Seleksi Disabilitas UNESA Kedatangan Peserta dari Aceh, Naik Bus Berhari-hari!

Nikita Rosa Damayanti - detikEdu
Senin, 25 Jul 2022 11:30 WIB
Peserta jalur mandiri disabilitas UNESA
Peserta jalur mandiri khusus disabilitas UNESA dari Aceh ke Surabaya naik bus berhari-hari. Foto: Dok. UNESA
Jakarta -

Pengalaman unik turut mewarnai tahap wawancara jalur mandiri Universitas Negeri Surabaya (UNESA) hari Kamis (21/7/2022) itu. Salah satu peserta sampai rela naik bus berhari-hari dari Aceh hingga Surabaya.

Dilansir dari laman resmi UNESA, jalur mandiri ini diikuti oleh 54 peserta disabilitas. Namun, hanya 24 peserta yang lolos ke tahap wawancara. Diselenggarakan secara offline di Kampus Lidah Wetan UNESA, Surabaya, peserta dari berbagai daerah datang untuk mengikuti tahap wawancara ini.

"Teman-teman peserta ini ternyata tidak hanya dari Surabaya, tetapi ada juga yang dari Balikpapan, Samarinda dan Aceh," terang Awang Dharmawan selaku Ketua Divisi Penerimaan Mahasiswa Baru, Satuan Admisi UNESA dikutip dari laman UNESA.

Tutur Awang, animo untuk berkuliah di UNESA sangat tinggi. Bahkan, ada peserta dari Aceh yang rela menempuh perjalanan darat. Peserta itu menaiki bus selama empat hari tiga malam hanya untuk mengikuti seleksi di UNESA. Sebagai apresiasi, UNESA tentu memberikan pendampingan yang maksimal.

"Tentu teman-teman disabilitas ini kita minta ada pendampingnya masing-masing. Selain untuk memastikan keselamatan peserta juga sebagai penyemangat peserta di lokasi seleksi," paparnya.

Unik dan insipiratif, tidak semua universitas memiliki jalur khusus disabilitas dalam penerimaan mahasiswa baru. Setiap peserta jalur khusus disabilitas atau Tes Masuk UNESA Berbasis Komputer (TMUBK) disabilitas akan diseleksi secara ketat melalui dua tahap.

Tahap pertama yaitu tes tulis berbasis komputer yang dilaksanakan secara online dan tahap kedua yaitu tes wawancara atau uji keterampilan. Sepanjang ujian wawancara ini, tiap peserta didampingi oleh relawan hingga sampai ke ruangan seleksi.

Relawan Diseleksi Ketat

Nurul Maulida, relawan PSLD UNESA yang membantu mengarahkan peserta di lokasi mengatakan bahwa tidak sembarang orang bisa menjadi relawan seleksi disabilitas. Relawan tentu harus memiliki kemampuan berinteraksi dengan peserta dan harus melewati pelatihan.

"Kami benar-benar harus melayani mereka dengan sepenuh hati. Ada cara atau prosedurnya sendiri. Relawan biasanya dibekali keterampilan lewat pelatihan oleh Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) UNESA," terang mahasiswa PLB angkatan 2020 itu.

Apresiasi Orang Tua

Orang tua M. Dafino, peserta penyandang autis, mengatakan apresiasinya kepada UNESA atas komitmen membuka akses pendidikan bagi setiap orang. Ia bertutur bahwa setiap orang sejatinya sama dan berhak mendapatkan fasilitas pengembangan diri.

"Kita semua adalah sama. Sama-sama sempurna di hadapan Tuhan. Setiap orang juga punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Saya percaya, anak-anak yang lahir dengan keterbatasan di bidang satu pasti memiliki kelebihan di bidang lainnya. Ini yang perlu dikembangkan lebih jauh, salah satunya lewat kuliah di sini. Semoga anak saya bisa lolos dan kuliah di sini," harapnya.

Selain jalur khusus disabilitas, UNESA juga membuka tiga jalur mandiri lainnya, yaitu kelompok non-tes UTBK, kelompok prestasi, dan TMUBK sarjana dan sarjana terapan.



Simak Video "Nadiem Sentil Tes Mandiri PTN, Sebut Tak Ada Standar Transparansi"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/nah)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia