Inspiratif! Kedai Kopi Ini Beri Kesempatan Kerja bagi Difabel

Angga Laraspati - detikEdu
Jumat, 15 Okt 2021 10:30 WIB
Kedai Kopi Sunyi
Foto: Universitas Prasetiya Mulya
Jakarta - Bila datang ke bilangan Jakarta Selatan, tepatnya di Fatmawati, ada sebuah kedai kopi yang berbeda dari yang lainnya. Kedai kopi dengan nama 'Sunyi' ini sangat inspiratif karena mempekerjakan penyandang disabilitas.

Bisnis inspiratif ini dimiliki oleh 2 alumni S1 Universitas Prasetiya Mulya yang biasa disebut Prasmul, Mario Gultom dan Almas Nizar. Tapi siapa sangka, ide awal bisnis ini pernah diserang dan disebut kekanak-kanakan.

Awalnya, bisnis ini dimulai dari Mario yang punya passion di bidang kemanusiaan. Mario yang mempelajari marketing dan kewirausahaan di Prasmul berkeinginan untuk untuk terjun ke dunia socio-entrepreneurship dan membantu penyandang disabilitas sudah terbentuk sejak 2016.

Namun idenya tersebut diserang dan disebut keanak-anakan, Mario pun menghilangkan rencana tersebut dari benaknya.

"Ada orang pernah bilang ke aku, 'kalau mau tolong orang, kumpulin uang yang banyak, terus kasih ke mereka. Padahal kalau uang itu habis, mereka akan susah lagi. Seharusnya, kita bikin wadah yang sustainable seumur hidup mereka. Itu baru namanya solusi," tutur Mario dilansir dari ceritaprasmul, Jumat (15/10/2021).

Mario memutuskan untuk mematangkan ilmunya sembari bekerja secara full-time. Saat itulah Mario kembali bertemu dengan sekelasnya Almas yang kali ini sebagai rekan kerja di sebuah perusahaan. Mario pun mengetahui pola pikir dan entrepreneurship mindset yang dimiliki Almas.

Saat itulah Mario membeberkan lagi idenya ke Almas hingga akhirnya menjadi orang pertama yang menaruh kepercayaan kepada Mario, sekaligus menyarankan untuk membangun kedai kopi, sebuah sektor menjanjikan terutama di ibukota.

Dalam menjalani usahanya, Mario dan Almas menemui sejumlah tantangan, dan salah satunya adalah membangun kepercayaan masyarakat disabilitas. Keduanya tahu merekalah yang harus beradaptasi.

Dalam proses tersebut, mereka mendekatkan diri ke komunitas-komunitas disabilitas, serta mempelajari bahasa isyarat di Pusat Bahasa Isyarat Indonesia. Di sini mereka semakin akrab dengan teman-teman tunanetra, tunarungu, tunadaksa, dan lainnya.

"Saat kami membuka lowongan, kami tidak memasukkan persyaratan pengalaman kerja. Mereka udah susah cari kerja, masa kami minta pengalaman? Kami mendahulukan high-spirit. Ternyata, ada ratusan orang yang mendaftar. Ini semakin membuktikan betapa banyaknya kaum disabilitas yang menganggur," kata Mario.

Ketika menjalankan training, Mario dan Almas menggunakan bantuan visual dalam berkomunikasi, lalu memodifikasi mesin dan peralatan agar bisa digunakan oleh karyawan tunadaksa. Saat ini, Sunyi memiliki seorang barista bertangan satu yang dapat mengoperasikan mesin espresso, bahkan membuat latte art.

"Datang ke Sunyi dan melihat anaknya bekerja, salah satu orang tua dari karyawan kami hanya menangis. Ia bilang ini pertama kalinya anaknya menjadi manusia. Mendengar itu, kami terenyuh," tutur Mario.

Sementara itu, Almas mengatakan dalam memulai bisnis Sunyi, keduanya tidak asal eksekusi. Ada beberapa tahapan yang dilakukan mulai dari riset hingga breakdown konsep.

"I believed in the ideal. Tapi tidak asal eksekusi, proses research dan brainstorming kami panjang sampai akhirnya memiliki konsep yang firm, approved, tested, dan bisa launching pada awal 2019 lalu. Integritas itu salah satu hal yang kita dapatkan dari Prasmul," kata Almas.

Sunyi pun sudah mengundang kolaborasi dari berbagai brand seperti Grab Indonesia, Tropicana Slim, Nutrifood, dan MRT Jakarta, yang ingin turut menyebarkan awareness. Keduanya berharap pengalaman yang disajikan Sunyi dapat terus diviralkan oleh para pengunjung, sehingga tercipta Indonesia yang semakin inklusif.

"Saat berkunjung ke Sunyi, customer dapat belajar bahasa isyarat secara gratis. Mereka tinggal menghampiri barista kami dan bilang mau belajar. Biasanya, setiap siang, café ramai dengan orang berkelompok, masing-masing dengan guru yang berbeda dari Sunyi," ucap Almas.

Di masa pandemi kali ini, Mario dan Almas tidak memungkiri fakta seperti UMKM lainnya, Sunyi juga merasakan dampak dari COVID-19. Tetapi keduanya tahu kunci utama berbisnis adalah adaptasi.

Selain membuka dine-in terbatas sesuai protokol PSBB, mereka juga mengonversikan seluruh experience Sunyi, mulai dari kelas bahasa isyarat, pameran karya seni, hingga workshop, menjadi event digital. Bahkan, Mario dan Almas berencana untuk memperluas jangkauan Sunyi ke Bintaro, bahkan membuka sekolah bahasa isyarat di Kota Tua.

"Dari Prasmul, kami belajar bahwa bisnis yang baik itu berdasarkan opportunity dan problem. Kami percaya bahwa diskriminasi terhadap penyandang disabilitas adalah problem yang harus dipecahkan. Dari situlah asal-usul keberanian kami," kata Almas. (fhs/ega)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia