Top! Mahasiswa UNY Buat Buku Anti Bullying dengan Muatan Budaya Lokal

Anatasia Anjani - detikEdu
Rabu, 19 Mei 2021 14:02 WIB
Stop violence against women, Human rights day, freedom concept, alone, sadness, emotional.
Foto: istock/Top! Mahasiswa UNY Buat Buku Anti Bullying dengan Muatan Budaya Lokal
Jakarta - Kasus bullying atau perundungan bisa menimpa pada siapa saja. Fenomena bullying masih marak terjadi di Indonesia dan umumnya terjadi di sekolah-sekolah. Data hasil riset Programme for International Students Assessment (PISA) 2018 menunjukkan murid yang mengaku pernah mengalami perundungan (bullying) di Indonesia sebanyak 41,1%.

Maraknya fenomena itu , membuat empat mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berinisiasi merancang buku saku untuk mencegah bullying. Keempat mahasiswa UNY tersebut yaitu Daffa Fakhri Maulana, Awang Nakulanang, Yohana Suryana, Anis Samchati dan Heri Cahyono. Mereka adalah mahasiswa program studi PKn.

Buku saku anti bullying tersebut dibuat dengan muatan lokal budaya Jawa yaitu tepo seliro. Menurut salah satu inisiatornya yaitu Daffa, buku saku anti bullying ini dirancang karena pendidikan karakter melalui mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dirasa masih belum maksimal.

Lebih lanjut, Daffa menjelaskan bahwa masyarakat Jawa memiliki kearifan lokal yang biasa disebut sikap tepo seliro (tenggang rasa) yang identik dengan rasa empati, peduli, toleransi, dan gotong royong. Daffa beranggapan tepo seliro sangat cocok jika dikaitkan untuk melawan fenomena bullying.

"Apabila nilai-nilai karakter tersebut dapat dikembangkan dengan media pembelajaran pendidikan karakter, tentu saja hal ini dapat menjadi alternatif yang inovatif dalam rangka mencegah dan menekan angka kekerasan di sekolah yang termasuk dalam fenomena bullying", papar Daffa yang dilansir dari situs resmi UNY.

Selain Daffa, Awang yang merupakan perintis buku saku anti bullying juga menambahkan bahwa buku saku anti bullying ini dikembangkan dengan menyesuaikan kebutuhan dunia pendidikan yang berkaitan dengan kasus perundungan.

"Anti perundungan pocket book dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar PPKn sebagai salah satu mata pelajaran yang diidentikan dengan pendidikan karakter di Indonesia" ujar Awang. Awang berpendapat penerapan penggunaan buku saku anti bullying ini dapat digunakan dengan memanfaatkan waktu literasi selama 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

"Media pembelajaran ini dikembangkan dengan berbagai literatur terkait untuk selanjutnya disusun menjadi pocketbook yang inovatif dan aplikatif dalam kehidupan pergaulan di lingkungan sekolah," kata Anis selaku inisiator buku saku anti bullying.

Anis berpendapat buku saku anti bullying yang ia rilis bersama rekan-rekannya sangatlah menarik. Hal ini dikarenakan selain berisikan pengetahuan mengenai perundungan. Buku ini juga dipadukan dengan desain grafis yang ciamik yang dikaitkan dengan tepo seliro.

Tepo seliro adalah nasehat Jawa yang bertujuan untuk menjaga perasaan orang lain yang berarti tidak menyinggung perasaan dan meringankan beban pikiran orang lain. Nilai-nilai tepo seliro yang dikembangkan di buku anti bullying antara lain meliputi empati, tenggang rasa dan saling menghormati.

Simak Video "Dua Selebgram di Makassar Ditangkap Usai Keroyok Seorang Wanita"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia