Sekolah dan Kampus BJ Habibie, serta Karier Moncernya

Novia Aisyah - detikEdu
Minggu, 21 Nov 2021 10:00 WIB
Habibie Ucapkan Selamat ke Jokowi: Beliau Ujung Tombak Generasi Penerus
Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta - BJ Habibie adalah Presiden ketiga Republik Indonesia. Tokoh ini dikenal sebagai Mr. Crack dan Bapak Pesawat. Julukan sebagai Bapak Pesawat ia dapatkan karena berhasil membuat pesawat pertama di Indonesia.

Bj Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936. Dia merupakan putra keempat dari Alwi Abdul jalil Habibie dan RA Tuti Marini Puspowardojo.

Sekolah & Kuliah BJ Habibie serta Kisah Semasa Studi

Melansir dari buku Mr. Crack dari Parepare karya A. Makmur Makka, BJ Habibie pindah ke Makassar saat usia 9 tahun di 1945. Di kota tersebut, dia masuk ke Europeesche Lagere School (ELS) yang merupakan sekolah dasar terbaik Belanda dan bertaraf internasional.

Namun, karena situasi politik dan keamanan pasca proklamasi kemerdekaan RI di Makassar tidak stabil, Habibie akhirnya pindah ke Jakarta sesuai dengan kehendak ibunya. Di ibu kota, BJ Habibie sekolah di Concordan HBS, kawasan Gambir.

Saat masih sekolah di sana, Habibie menumpang di rumah keluarga Soebardjo di daerah Paseban. Sebelum menumpang itu pun, ibunya telah menghubungi terlebih dulu.

Di Jakarta, Habibie tidak betah karena udara di sana dinilai sangat panas baginya. Dia pun meminta izin ibunya untuk pindah ke Bandung.

BJ Habibie kembali dititipkan di rumah kenalan, yaitu keluarga Soejoed yang merupakan inspektur pertanian di Jawa Barat sekaligus teman dari almarhum bapaknya. Tak lama kemudian, dia pindah kos ke keluarga Sam dan diterima kelas tiga HBS yang setara kelas tiga SMA.

Selanjutnya, BJ Habibie mendaftar ke Sekolah Kristen Peralihan yang letaknya tidak jauh dari Concordan HBS. Di sekolah ini, dirinya diturunkan ke kelas lebih rendah karena tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Namun, dengan keinginannya sendiri Habibie pindah ke SMP kelas 3 yang waktu itu bernama Gouvernments Middlebare School atau SMP 5 di Jalan Jawa.

Sesudah lulus dari sana, Habibie melanjutkan ke SMA Katolik di kawasan Dago yang dulunya dikenal sebagai Lycium. Dan di tingkat SMA inilah BJ Habibie mulai tampak menonjol di bidang eksakta seperti matematika dan mekanika. Dirinya juga terkenal dengan prestasi dan watak riangnya.

Selepas menjadi siswa SMA, BJ Habibie melanjutkan studi sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia pun tak lepas dari perpeloncoan dan malah menjadi target pelonco favorit. Pasalnya, Habibie adalah orang yang lincah dan menyenangkan.

Di kampus itu, Habibie menunjukkan banyak ketertarikan pada pesawat terbang dan sempat ikut klub aeromodelling. Waktu itu dia juga punya hobi aeromodeling, meski tidak pernah dikembangkan. Di kampus ITB pun, Habibie menjadi mahasiswa hanya sekitar enam bulan.

Suatu hari, ketika BJ Habibie berlibur ke Jakarta dan bertemu kawan lamanya sejak di SMA dan ITB yang bernama Laheru (Kenkie). Temannya ini mendapat beasiswa pemerintah untuk belajar ke Jerman dan Habibie tertarik.

Singkat cerita, dia langsung pergi ke kantor Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sesuai petunjuk Laheru dan menyatakan keinginannya. Habibie ingin kuliah jurusan fisika.

Namun tidak ada jurusan yang dia maksud. Yang ada hanyalah jurusan ilmu aeronautika dan satu jurusan lain. Karena aeronautika lebih dekat dengan fisika, maka Habibie memilih jurusan itu.

Habibie berangkat kuliah ke Technische Hochschule di Aachen, Jerman Barat dengan sistem delegasi, yakni pemerintah hanya memberi kemudahan dan legalitas bagi mahasiswa untuk membeli valuta asing sebagai biaya sekolah. Sedangkan biaya kuliah ditanggung ibunya.

BJ Habibie lulus dari kampus tersebut pada 1960 dengan gelar diploma dan predikat cumlaude. Lima tahun kemudian, gelar doktor juga diperolehnya dengan predikat summa cumlaude atau dengan sempurna.

Prestasi dan Karier BJ Habibie

Habibie pernah bekerja di berbagai perusahaan penerbangan dan konstruksi pesawat di Jerman, setelah dia menikah dengan Hasri Ainun Besari dan masih tinggal di Jerman.

Dia sempat merancang pesawat CN-235 dengan para insinyur dari perusahaan Spanyol, CASA. Prototipenya pun mengudara di akhir 1983.

Di samping karya tersebut, pesawat pertama Indonesia, yakni N250 Gatotkaca pada 1995 adalah ciptaan Habibie. Dia dan tim dari Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) merancang pesawat baling-baling itu dengan daya angkut 50 penumpang dan dapat diperbesar sampai 70 orang.

Kemudian, BJ Habibie menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi pada 1978-1998. ITB juga pernah memberikannya penghargaan tertinggi Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.

Penghargaan internasional pun tak luput. BJ Habibie mendapat penghargaan setara Hadiah Nobel, yakni penghargaan Edward Warner Award dan Award von Karman. Pemerintah Jerman pernah pula memberinya penghargaan Das Grosse Verdientkreuz dan Das Grosse Verdenstkreuz Mit Stern und Schulterband.

BJ Habibie tutup usia pada 11 September 2019. Beliau meninggal pada usia 83 tahun.

Simak Video "Ricuh! Ribuan Demonstran di Jerman Bentrok dengan Polisi"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia