6 Cara Mengatasi Stres pada Siswa dari Pakar Psikologi UNAIR, Sudah Coba?

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 13 Agu 2021 13:46 WIB
Sejumlah anak belajar secara daring di rumahnya kawasan Sunter Agung, Jakut. Sistem daring ini telah berjalan 1,5 tahun karena pandemi COVID-19 belum usai.
Pandemi COVID-19 dapat menjadi stressor lingkungan bagi siswa yang belajar dari rumah. Foto: Pradita Utama
Jakarta - Apakah kamu sering merasa stres belajar di rumah selama pandemi? Apakah kamu pernah mencari tahu bagaimana cara mengatasi stres dalam belajar?

Guru Besar Universitas Airlangga (UNAIR) Prof. Dr. Nurul Hartini, M.Kes., Psikolog, mengatakan, stres pada remaja menjadi fenomena yang tidak lagi jarang ditemui di masa ini. Sebab, posisi remaja yang masih dalam tahap bertumbuh dan mencari jati diri menjadikan mereka golongan yang rentan mengalami stres.

Guru Besar UNAIR Bidang Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental ini menuturkan, ada sejumlah cara mengatasi stres untuk siswa.

Cara mengatasi stres pada siswa dari pakar psikologi UNAIR sebagai berikut:

1. Apa itu stres dan cara mengatasinya

Untuk mengatasi stres, kamu perlu tahu dulu apa itu stres dan cara mengatasinya.

Prof. Nurul menuturkan, stres akan terjadi saat seseorang menilai sesuatu yang hadir dan diterima (stimulus) sebagai sebuah hal yang membebani dan melebihi sumber daya atau kemampuan. Untuk mengatasinya, seseorang perlu mengetahui apa stimulus yang menyebabkan stres muncul dan menyelesaikannya.

Ia mengatakan, seorang individu dapat dikategorikan mengalami stres bila dampak stres terhadap emosi, kognitif, maupun perilaku terus berlangsung selama lebih dari satu minggu. Beberapa contoh dampak negatif stres yaitu marah-marah, mual, sakit perut, diare, tidak bisa berkonsentrasi, tidak bisa tidur, dan lain-lain.

2. Kenali stressor psikologis dan stressor filosofis

Prof. Nurul menjelaskan, stres bisa muncul akibat stressor atau tekanan dari dalam maupun dari luar diri. Tekanan dari dalam diri bisa diakibatkan karena aspek psikologis dan aspek filosofis.

"Sederhananya, jika kita merasa pintar matematika, lalu tiba-tiba dapat nilai 7 dan stres, itu stressor psikologis. Lalu jika kita anak guru matematika, lalu merasa berkewajiban mendapat nilai di atas 8, itu menjadi stressor filosofis," kata Nurul dalam webinar Fakultas Psikologi UNAIR, dikutip dari laman UNAIR, Kamis (12/8/2021).

Ia mengatakan, sementara itu, stressor eksternal dapat muncul akibat sosial maupun lingkungan. Ia mencontohkan, situasi pandemi COVID-19 dapat menjadi stressor lingkungan melalui banyaknya berita kematian atau suara sirine ambulans.

3. Manajemen stres

Prof. Nurul mengatakan, stres adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan menjadi bagian dari dinamika kehidupan manusia. Tetapi, siswa bisa belajar manajemen stres dan belajar menunjukkan respons stres yang tepat.

Ia mengatakan, manajemen stres dapat dilakukan dengan mengubah cara berpikir dan berperilaku saat menghadapi masalah penyebab stres.

"Pertama, fokus pada masalah. Identifikasi masalah, lalu ubah sumber stres kalian. Kurangi juga respon emosi yang negatif dalam menghadapi stres," kata Prof. Nurul.

4. Mengetahui kemampuan mengatasi stres

Prof. Nurul mengatakan, siswa perlu mempertahankan kualitas dan kesehatan diri untuk berkegiatan dengan baik. Caranya, kata Prof. Nurul, yaitu berusaha mengubah stres menjadi hal yang merangsang kapasitas diri secara optimal, serta mengubah stres menjadi hal yang bermanfaat.

Ia mengatakan, untuk itu, seorang siswa harus harus mengetahui seperti apa kemampuannya dalam menghadapi stres. "Apakah stres tersebut dapat diatasi sendiri ataukah membutuhkan orang lain untuk memberikan dukungan dan solusi," kata Prof. Nurul.

5. Social support orang terdekat

Prof. Nurul mengatakan, seorang individu akan membutuhkan bantuan apabila telah mengalami gejala stres.

Ia menjelaskan, beberapa gejala stres yaitu tidak mampu menyelesaikan masalah sendiri atau mengalami dampak negatif stres pada aspek kognitif, emosi, maupun perilaku.

Bantuan itu pun dapat datang dari beberapa pihak. Pertama adalah social support atau dukungan sosial dari sahabat, peer counselor, saudara, orang tua, guru, maupun orang-orang terdekat lain.

6. Bantuan profesional konselor hingga psikiater

Prof. Nurul mengatakan, bantuan professional dari konselor, psikolog, psikiater dapat membantu siswa mengatasi stres.Bantuan profesional juga dapat dikontak melalui bantuan lembaga layanan psikologis maupun konseling online.

Ia mencontohkan, beberapa lembaga layanan yang dapat dihubungi adalah Layanan Sejiwa Himpsi, call center 199 Ext. 8, Riliv, atau lembaga bantuan lainnya.

"Anda tidak sendiri dan jangan sendiri. Harus Anda ketahui, ada orang lain yang peduli dan siap memberikan bantuan," tutup Nurul.

Simak Video "Jurusan Sepi Peminat di Unair, Apa Saja?"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia