Inspirasi dari Aulia, Maba Tunanetra UGM yang Merantau Sejak SD

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 01 Agu 2022 20:36 WIB
Insipirasi Maba Tunanetra UGM yang Merantau Sejak SD
Foto: Doc. UGM/Inspirasi dari Aulia, Maba Tunanetra UGM yang Merantau Sejak SD
Jakarta -

Memiliki keterbatasan fisik tidak mengecilkan hati Aulia Rachmi Kurnia untuk meraih pendidikan tinggi dan menjadi mahasiswa UGM. Kini, cita-citanya itu pun telah tercapai.

Perjalanan Aulia untuk sampai di perguruan tinggi tentu bukan hal yang mudah. Selain karena tunanetra, orang tua Aulia berada jauh di Jakarta, dan bekerja sebagai buruh pabrik kayu.

Anak pertama dari dua bersaudara itu berkisah bahwa dirinya tak lagi dapat melihat sejak berusia 5 tahun. Saat itu dia demam tinggi dan mengalami kesalahan pemberian obat. Pada waktu itu dia kehilangan kesadaran selama 3 minggu.

Ketika akhirnya tersadar, Aulia mengatakan bahwa penglihatannya tak lagi optimal, penglihatannya kabur. Kondisi ini pun berlanjut sampai kelas 1 SD. Dia kehilangan penglihatan salah satu matanya. Situasi tersebut berlangsung tanpa titik terang hingga penglihatannya benar-benar hilang satu tahun kemudian.

"Saya mulai tidak bisa melihat itu sejak kelas 2 SD," kenangnya pasca upacara penerimaan mahasiswa baru UGM (1/8/2022) dikutip dari laman kampus.

Perempuan kelahiran Jakarta, 17 Desember 1998 ini mengaku pada waktu itu tidak merasa 'gimana-gimana'.

"Seperti anak kecil pada umumnya, tetap bermain. Bahkan, naik sepeda karena nggak bisa gowes ya pakai kaki aja," kata dia.

Situasinya waktu itu mendorong keluarga untuk memutuskan bahwa dirinya perlu berhenti sekolah dulu. Sejak tahun 2006, dia tak lagi sekolah dan fokus berobat. Meski berbagai upaya sudah dilakoni, hasil tetap nihil. Pada akhirnya keluarga pun ikhlas dengan takdir tersebut.

Aulia baru kembali ke sekolah pada 2014. Dia juga tak ragu untuk merantau dari orang tua di Jakarta.

"Mulai 2014 saya lanjut ke salah satu SLB di Yogyakarta yakni SLB Yaketunis dari bangku SD hingga SMP. Itu awalnya ayah-ibu kurang setuju karena kan jauh dari rumah, namun om dan tante menyakinkan kami dan buktinya saya berhasil mandiri," tuturnya.

Selepas bangku SMP, dia lulus seleksi jalur afirmasi di SMAN 1 Sewon Bantul. Di jenjang putih abu-abu itu Aulia mengaku tak merasakan kesulitan untuk berbaur. Dia merasa diterima dengan baik dan banyak teman yang membantunya sampai lulus.

Keterbatasan fisik Aulia juga tidak menghalanginya berprestasi secara nonakademik. Dia bahkan pernah meraih juara 1 cabor goalball atau bola gawang dalam Pekan Olahraga Daerah (PORDA) DIY tahun 2019 dan juara 3 di Kejuaraan Goalball Tingkat Nasional tahun 2018.

Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan juga mendorongnya mengikuti ujian UTBK dengan pilihan pertama UGM. Meski pada kesempatan tersebut tidak berhasil, Aulia akhirnya lulus seleksi melalui jalur CBT UGM. Mahasiswa baru Sastra Indonesia itu mengaku hobi menulis.

"Membuat puisi jadi senang sekali akhirnya bisa diterima di Sastra Indonesia karena di situ saya bisa semakin tertempa," kata dia.

Dia berharap bisa menjalani perkuliahan dengan lancar dan optimistis bisa lulus dengan baik.

"Harapannya dengan kuliah di UGM bisa sukses dan lebih baik lagi ke depannya. Meski dengan kondisi terbatas, yang penting tetap semangat. Jangan pernah menganggap diri kita tidak bisa, kita bisa melakukan apa yang orang umumnya lakukan walau dengan keterbatasan," pesan Aulia.



Simak Video "Perjuangan Ketut Budiarsa, Disabilitas Tulang Rapuh di Bali "
[Gambas:Video 20detik]
(faz/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia