Cara Ibu Maudy Ayunda Memilih SD untuk Anak, Survei hingga Adaptasi

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 05 Jun 2022 17:00 WIB
Ibunda Maudy Ayunda Mauren Jasmedi
Cara memilih SD untuk anak dari pengalaman ibu Maudy Ayunda. Foto: Instagram @muren.s
Jakarta -

Jauh sebelum Maudy Ayunda galau memilih S2 Stanford University atau Harvard University, ibunya juga sempat galau memilihkan sekolah terbaik bagi sang putri sulung. Ibu Maudy Ayunda, Mauren Jasmedi, sempat berbagi kisah bagaimana sang anak akhirnya pindah sekolah saat kelas 2 SD. Bagaimana cara memilih SD untuk anak menurut ibu Maudy Ayunda sehingga nyaman belajar?

Mauren menuturkan, Maudy Ayunda semula belajar di SD ternama sebelum meneruskan pendidikan di sebuah SD swasta lain yang saat itu belum cukup dikenal. Pertimbangan Mauren untuk memindahkan anak ke sekolah lain muncul saat melihat anaknya sedang menghafalkan kecamatan. Baginya, pembelajaran dari kurikulum tersebut kurang tepat.

"Saat anak saya TK dan sampai kelas 2 SD, mereka bersekolah di sekolah berkurikulum nasional. Awalnya, sama sekali tidak terpikir pindahkan anak dari sekolah tersebut. Sampai suatu saat, ketika saya menemani anak-anak belajar, saya kecewa atas materi pembelajaran kala itu, di mana murid diminta menghapal nama-nama kecamatan di Jakarta, dan materi-materi hafalan lain yang saya anggap kurang tepat . Sejak itu, ada saja materi belajar anak-anak yang membuat saya tidak nyaman," kisahnya, dikutip dari akun @muren.s, Senin (5/6/2022).

Berangkat dari momen tersebut, Mauren menuturkan, ia mulai mencari sekolah lain yang sekiranya akan cocok untuk Maudy. Berikut kisahnya:

Cara Memilih SD untuk Anak dari Ibu Maudy Ayunda

1. Survei ke Sekolah

Mauren bercerita, ia datang ke sejumlah sekolah yang menarik perhatiannya untuk observasi atau melakukan pengamatan selama beberapa hari. Di sekolah tujuan, ketimbang masuk ke ruang kantor sekolah, Mauren memilih untuk mengecek kantin dan mengintip situasi sejumlah kelas.

"Saya tidak masuk ke ruang kantor, tapi saya coba duduk di kantin, mendengar murid-murid berceloteh, mengintip proses belajar di beberapa kelas, dan itu saya lakukan setiap hari di beberapa SD," tuturnya.

2. Cek Proses Pembelajaran

Mauren menemukan satu sekolah yang terhitung baru dan tidak besar. Fasilitasnya belum cukup banyak atau lengkap, serta angkatannya masih sedikit. Di sekolah tersebut, satu kelas hanya berisi 9 siswa.

Ia mengaku saat itu berpikir, bisa jadi sekolah ini tidak menarik bagi sebagian orang. Namun menurutnya, ia jatuh hati saat melihat para siswa berbicara santun kendati berbahasa asing. Di samping itu, proses pembelajaran juga berlangsung dua arah.

"Murid-muridnya terlihat sangat santun, walau berbicara dalam bahasa asing. Guru-guru terlihat begitu dekat dengan murid-murid. Saat saya mengintip di kelas-kelas, terasa proses belajar yang menyenangkan, melibatkan murid secara aktif, berkomunikasi dua arah, dan kelas terlihat penuh semangat dan kegembiraan," tutur Mauren.

"Uniknya, walau bukan sekolah Islam, terlihat beberapa anak-anak muslim sholat bersama guru agama di sekolah tersebut," imbuhnya.

3. Survei Bersama Anak

Mauren membawa Maudy ke sekolah tersebut keesokan harinya tanpa membahas soal rencana memindahkan sang anak. Semula, ia berniat untuk menunjukkan sekolah tersebut pada Maudy.

Rupanya, sambung Mauren, Maudy langsung memutuskan pindah sekolah.

"Keesokan harinya, saya sudah tidak sabar mengajak anak saya berkunjung ke sekolah tersebut (terpaksa bolos). Dan tepat di hari survei itu, hanya dalam 1 hari, sulungku bahkan sudah berkeputusan tidak lagi ingin bersekolah di sekolah lama, padahal kami hanya berkeliling sekolah yang kecil dan akhirnya diizinkan trial hadir di dalam kelas hingga kelas berakhir," kisahnya.

4. Mengecek Adaptasi Anak

Mauren menuturkan, Maudy sempat kebingungan saat mencoba belajar di kelas karena belum mampu berbahasa Inggris. Namun, sang anak meyakinkannya bahwa akan menerima tantangan belajar bahasa baru dan risiko mengulang kelas.

"Saya baru menyadari bahwa dia kebingungan di dalam kelas itu karena belum mampu berbahasa Inggris dengan baik. Namun dasarnya pejuang tangguh, dan penyuka tantangan, anakku menyakinkan saya saat itu, bahwa ia siap menerima tantangan harus belajar bahasa baru dan materi pelajaran yang mungkin bisa membuat dia mengulang kelas, asalkan tetap bisa bersekolah di SD tersebut," kenang Mauren.

"Di pertengahan kelas 2 SD, sulungku mantap merelakan sekolah lamanya, yang memberinya lebih banyak fasilitas, dan berhalaman luas, demi sekolah barunya, yang walau kecil namun telah mampu mencuri hati kami teramat dalam. Di sanalah akhirnya anak-anak saya menghabiskan sekolah dasar hingga masa SMP mereka usai (9 tahun)," imbuhnya.

Mauren menuturkan, ia dan suami juga melalui diskusi panjang bersama anak-anaknya untuk memilih SMA tujuan. Simak kisah Maudy Ayunda memilih SMA lebih lanjut DI SINI.



Simak Video "Diguyur Hujan Deras, Atap 2 Ruang Kelas SD di Cianjur Ambruk"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia