Dirjen Vokasi Sebut Pendidikan di RI Alami Stagnasi 6 Bulan, Ini Alasannya

Kristina - detikEdu
Rabu, 01 Des 2021 15:30 WIB
Wikan Sakarinto D3 menjadi D4
Dirjen Vokasi, Wikan Sakarinto. Foto: Dok. Pribadi
Jakarta - Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Vokasi) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Wikan Sakarinto, menyebut terjadi stagnasi dalam pendidikan di Indonesia.

Masalah serius ini, kata Wikan, merupakan akibat dari pembelajaran yang terhambat selama pandemi COVID-19. Menurut Wikan stagnasi itu berlangsung selama sekitar enam bulan.

"Setelah kita lakukan survei dan penelitian secara cepat tapi tetap dengan akurat, akuntabilitas tinggi, ternyata pendidikan kita ini ada stagnasi selama sekitar berapa bulan, sekitar 6 bulan kalau nggak salah," ucap Wikan dalam Sosialisasi Program Kampus Mengajar 3, Rabu (1/12/2021).

Wikan menjelaskan, beberapa masalah dari pembelajaran jarak jauh seperti rasa bosan yang dialami siswa dan hambatan dalam teknologi informasi mengakibatkan ketertinggalan yang cukup signifikan, khususnya untuk jenjang SD dan SMP.

"Dengan adanya pembelajaran jarak jauh kemudian juga kebosanan anak-anak di rumah ada hambatan IT, koneksi dan sebagainya, pendidikan kita untuk SD-SMP yang kita fokuskan, kita mengalami ketertinggalan yang cukup signifikan," lanjutnya.

Melihat bonus demografi di Indonesia dan masalah dalam pendidikan saat ini, kata Wikan, Kampus Mengajar menjadi program yang esensial untuk menyambut peluang tersebut.

Kampus Mengajar merupakan salah satu program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digagas oleh Kemendikbudristek. Program tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa selama satu semester untuk membantu para guru dan kepala sekolah jenjang SD dan SMP dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang terdampak pandemi.

Wikan mengatakan, keterlibatan mahasiswa dalam proyek esensial dari pemerintah melalui program Kampus Mengajar ini dapat menjadi sebuah keniscayaan dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

"Dengan mahasiswa ini bersedia untuk terjun ke lapangan tentunya leadership dan soft skill serta attitude, karakter yang kuat dalam berinovasi dan berkolaborasi untuk melakukan hal yang nyata bergotong-royong memajukan pendidikan Indonesia, ini menjadi sebuah keniscayaan," terangnya.

Sementara itu, Ketua Sub Pokja Kampus Mengajar, Wagiran menjelaskan, program Kampus Mengajar dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan dan keahlian dengan menjadi partner guru dan sekolah dalam menumbuhkan kreativitas dan inovasi.

Program ini berawal dari Kampus Mengajar perintis yang diikuti oleh 2.390 mahasiswa. Saat ini, program Kampus Mengajar telah berlangsung sebanyak dua angkatan dan tengah dibuka untuk angkatan ketiga.

Berdasarkan laporan Wagiran, program Kampus Mengajar diikuti oleh 14.621 mahasiswa pada angkatan pertama dan 22.000 mahasiswa pada angkatan kedua.

Simak Video "Tahun Depan, Praktisi IT Akan Ditarik Jadi Dosen di Kampus"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia