Ramai Kasus Anak Titip Orang Tua di Panti Jompo, Ini Kata Pakar Undip

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Jumat, 19 Nov 2021 07:00 WIB
Trimah menempati salah satu kamar di Griya Lansia Husnul Khatimah, Wajak, Kabupaten Malang
Potret Ibu Trimah asal Magelang yang dititipkan ketiga anaknya di panti jompo. (Foto: Muhammad Aminudin)
Jakarta - Kisah 3 orang anak yang menitipkan sang ibu, Trimah, di panti jompo beberapa waktu lalu sempat mendapat sorotan publik. Pasalnya, keputusan dari anak-anaknya tersebut menuai pro dan kontra dari warganet.

Tidak sedikit yang berpendapat bahwa apapun alasannya orang tua harus dirawat oleh anaknya sendiri. Namun, sebagian lainnya beranggapan bahwa menghabiskan masa tua di panti jompo atau panti wreda bukan termasuk pilihan yang buruk.

Fenomena ini pun menarik perhatian Sosiolog dan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (Undip) Prof Ari Pradanawati. Menurutnya, pendapat yang kontra dengan ide menitipkan orang tua di panti jompo cenderung lebih mengacu pada budaya di Indonesia.

"Budaya di Indonesia, anak merawat orang tuanya atau orang tua ikut anaknya. Tetapi di zaman milenial ini sekarang sudah lain, artinya perkembangan zaman mengikuti kegiatan kita sehari-hari," kata Prof Ari, seperti yang dikutip dari laman resmi Undip, Kamis (18/11/2021).

Prof Ari kemudian menjelaskan, mindset masyarakat terhadap kata panti jompo juga cenderung berkonotasi negatif. Padahal, panti jompo tidak serta merta sebagai 'tempat pembuangan' bagi para orang tua.

"Dalam pikiran kita, jika mendengar kata panti jompo atau panti wreda seolah menganggap orang tua dibuang. Padahal sebenarnya tidak begitu juga, karena memang ketika mendengar kata jompo atau wreda terkadang membuat pikiran malah stres," tutur dia.

Guru besar FISIP Undip ini pun mengungkapkan, perlu adanya istilah baru di kalangan masyarakat untuk menyebut panti jompo dalam konotosi yang lebih positif, misalnya, rumah masa tua.

"Artinya bagaimana kita membuat istilah yang membuat nyaman, misalnya sebuah rumah masa tua di mana ada fasilitas yang komplit," ungkap Prof Ari.

"Sehingga konotasi kita terhadap panti jompo atau panti wreda untuk lansia diubah menjadi suatu istilah-istilah yang mengena di hati dan anggapan ke panti jompo itu tidak berarti dibuang dan orang tua mesti diberi pemahaman," sambung dia lagi.

Untuk permasalahan merawat orang tua, Prof Ari berpendapat bahwa keputusan tersebut harus melibatkan kedua belah pihak. Baik dari pasangan suami-istri maupun ibu dari pihak suami atau pihak istri.

"Merawat orang tua itu harus disetujui kedua belah pihak, suami istri atau ibunya suami atau ibunya istri harus setuju. Jika tidak setuju nanti terjadi persoalan, sementara budaya kita merawat orang tua itu adalah keharusan tetapi kasuistik," ungkapnya.

Sementara itu, menurut pandangan dari ilmu psikologi yang dituturkan oleh Psikolog dan Dosen Fakultas Psikologi Undip Dr. Unika Prihatsanti mengatakan bahwa orang tua memiliki ekspektasi pada anak untuk merawatnya di masa depan kelak.

"Zaman dulu orang tua mengasuh anak-anaknya, terkadang orang tua mempunyai harapan bahwa anak-anak ini adalah investasi di masa depan. Artinya, jika mereka (orang tua) sudah tua, mereka akan diurus oleh anak-anaknya," jelas Unika.

Meskipun demikian, pemahaman tersebut bersifat dinamis yang bermakna bisa mengalami pergeseran. Generasi saat ini, kata Unika, kondisinya berbeda dengan generasi zaman dulu. Hal inilah yang perlu dipahami bersama.

"Kita tidak bisa menyalahkan jika seorang anak tidak bisa mendampingi orang tua di masa tua karena anak-anaknya bekerja," ujar dia.

Namun, tidak semua kasus tersebut dialami oleh para orang tua. Ada pula sejumlah orang tua yang justru merasa senang dititipkan di panti jompo, salah satunya, mereka cenderung merasa memiliki banyak teman di panti jompo.

Sebagai tambahan dari ilmu yang digelutinya, Unika mengatakan bahwa pihaknya saat ini sudah tidak lagi menggunakan istilah jompo atau lansia. Melainkan adiyuswa yang memiliki konotasi lebih positif.

"Kami tidak lagi menggunakan istilah jompo atau lansia tetapi menggunakan istilah adiyuswa, adi itu artinya bagus, yuswa adalah usia jadi, kalau digabung diartikan menjadi usia bijaksana." beber dia.

Secara psikologis, adiyuswa membutuhkan setidaknya ada tiga hal yang harus terpenuhi yakni, fisik, kognitif, sosial atau emosional. Kebutuhan ini dapat dipenuhi dari peran keluarga atau pun kerabat di lingkungan adiyuswa.

Fase kesepian juga kerap dihadapi oleh adiyuswa sebagai dampak dari tidak terpenuhinya kebutuhan emosional tersebut. Hal ini pula, berdasarkan penuturan Unika, yang membuat sejumlah orang tua atau adiyuswa lebih memilih untuk berada di panti jompo.

Simak Video "Pilu, Lansia di Malang 'Dibuang' Ketiga Anaknya ke Panti Jompo"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia