Kisah Lulusan ITB Kini Calon Profesor di Inggris: IPK Pernah 1,7

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Senin, 18 Okt 2021 10:00 WIB
Irwandi Laory (kanan) bersama Reini D. Wirahadikusumah (Rektor ITB) dan sejumlah pengajar ITB
Irwandi Laory (kanan) bersama Reini D. Wirahadikusumah (Rektor ITB) dan sejumlah pengajar ITB (dok. ITB)/Kisah Lulusan ITB Kini Calon Profesor di Inggris: IPK Pernah 1,7.
Jakarta - Irwanda Laory, seorang lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) kini memang calon profesor di Inggris. Namun sebelumnya, dia mengalami jalan terjal bahkan punya IPK hanya 1,7.

Calon profesor di University of Warwick, Coventry, Inggris, ini membagikan kisahnya lewat Instagram Live dosen geodesi Universitas Gadjah Mada (UGM) I Made Andi Arsana Sejak kecil, Irwanda sudah berpindah tempat tinggal beberapa kali.

Irwanda lahir di Makassar, Sulawesi Selatan dan menghabiskan masa kecil hingga remajanya di kota Sorong, Papua Barat. Lulus dari pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun 1995, Irwanda pun kembali nomaden.

Saat itu, ia memilih Kota Bandung sebagai kota rantauan untuk melanjutkan pendidikan. Menurut Irwanda, salah satu yang melatarbelakangi perantauannya adalah ketimpangan kualitas pendidikan di Jawa dan luar Jawa.

"Zaman saya dulu pendidikan antara Jawa dengan luar Jawa cukup (jauh). Orang tua saya lulus SMP harus keluar (Papua). Karena Sorong itu panas, saya cari kota yang paling sejuk ternyata Bandung," kata Irwanda dikutip dari Minggu (17/10/2021).

Irwanda kemudian berhasil diterima di SMA Negeri 3 Bandung salah satu sekolah terbaik di kota tersebut. Namun, fase adaptasi menuntut ilmu di kota rantau membuat ia harus menerima hasil rapor yang tidak memuaskan selama tahun-tahun pertamanya bersekolah.

Hal itu pun, diakui Irwanda, belum memotivasinya dalam meningkatkan nilai rapornya. Namun, sekelibat impian untuk berkuliah di ITB atau perguruan tinggi negerilah yang mendorongnya untuk meningkatkan hasil rapor pada bulan-bulan terakhir sekolah.

"Tiba-tiba teringat saya jauh-jauh sekolah di Bandung pengen masuk ITB atau negeri. Saya geber di bulan-bulan terakhir. Kayaknya seumur hidup saya paling rajin belajar pada masa itu," cerita dia.

Hasilnya, Irwanda lolos UMPTN (sekarang SBMPTN) di Teknik Sipil ITB. Setelah masuk ITB, Irwanda mengaku terlalu 'lepas'. Kebiasaannya saat masa SMA kembali terulang. Ia bahkan sempat merasakan IPK di bawah dua selama empat semester berturut-turut saat menempuh jenjang S1 di sana.

Tingkat pertama, IPK yang berhasil diraihnya hanya 1,7 bahkan diakuinya, ia tidak lulus di sejumlah mata kuliah pada saat itu. Kemudian hal itu berlanjut selama dua tahun. Tidak pernah meraih IPK lebih dari 2.

"Kalau dibilang kuliah susah sih sebenarnya tidak. Sepertinya usaha yang dicurahkan untuk belajar itu betul-betul minim. Saya mengaku terlalu banyak main," aku Irwanda.

Masuk tingkat tiga, ia menyadari tertinggal jauh kala melihat teman-teman seangkatannya sudah mulai mencari judul untuk tugas akhir. Hal ini memicunya untuk mengubah cara belajar. Bahkan harus membuang rasa malunya dengan mengulang beberapa mata kuliah bersama adik tingkatnya.

"Saya buang rasa malu, kalau tidak mengerti tanya ke yang pintar. Sering mendatangi kos teman dan adik kelas yang bisa menjelaskan. Mereka mau melayani dengan baik," katanya.

Pada akhirnya, Irwanda berhasil lulus dengan IPK 3,1 dengan membutuhkan waktu 6 tahun di ITB. Saat itu, kata Irwanda, ia menyesal tidak mengambil banyak kesempatan saat berkuliah di ITB. Alhasil, ia merasa kesulitan mencari kerja.

"Banyak menganggur dan kerja serabutan. Ada penyesalan coba waktu S1 saya lebih rajin pasti kesempatan lebih banyak. Saya punya privilege. Bisa masuk ITB, semua kebutuhan terpenuhi, tapi tidak dimanfaatkan," ujar dia.

Tidak berdiam diri, akhirnya Irwanda memutuskan untuk melanjutkan studinya. Ia pun harus merogoh tabungan dan meminta bantuan pada orang tuanya untuk berkuliah pendidikan S2. Suatu ketika, ia datang ke sebuah pameran pendidikan dan mendapatkan informasi kuliah di Jerman gratis.

Akhirnya, Irwanda berhasil diterima di Bauhaus-Universität Weimar untuk bidang Natural Hazard Mitigation in Structural Engineering. Kemudian, ia berhasil mendapatkan beasiswa di sana dan kembali memilih untuk melanjutkan studi di Ecole polytechnique fédérale de Lausanne, Swiss.

Irwanda bahkan berhasil menuntaskan studinya di awal 2013, meskipun harus mengalami kendala dalam menyelesaikan risetnya. Berbekal gelar doktor tersebut, Irwanda mulai berani mengajukan lamaran kerja ke sejumlah universitas di Eropa dan Amerika Serikat.

Meski lagi-lagi harus menelan kegagalan, Irwanda berhasil melewati wawancara di University of Warwick berkat bimbingan supervisornya di Swiss. Hasilnya, ia lolos menjadi calon profesor di kampus tersebut.

Berkaca dari pengalaman Irwanda sejak lulus ITB hingga jadi calon profesor, tidak semua kesuksesan akan berjalan mulus seperti yang diharapkan. Adakalanya ditemui batu terjal dalam perjalanannya. Jadi, tetap semangat dalam meraih mimpimu ya, detikers!



Simak Video "Bangga! Kolaborasi Kampus ITS-ITB Daftarkan Paten Mobil Listrik, Ini Bentuknya"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia