Perjuangan Pria Aceh Masuk STAN: 2 Kali Gagal Tes & Lulus di Tahun Terakhir

Puti Yasmin - detikEdu
Sabtu, 15 Mei 2021 09:00 WIB
Perjuangan Pria Asal Aceh Masuk STAN: Dua Kali Gagal Tes dan Lulus di Tahun Terakhir
Foto: Dok. Pribadi/Perjuangan Pria Aceh Masuk STAN: 2 Kali Gagal Tes & Lulus di Tahun Terakhir
Jakarta -

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) menjadi salah satu sekolah kedinasan favorit. Setiap tahunnya ada puluhan ribu peminat yang bersaing untuk lulus, salah satu adalah pria asal Aceh bernama Wahyu Iskandaria.

Pria yang akrab disapa Wahyu ini mengaku mengikuti ujian seleksi sekolah kedinasan pertama kali di tahun 2005. Kala itu, ia hanya ingin membantu keluarganya sehingga ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan masuk sekolah kedinasan.

"Awalnya memang ingin kerja cepat, ingin jadi PNS. Kebetulan saya dari Aceh dan sangat ingin langsung kerja bantu orang tua," ungkap dia saat berbincang dengan detikEdu baru-baru ini.

Namun, keinginan tersebut tak berjalan lancar karena ia harus beberapa kali gagal mengikuti seleksi. Baru, di tahun terakhir kesempatannya ia dinyatakan lulus seleksi masuk STAN.

"Saya mencoba terus 3 kali, tahun pertama nggak lulus, tahun kedua nggak lulus, dan tahun ketiga akhirnya lulus," terang pria kelahiran Lhokseumawe ini.

Perjuangan tersebut dilakukan dengan penuh perjuangan. Wahyu diketahui mengikuti bimbingan les sekolah kedinasan hingga les bahasa Inggris untuk mengasah kemampuannya.

Bahkan, ia pernah mencoba tiga instansi sekolah kedinasan sekaligus untuk menggapai cita-citanya, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), STAN, dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Disamping itu, ia juga menempuh pendidikan di Universitas Sumatera Utara (USU).

"Tahun 2005 itu susah dapat info, dan tanya ke sana ke mari, buku dan bimbel belum ada, jadi berjuang sendiri. Tahun pertama nggak lolos, sambil nunggu ujian selanjutnya kuliah di USU. Tahun kedua coba STIS, IPDN, dan STAN. IPDN gagal di tahap ketiga dan yang lain gagal langsung di tahap pertama, akhirnya berpikir lagi harus fokus," kata Wahyu.

Kegagalan yang ia rasakan menjadi penyemangat dirinya untuk terus berjuang di tahun berikutnya. Wahyu pun mulai melakukan pola belajar insentif sepanjang hari di kesempatan terakhirnya.

"Akhirnya di tahun berikutnya saya persiapan dari Januari bimbel. Waktu itu karena namanya saya nggak banyak uang pilih yang murah saja. Dan dengan perjuangan luar biasa pola belajar beneran dari Subuh sampai 11 malam totalitas, liburnya cuma Minggu dari jam 1 siang sampai 7 malam," kisahnya.

Perjuangannya pun membuahkan hasil. Wahyu dinyatakan lolos masuk STAN jurusan Penilaian D3 pada tahun 2007. Ia lulus di tahun ketiga atau kesempatan terakhirnya mengikuti seleksi.

Selama menjadi mahasiswa STAN, ia mengaku sangat menyukai lingkungan serta materi yang dipelajari. Berkat hal itu pula, ia mendapatkan IPK mencapai 3,56 atau tertinggi sepanjang hidupnya.

"Dalam perjalanan jadi menarik karena ngebedah rumah (penilaian), konstruksi apalagi usaha-usaha perkebunan sawit, pom bensin, hotel. Jadi antusias dan IPK jadi 3,56 tertinggi sepanjang hidup saya," tutur dia.

Usia menempuh pendidikan selama 3 tahun, Wahyu pun lulus dan menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Kariernya terus meningkat, sejalan dengan lamanya waktu mengabdi di instansi pemerintah tersebut hingga bertugas di Direktorat Pajak.

"Magang di Jakarta di KPP Jakarta Pratama Menteng I dan itu masih CPNS. Nunggu penempatan pertama 7-8 minggu dan ternyata dapat di Aceh, sampai 2014 dapat promosi di sana. Lalu sempat ambil seleksi beasiswa D4 jurusan akuntansi 2014-2016 dan terakhir penempatan di Direktorat Pajak," imbuh Wahyu.

Resign dari PNS dan Mulai Bisnis. Klik selanjutnya>>>



Simak Video "Bintang 'Friends' Stan Kirsch Ditemukan Meninggal Bunuh Diri"
[Gambas:Video 20detik]

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia