Tak Hanya Indra, Ini Ilmuwan Indonesia yang Kembangkan Vaksin AstraZeneca

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 26 Jul 2021 16:31 WIB
Acara Ngosyek di Instagram Dubes Indonesia untuk Inggris, Desra Percaya
Acara Ngosyek di Instagram Dubes Indonesia untuk Inggris, Desra Percaya (Twitter Desra Percaya)
Jakarta - Apakah kamu sudah divaksinasi? Sudah tahu dong ya bahwa ada Indra Rudiansyah, peneliti asal Indonesia di yang terlibat dalam riset vaksin COVID-19 di Oxford University, Inggris? Nah, rupanya masih ada lagi lho peneliti asal Indonesia di riset vaksin AstraZeneca. Siapa ya?

Perempuan peneliti asal Indonesia itu adalah Carina Citra Dewi Joe, postdoctoral research scientist pengembangan vaksin di Jenner Institute Oxford University.

Carina adalah peneliti utama dalam pengembangan proses manufaktur skala besar cGMP Oxford atau vaksin AstraZeneca COVID-19. Produksi vaksin COVID-19 skala besar ini dimaksudkan untuk rampung dalam waktu singkat agar dapat segera digunakan dalam clinical trial dan penggunaan masif.

Peraih gelar PhD in Biotechnology di Royal Melbourne Institute of Technology, Australia ini menuturkan, dirinya semula berkecimpung di dunia bioteknologi saat memilih masuk jurusan tersebut untuk berkuliah S1.

Carina menambahkan, setelah melanjutkan pendidikan S1, ia lalu ditawari internship di perusahaan Australia. Perusahaan ini, kata Carina, menawarkannya meneruskan studi hingga meraih gelar PhD untuk menunjang kariernya dalam bidang penelitian.

Dalam acara Ngosyek atau Ngobrol Asyeek di Instagram Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Desra Percaya, Carina menyebut pengalaman di industri bioteknologi turut berpengaruh hingga akhirnya terlibat dalam riset vaksin AstraZeneca untuk COVID-19.

"Setelah PhD, lanjut internship 7 tahun. Karena saya latar belakangnya industri, sementara apply ke post doc Oxford, mereka senang sama background industri saya," ujarnya .

Carina menuturkan, melihat masih ada masyarakat yang takut vaksin, baginya amat dimaklumi. Menurutnya, proses pembuatan vaksin yang hanya makan waktu 1,5 tahun dari sedianya 10 tahun akan janggal di telinga masyarakat.

Di sisi lain, lanjutnya, masyarakat perlu edukasi diri mengenai produksi vaksin dan manfaatnya di tengah pandemi. Ia mengatakan, produksi vaksin khususnya vaksin COVID-19 tetap dilaksanakan sesuai peraturan yang berlaku. Hanya saja, proses birokrasi dipercepat dan proses pembuatan dilaksanakan secara paralel.

"Kenapa bisa cepat, karena kita lakukan paralel. Sebelumnya step by step, rencanakan dulu baru apply funding, 2-3 tahun kemudian baru dapat, barulah clinical trial. Kalau (pandemi) ini emergency," jelas Carina.

Carina menambahkan, risiko masuk rumah sakit dan kematian lebih besar dari rasa ketakutan diri sendiri. Ia mengatakan, sedapatnya segera vaksinasi karena efektivitasnya terbukti secara ilmiah.

Di samping itu, ia mengingatkan, karena vaksin bersifat sebagai pencegah, maka pasien positif COVID-19 yang kemudian sadar akan kebutuhan vaksin tidak bisa lagi divaksinasi saat positif .

"Kita mau balik ke situasi semula, agar pandemi cepet berakhir, ayo vaksin segera. Lockdown memang dampaknya ke ekonomi, sosial, dan budaya, tetapi lockdown juga ada karena risikonya (tanpa lockdown) jauh lebih besar daripada dampak lain-lain itu. Pemerintah masih prioritas nyawa dibanding lain-lainnya," kata Carina.

Gimana detikers, mau jadi peneliti vaksin kayak Carina?



Simak Video "Indra Rudiansyah Sempat Bawa Pulang Teknologi Viral Vector ke RI"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia