Jadi Kepala Sekolah Saat Masih 25 Tahun, Ini Sosok Rani Amrista

Devi Setya - detikEdu
Senin, 01 Agu 2022 11:00 WIB
Rani Amrista yang Jadi Kepala Sekolah Saat Masih 25 Tahun
Rani Amrista yang Jadi Kepala Sekolah Saat Masih 25 Tahun. Foto: Humas Media Keuangan Kemenkeu
Jakarta -

Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Rani untuk menjadi kepala sekolah di usia belia. Namun cita-cita menjadi tenaga pendidik mengantarkan ia untuk duduk di posisi kepala sekolah saat usianya baru 25 tahun.

Adalah Rani Amrista Wijayanti, wanita yang kini berprofesi sebagai Kepala Sekolah SMP Global Madani Bandar Lampung. Sebelumnya, ia dikenal sebagai Kepala Sekolah SD Global Madani pada 2011, saat itu usianya baru menginjak 25 tahun.

Usia yang sangat muda untuk mengemban tanggung jawab sebagai kepala sekolah tak menjadikan Rani pesimis. Rani memang sudah lama bercita-cita mengabdikan dirinya melalui karir di bidang pendidikan.

Dilansir dari Media Keuangan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Rani adalah salah satu penerima beasiswa LPDP. Wanita berhijab yang akrab disapa Miss Rani ini diamanahkan sebagai Sepala Sekolah Menengah Pertama di tahun 2018 setelah lulus dari S2-nya.

Berikut kisah perjalanan Rani mengejar cita-cita:

Sudah lama ingin menjadi guru

Mendapatkan amanah yang besar di usia yang cukup muda menjadi tantangan tersendiri bagi Rani. Ia merasa bersyukur telah mengambil berbagai tantangan demi mengejar cita-cita.

Dimulai dari mengikuti beasiswa LPDP hingga menjadi kepala sekolah di SMP Global Madani Bandar Lampung, kini perkembangan karier Rani di dunia pendidikan makin cemerlang.

Guru bahasa Inggris sekaligus kepala sekolah ini punya prinsip yang selalu dipegangnya, 'if there's good opportunity, take it!'

Rani berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya berprofesi sebagai guru sedangkan ibu Rani berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Cita-citanya menjadi guru berawal saat Rani bergabung dalam sebuah organisasi yang mengharuskannya melakukan kegiatan mengajar ke para anggota junior.

"Di momen itu, saya melakukan sharing ke adik kelas, mengajarkan sesuatu (untuk) bisa membuat mereka mengerti apa yang saya sampaikan. Itu (saya) feeling so contented, merasa sangat bahagia juga melihat mereka bisa memahami apa yang kita sampaikan dan saat itu saya merasakan I want to be a teacher," beber Rani.

Saat mengajar, Rani selalu menerapkan kegiatan yang menarik agar anak-anak tidak takut dengan pelajaran bahasa Inggris. Hal ini terbukti efektif, Rani berhasil menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi para siswanya.

Menjadi kepala sekolah di usia 25 tahun

Di tahun 2011 saat berusia 25 tahun, Rani telah diberi amanah menjadi Kepala Sekolah di SD Global Madani. Jabatan ini tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri baginya.


Apalagi SD Global Madani saat itu baru saja dibuka di tahun yang sama saat Rani dilantik. Ini tentu saja menambah beban bagi Rani yang masih tergolong belia.

"Saat di SD itu kita membentuk sekolah yang benar-benar baru; sistem, culture, bekerja sama dengan para pengelola. Untuk mendapatkan trust dari masyarakat (pada) sekolah baru kami, kami door to door mensosialisasikan sekolah ke TK-TK," ungkap Rani.

