ADVERTISEMENT

Dokter RSUI Beri Tips Atasi Lupa, Pikun, dan Perilaku Aneh Pasca COVID-19

Kristina - detikEdu
Selasa, 07 Sep 2021 08:30 WIB
Thinking young woman looking up at many question marks isolated on gray wall background
Foto: thinkstock
Jakarta -

Virus COVID-19 tidak hanya menyerang bagian tubuh manusia. Menurut penelitian, virus ini juga mampu menyerang bagian otak yang mengakibatkan penurunan fungsi kognitif.

Dokter Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Pukovisa Prawiroharjo mengatakan, walaupun otak dilindungi oleh beberapa lapisan, penelitian mengungkapkan, ternyata virus COVID-19 mampu menembus berbagai lapisan tersebut. Hal inilah yang kemudian menyebabkan seseorang pasca sembuh dari COVID-19 dapat mengalami masalah lupa, pikun, dan perilaku aneh.

"Intinya kalo ada masalah itu, baik pasca COVID-19 atau lainnya, jangan sampai dicuekin," ujar dr. Pukovisa, seperti dilansir dari laman UI, Senin (6/9/2021).

Otak merupakan sumber sarana berpikir. Otak berperan sebagai pusat kendali tubuh dan penyusun sistem saraf pusat. dr Pukovisa menegaskan, gejala yang timbul pada bagian otak merupakan hal yang patut diwaspadai agar tidak menjalar ke bagian tubuh lainnya.

"Jadi pada intinya, masyarakat harus lebih peduli pada bagian otak bila menemukan masalah pada bagian tersebut. Hal ini dilakukan agar masalah pada bagian otak itu tidak menjalar ke bagian tubuh lainnya. Bila otak kita ada masalah, maka akan sulit untuk melihat bagian tubuh lain dengan normal dan baik, karena otak adalah pusat kendali tubuh,"" jelas Dokter Spesialis Saraf ini.

Beberapa contoh gejala yang timbul akibat penurunan fungsi kognitif pasca sembuh dari COVID-19 seperti lupa bahwa ada beberapa tugas yang perlu diselesaikan, cenderung lebih murung dan pendiam, serta lebih suka menyendiri.

Dia memaparkan, belum ada penelitian lebih lanjut mengenai jenis varian virus COVID-19 mana yang menyebabkan lupa, pikun, dan perilaku aneh lainnya. Setidaknya butuh waktu hingga satu tahun untuk dapat mengungkap hal tersebut.

Lantas, bagaimana cara mengatasi masalah lupa, pikun, dan perilaku aneh lainnya?

dr. Pukovisa mengatakan, kondisi lupa, pikun, dan perilaku aneh tidak harus muncul secara bersamaan, namun bila salah satu muncul pasca sembuh dari COVID-19, pasien perlu melaporkan dirinya ke pelayanan kesehatan.

Menurutnya, ketiga masalah tersebut tidak bisa diprediksi berapa lama akan terjadi pada diri seseorang. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi daya tahan tubuh setiap orang, sehingga tidak bisa disimpulkan berapa lama suatu penyakit dapat bertahan di tubuh seseorang.

Apabila mengalami beberapa perilaku aneh akibat penurunan fungsi kognitif setelah sembuh dari COVID-19, masyarakat dapat berkonsultasi dengan dokter neurologi atau saraf. Selain itu, ia juga menyarankan untuk segera melakukan pemeriksaan agar mendapatkan tindakan penanganan lebih lanjut dari dokter.



Simak Video "Warning! Kasus Covid-19 di Indonesia Meningkat 15 Kali Lipat"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/nwy)

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia