Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Asia-Europe Foundation (ASEF) dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia resmi membuka Asia-Europe Youth Summit on Science and Technology Diplomacy 2026. Kegiatan yang berlangsung hingga 24 Oktober ini akan diikuti oleh 59 profesional muda dari 41 negara.
Asia-Europe Youth Summit on Science and Technology Diplomacy 2026 merupakan bagian dari Asia-Europe Science and Technology Diplomacy Initiative for Young Professionals yang diinisiasi ASEF. Melalui forum ini, para peserta diharapkan dapat menemukan peluang kolaborasi riset internasional yang menghasilkan solusi bagi masyarakat, mendorong pengembangan teknologi, dan memperkuat inovasi.
Kepala BRIN, Arif Satria, menilai diplomasi sains menjadi semakin penting saat dunia menghadapi berbagai persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja. Mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, transisi energi, kesehatan, hingga perkembangan teknologi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kepakaran sains dengan keterlibatan diplomasi, pertukaran pengetahuan, akan memberikan masa depan yang berkelanjutan," ujar Arif dalam video Konferensi di di Komplek BRIN Auditorium Gedung BJ Habibie, Jalan MH Thamrin Nomor 8 Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Kepada para peserta, Arif berharap kesempatan ini dapat menjadi kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pengambilan keputusan, bertukar ide, dan membangun koneksi lintas disiplin dan batas negara.
"Yang paling penting, mengubahnya menjadi tempat bermakna yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat," pesannya.
"Dengan senang hati saya secara resmi membuka Asia-Europe Youth Summit on Science and Technology Diplomacy," bukanya.
Hasil Forum
Salah satu keluaran utama dari forum ini adalah Youth Communiqué bertajuk "Youth Perspectives on Asia-Europe Cooperation on Science Diplomacy". Laporan ini akan memuat pandangan, prioritas, dan rekomendasi para profesional mengenai penguatan kerja sama sains dan teknologi di Asia dan Eropa.
Dokumen tersebut akan dipresentasikan dalam dialog antargenerasi sebagai bentuk kontribusi generasi muda terhadap pengembangan kerja sama internasional yang inklusif dan berbasis pengetahuan ilmiah.