Saat pandemi COVID-19 melanda di awal tahun 2020, sebagai kepala sekolah Rani kembali dihadapkan pada situasi yang luar biasa. Ia bahu-membahu bersama timnya, melakukan berbagai inovasi mulai dari perubahan paradigma pembelajaran, pemanfaatan teknologi, peningkatan profesionalisme guru dengan metode belajar online, hingga meminta saran dari para orang tua murid agar kegiatan belajar dari rumah atau school from home dapat berjalan secara efektif.

Melanjutkan studi S2 lewat LPDP

Rani yang juga merupakan ibu dari seorang putri ini termotivasi melanjutkan pendidikan S2-nya. Ia berharap dengan pendidikan yang semakin tinggi, ia dapat memiliki wawasan lebih luas untuk dibagikan kepada para muridnya.

"Apalagi saya seorang guru. Kalau saya punya banyak wawasan, pasti anak-anak akan lebih maju ke depan," tutur Rani.

Rani pun tertarik melanjutkan studinya melalui beasiswa LPDP. Menurut Rani, yang membedakan beasiswa LPDP dengan beasiswa lainnya adalah para calon penerima beasiswa LPDP dituntut untuk berkompetisi dengan diri mereka sendiri, bukan berkompetisi dengan orang lain. Sehingga, para pelamar beasiswa LPDP didorong untuk memantaskan diri terlebih dahulu agar lolos.

Berbagai pengalaman unik pun dialami Rani saat melanjutkan pendidikan di Belfast, Irlandia Utara. Ia mengaku sempat mengalami culture shock karena perbedaan gaya sekolah dengan di Indonesia.

"Pendidikan di sana sangat berbeda sekali. Kelasnya lebih sedikit, tapi harus belajar mandiri. Jadi kami dituntut untuk belajar secara kreatif dan inovatif," terang Rani.

Lulus dari pendidikan masternya, ilmu pembelajaran kreatif dan inovatif inilah yang kemudian dibawa Rani untuk diterapkan di sekolah tempat ia mengabdi.

Aktif dalam berbagai kegiatan

Selain mengajar di sekolah, Rani juga aktif di berbagai komunitas di bidang pendidikan. Salah satunya adalah komunitas Ruang Jingga. Komunitas Ruang Jingga adalah sebuah komunitas yang melakukan edukasi cinta lingkungan melalui gerakan mengurangi sampah plastik.

Salah satu kegiatan dari komunitas ini adalah membagikan tumbler kepada para siswa khususnya di kota Lampung untuk mengganti botol minum yang tidak layak sekaligus mengkampanyekan diet plastik melalui gerakan seribu tumbler for Lampung. Bentuk kampanye ini dikemas secara menarik melalui kegiatan bercerita dengan media tangan boneka, storytelling, kelas inspirasi dan juga melalui kegiatan bekerja sama dengan komunitas-komunitas lain.

Rani menyebut selain berperan mendukung gerakan cinta lingkungan, komunitas ini juga melakukan kegiatan donasi. Saat ini Komunitas Jingga telah berhasil mendonasikan lebih dari 5.000 tumbler.

Generasi muda harus berani bermimpi dan mengejar cita-cita

Kepada para generasi muda yang sedang meraih cita-citanya, Rani berpesan untuk terus berani bermimpi dan beraksi. "Beranikanlah diri untuk bermimpi tinggi maka impian-impian itu akan memandumu berperilaku. Cari inspirasi sebanyak-banyaknya dari manapun dan dimanapun kamu berada", ujar Rani.

Selain berani bermimpi, Rani juga menitipkan pesan agar kaum muda tak segan untuk melakukan aksi. Mulai dari melakukan hal-hal positif yang sederhana seperti membaca, aktif berorganisasi, dan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kompetensi diri.

"Do something today that your future self will thank you for, pesan Sean Patrick Flanery. Lakukanlah sesuatu hal positif yang kelak hal itu akan membuatmu merasa bersyukur telah melakukannya," pungkasnya.



Simak Video "Legislator Sentil Penerima LPDP Makan Uang Rakyat Tapi Ogah Kerja di RI"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/nah)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia