Margaret Hamilton Wafat, Ilmuwan Komputer Perempuan di Balik Misi Pertama ke Bulan

ADVERTISEMENT

Margaret Hamilton Wafat, Ilmuwan Komputer Perempuan di Balik Misi Pertama ke Bulan

Kalila Untsa - detikEdu
Minggu, 11 Okt 2026 10:01 WIB
Margaret Hamilton adalah ilmuwan komputer yang berkontribusi dalam misi Apollo untuk mengirim manusia ke bulan
Margaret Hamilton adalah ilmuwan komputer yang berkontribusi dalam misi Apollo untuk mengirim manusia ke bulan Foto: Doc. MIT
Jakarta -

Margaret Hamilton, ilmuwan komputer yang memimpin pengembangan perangkat lunak untuk program Apollo milik NASA, meninggal dunia pada 30 September 2026 dalam usia 90 tahun. Karyanya berperan penting dalam keberhasilan Apollo 11, misi yang membawa manusia pertama kali menginjakkan kaki di Bulan pada Juli 1969.

Kabar meninggalnya Hamilton diumumkan Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada Rabu (7/10). Selama lebih dari dua dekade berkarier di lingkungan MIT, ia menjadi salah satu pelopor rekayasa perangkat lunak (software engineering), bidang yang kala itu belum diakui secara luas sebagai disiplin tersendiri.

Hamilton bergabung dengan tim MIT yang mengembangkan perangkat lunak untuk komputer pandu Apollo. Ia awalnya mengerjakan program bagi misi tanpa awak, sebelum dipercaya memimpin pengembangan perangkat lunak penerbangan untuk misi berawak. Pada 1968, ia menjabat asisten direktur yang bertanggung jawab atas tim Command and Service Module.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam proyek tersebut, lebih dari 400 orang terlibat dalam pengembangan perangkat lunak Apollo. Hamilton menjadi perempuan pertama sekaligus programmer pertama yang direkrut untuk proyek Apollo di MIT.

ADVERTISEMENT

"Saya tertarik pada gagasan itu sendiri, juga karena hal tersebut belum pernah dilakukan sebelumnya. Saya adalah programmer pertama yang bergabung dan perempuan pertama yang mereka rekrut," kata Hamilton kepada The Guardian pada 2019, mengenang awal keterlibatannya dalam proyek tersebut.

Software yang Bantu Selamatkan Misi Apollo 11

Kontribusi Hamilton paling dikenal publik melalui peristiwa menjelang pendaratan Apollo 11 di Bulan pada 20 Juli 1969. Beberapa menit sebelum modul Eagle mendarat, komputer pesawat memunculkan alarm kesalahan 1202. Sistem mengalami beban kerja berlebih akibat masalah pada perangkat keras, sehingga muncul kekhawatiran bahwa komputer tidak mampu menangani seluruh proses pendaratan.

Namun, perangkat lunak yang dikembangkan Hamilton dan timnya telah dirancang untuk menghadapi situasi semacam itu. Sistem tersebut menggunakan mekanisme berbasis prioritas yang memungkinkan komputer menghentikan tugas-tugas yang tidak mendesak dan memusatkan sumber daya pada fungsi paling penting bagi misi.

Dengan demikian, alarm tidak serta-merta berarti misi harus dibatalkan. Perangkat lunak dapat mendeteksi masalah, memulihkan sistem, dan memastikan tugas-tugas prioritas tetap berjalan. Setelah pengendali misi di Houston memastikan kondisi memungkinkan untuk melanjutkan penerbangan, pendaratan pun diteruskan.

Keberhasilan itu menjadi bukti penting bahwa perangkat lunak bukan sekadar pelengkap perangkat keras. Dalam misi berisiko tinggi seperti Apollo, rancangan perangkat lunak yang mampu mendeteksi dan menangani kesalahan dapat menjadi faktor penentu keselamatan.

Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama, menyinggung peran Hamilton ketika menganugerahinya Presidential Medal of Freedom pada 2016, penghargaan sipil tertinggi di Amerika Serikat.

"Para astronaut kita tidak punya banyak waktu, tetapi untungnya mereka memiliki Margaret Hamilton," kata Obama.

Dalam wawancara dengan MIT News pada 2009, Hamilton juga mengenang betapa besarnya tanggung jawab yang diemban timnya. Tidak ada kesempatan kedua jika terjadi kesalahan dalam misi tersebut.

"Melihat ke belakang, kami adalah orang-orang paling beruntung di dunia, tidak ada pilihan selain menjadi pelopor," ujarnya.

Merintis Rekayasa Perangkat Lunak

Margaret Hamilton lahir di Paoli, Indiana, pada 1936. Ia sempat kuliah di University of Michigan sebelum menyelesaikan pendidikan sarjana matematika di Earlham College. Ia kemudian melanjutkan studi pascasarjana di bidang meteorologi di MIT.

Saat di MIT, ia bekerja bersama Edward N. Lorenz, pakar meteorologi, untuk mengembangkan perangkat lunak prediksi cuaca. Pengalaman itu menjadi pintu masuknya ke dunia pemrograman komputer.

Pada 1961, Hamilton bekerja sebagai programmer di MIT Lincoln Laboratory dalam proyek Semi-Automatic Ground Environment (SAGE), sistem pertahanan udara pertama Amerika Serikat. Ia menulis perangkat lunak untuk komputer yang digunakan Angkatan Udara AS dalam mendeteksi pesawat yang berpotensi menjadi ancaman.

Dari pekerjaan tersebut, Hamilton mulai menaruh perhatian pada keandalan perangkat lunak. Ia kemudian mengembangkan pendekatan yang mengantisipasi kemungkinan kesalahan dan memungkinkan sistem tetap berfungsi ketika menghadapi gangguan.

Salah satu pengalaman yang memperkuat pendekatan itu terjadi ketika putrinya, Lauren, tanpa sengaja menjalankan program yang seharusnya digunakan sebelum peluncuran saat simulator modul komando sedang berada dalam simulasi penerbangan. Tindakan tersebut membuat simulator mengalami gangguan.

Hamilton mengusulkan perubahan perangkat lunak untuk mencegah kesalahan serupa terjadi dalam misi nyata. Usulan itu sempat ditolak karena dianggap tidak mungkin dilakukan oleh astronaut yang telah menjalani pelatihan ketat.

Namun, kejadian serupa benar-benar terjadi dalam misi Apollo 8 pada 1968. Astronaut Jim Lovell secara tidak sengaja menjalankan program tersebut ketika penerbangan berlangsung, sehingga data navigasi menghilang. Hamilton dan timnya kemudian diminta mengatasi masalah itu, dan perubahan yang sebelumnya ia usulkan akhirnya dimasukkan ke dalam program.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu contoh awal pendekatan defensive programming, yakni merancang perangkat lunak agar mampu mengantisipasi, mencegah, atau menangani kesalahan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Hamilton juga memperjuangkan pengakuan terhadap rekayasa perangkat lunak sebagai bidang profesional tersendiri. Ia menggunakan istilah software engineering untuk menegaskan bahwa pengembangan perangkat lunak memerlukan metode, ketelitian, dan standar keandalan sebagaimana bidang teknik lainnya.

"Saya berjuang agar perangkat lunak mendapatkan legitimasi sehingga bidang itu-beserta orang-orang yang mengembangkannya-mendapat penghargaan yang semestinya," kata Hamilton kepada El País dalam wawancara yang diterbitkan pada 2017.

Setelah program Apollo berangsur berakhir, Hamilton melanjutkan kiprahnya di bidang teknologi. Pada 1976, ia mendirikan perusahaan perangkat lunak Higher Order Software yang berfokus pada pendekatan pengembangan sistem untuk mencegah kesalahan dan meningkatkan toleransi terhadap gangguan.

Sekitar satu dekade kemudian, ia mendirikan Hamilton Technologies. Perusahaan tersebut mengembangkan produk dan layanan untuk memperbaiki proses perencanaan, rekayasa sistem, dan pengembangan perangkat lunak agar lebih andal dan efisien.

Sepanjang kariernya, Hamilton menulis lebih dari 130 publikasi. Ia juga menerima berbagai penghargaan, termasuk NASA Exceptional Space Act Award pada 2003 dan Presidential Medal of Freedom pada 2016. Pada 2017, ia menerima Computer History Museum Fellow Award, sebelum masuk National Aviation Hall of Fame pada 2022.

Namanya kemudian semakin dikenal sebagai ikon perempuan di bidang sains dan teknologi. Salah satu gambar yang membuatnya populer memperlihatkan Hamilton berdiri di samping tumpukan cetakan kode perangkat lunak Apollo yang dikembangkan timnya di MIT. Pada 2017, sosoknya juga diabadikan sebagai minifigur Lego dalam rangkaian yang menghormati perempuan-perempuan penting dalam sejarah NASA.

Olivier de Weck, profesor Apollo Program sekaligus pejabat sementara kepala Departemen Aeronautika dan Astronautika MIT, menyebut Hamilton sebagai sosok pelopor yang kontribusinya jauh melampaui pengembangan kode komputer.

Menurut de Weck, Hamilton memimpin tim yang mengembangkan teknologi baru untuk salah satu sistem paling kompleks yang pernah dibuat manusia. Ia juga terus mendorong kemajuan rekayasa perangkat lunak setelah program Apollo berakhir.

Hamilton meninggalkan seorang putri, Lauren Hamilton, seorang menantu, dua cucu, dan empat cicit. MIT menyebutkan upacara peringatan untuk mengenangnya akan digelar pada musim semi mendatang di Cambridge, Massachusetts.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Prabowo Siapkan Program Sekolah Gratis, APBN Mumpuni?"
[Gambas:Video 20detik] (pal/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads