakukan daftar ulang. Modal untuk transportasi dan uang daftar ulang pun ia pinjam dari pamannya.

"Tapi karena saya yakin orang tua itu representasi dari sang khalik, ridhonya Tuhan tentu berbanding lurus sama ridhonya orang tua. Akhirnya saya pulang minta ridho, dan untungnya dibela emak (ibu) saya. Dengan kalimat pembelaan seperti ini, biarlah Subhan kuliah di Unair siapa tahu nanti jadi dosen Unair,'' ungkap Prof Hadi.

Doa orangtuanya inilah yang berhasil menembus langit. Kini Hadi benar-benar menjadi dosen di Unair, dan bahkan berkesempatan menjadi guru besar.

"Oleh karena itu, momen ini saya dedikasikan untuk almarhum ayah. Beliau yang mendidik saya cinta keilmuan, tidak kalah pula saya hadiahkan untuk emak saya sebagai sosok yang senantiasa mendoakan saya," ujar Prof Hadi penuh haru.

Tak lupa, ia juga menyebutkan beberapa nama orang-orang yang selalu mendukung karirnya. Seperti sang istri yang disebut selalu membersamainya dalam suka duka termasuk sejak sebelum menjadi dosen. Kemudian ia juga menyebutkan nama salah satu orang yang berjasa dalam hidupnya.

"Ketika saya masih dalam pengembaraan, ada seseorang yang memungut saya dari belantara kehidupan, yaitu senior saya Aryo Wijanarko, yang mungkin tanpa beliau jalan kehidupan saya lain dari saat ini," tutup Prof Hadi yang juga pernah menguji Disertasi S3 di Universitas Leiden Belanda.



Simak Video "Jurusan Sepi Peminat di Unair, Apa Saja?"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia