Jadi Peneliti Perempuan di Belanda, Siswi Bisa Contoh Ini dari Sosok Dessy

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 29 Okt 2021 17:32 WIB
Dessy Rutten, Diaspora Indonesia di Belanda
Foto: YouTube CXO Media
Jakarta - Seorang peneliti, ekonom, pebisnis asal Indonesia bernama Dessy Rutten bercerita bahwa dia sudah tinggal di Kota Tilburg, Belanda selama 9 tahun. "Saat ini saya memegang amanah sebagai pemimpin tim akademis dan manajer pengembangan bisnis pemasaran internasional dari sekolah IB (International Baacalaureate) di Belanda namanya Gifted Minds International School," ujar Dessy dalam kanal YouTube CXO Media, seperti dilansir dari HaiBunda pada Jumat (29/10/2021).

Di samping itu, dia juga merupakan seorang managing Partner Inggris dan Belanda di sebuah perusahaan bernama Unimatrix International, Jerman.

Rupanya, sembilan tahun terakhir ini bukan kali pertama Dessy tinggal di luar negeri. Dia sudah 25 tahun berkiprah di Eropa. Sebelum tinggal di Belanda, Dessy juga sempat bekerja di Inggris Raya.

Perempuan ini di kala senggangnya produktif sebagai pembicara, penulis, mentor, serta reviewer program-program internasional bidang bisnis, finansial, wirausaha, dan pemberdayaan perempuan.

Peneliti tersebut mengatakan, ada banyak pengalaman jatuh-bangun yang ia rasakan selama 25 tahun di negara orang. Posisinya sekarang disebut sebagai manifestasi mimpinya ketika masih muda.

Segala kelebihan dan kekurangan dalam hidup dia jadikan berkah, pendewasaan, dan proses pembelajaran. "Karena setiap kejadian dan pengalaman yang ada di hidup saya sekarang di luar negeri itu saya mulai pada saat saya masih muda dan saya masih single, masih belum menikah," pungkas Dessy.

Sewaktu masih muda. Dia memiliki cita-cita serta idealisme tinggi yang didukung kedua orang tuanya. "Dengan segala idealisme dan cita-cita yang sangat tinggi, jadi itu merupakan doa saya dari kecil dengan bantuan dari orang tua saya juga ya dan sampai saat ini saya Alhamdulillah bisa menjadi seorang business woman, women in science, dan juga ibu rumah tangga bagi keluarga saya," tambah Dessy.

Selama menjadi diaspora dia memegang nilai yang didapat dari kedua orang tua, agama, kebudayaan Indonesia, dan budaya timur yang baik.

Tidak cukup di situ, profesionalisme juga merupakan pondasi utama dalam pembentukan karakternya. "Kemudian profesionalisme yang sudah saya peroleh sejak saya kecil sampai sekarang itu merupakan pondasi utama dalam pembentukan karakter bagi saya pertama kali ketika saya menginjakkan kaki saya di benua Eropa di Inggris, kemudian di Belanda, kemudian berkarier di negara Schengen," terangnya.

Salah satu nilai agama yang ia pegang teguh adalah memulai segala sesuatu dengan berdoa untuk mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Esa dan kedua orang tua, terutama sang ibu.

Dari segi karakter, menurutnya penting untuk mempunyai disiplin diri yang kuat dan sopan santun yang selalu dijunjung.

"Namun, kita tegas (asertif) dan kalau bisa kita juga cepat tanggap dalam menjalankan dan mengerjakan sesuatu. Saya maksud dalam hal ini bukan hanya menjadi pekerja keras, namun juga orang yang bekerja secara pintar," imbuhnya.

Untuk bisa sukses sebagai diaspora, Dessy menyebutkan sejumlah kemampuan yang perlu dimiliki. Di antaranya adalah skill akademis, baik teori maupun praktik.

"Kalau boleh saya rangkum, skill yang pertama itu academic skill yang mumpuni, baik teori maupun praktik. Kemudian, menurut saya memiliki diploma, sertifikasi, atau ijazah itu penting namun juga harus dibuktikan dengan kemampuan pelaksanaan akan ilmu itu di lapangan melalui praktik," paparnya.

Lalu kemampuan berbahasa bahasa Inggris lisan maupun tulisan dan bahasa nasional negara setempat. Menurutnya para diaspora harus membaur dengan penduduk lokal agar tidak merasakan kebosanan.

Selain itu, juga perlu adaptif secara fisik maupun mental. Apalagi Benua Eropa secara umum mempunyai empat musim.

"Dan juga kultur budayanya, mulai dari kebiasaan di rumah, di kerjaan, di universitas, di masyarakat, semuanya kalau bisa kita beradaptasi," sebut Dessy.

Selanjutnya adalah pola pikir. Kemampuan mental dan spiritual adalah social quotient (SQ) yang penting sebagai pondasi.

Terakhir adalah kemampuan komprehensif seperti membaca, menulis, mendengar, dan berbicara dalam bahasa Inggris maupun bahasa nasional negara yang ditinggali.

Dessy berpendapat ada banyak cara menjadi diaspora, tapi yang penting tekadnya harus tulus dan bagus. "Tapi yang pasti itu bulatkan tekad, tekadnya dengan bagus niatnya harus tulus dan juga persiapan dan prosesnya Anda harus siap mental, siap fisik, dan tidak mudah untuk berputus asa," tegas peneliti penyandang gelar doktoral tersebut.

Detikers juga bisa membaca kisah Dessy dan diaspora lain secara lebih lengkap di sini.

Simak Video "China Ungkap Hasil Deteksi Air di Bulan"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia