Sebuah video YouTube yang direkam pada 2019 memperlihatkan 100 orang dipilih secara acak untuk mencoba bersiul di depan kamera. Hasilnya, sekitar separuh peserta gagal melakukannya.
Sebagian bahkan hanya menghasilkan suara aneh yang sama sekali tidak menyerupai siulan. Namun, ada hal menarik ketika video menampilkan peserta yang berhasil bersiul. Hampir semuanya tampak membentuk posisi mulut yang serupa. Kedua sudut bibir mereka sedikit tertarik ke samping, bukan dimajukan seperti ketika hendak mencium seseorang.
Di bagian tengah bibir, terdapat lubang kecil berbentuk bulat dengan ukuran kira-kira selebar pensil. Bentuk ini cukup berbeda dari gambaran umum mulut yang membulat lebar seperti huruf O saat bersiul. Lantas, jika bersiul membutuhkan posisi mulut tertentu, mengapa sebagian orang bisa melakukannya dengan mudah, sementara yang lain terus gagal meski sudah berulang kali mencoba?
Francisco Ruiz, profesor teknik mesin di Illinois Institute of Technology yang meneliti akustik siulan, menjelaskan ketidakmampuan bersiul akibat faktor anatomi tergolong jarang. Pada kebanyakan orang, kuncinya justru terletak pada latihan. "Ibaratnya seperti belajar mengendarai sepeda. Kita akan berkali-kali jatuh, sampai akhirnya bisa," ujarnya seperti dikutip dari PopSci.
Mengapa sebagian orang sulit bersiul?
Meski sebagian besar orang dapat mempelajari keterampilan ini, ada kondisi fisik tertentu yang bisa membuat seseorang sangat kesulitan bersiul, bahkan tidak mampu melakukannya. Salah satunya adalah cleft palate atau celah langit-langit, yakni kelainan bawaan ketika langit-langit mulut tidak menutup sempurna.
Menurut Ruiz, menghasilkan siulan membutuhkan koordinasi yang tepat antara bentuk bibir dan posisi lidah terhadap langit-langit mulut. Keduanya harus membentuk celah dengan ukuran dan posisi tertentu agar aliran udara dapat menghasilkan suara. Pada orang dengan celah langit-langit, struktur mulut yang berbeda dapat menghambat terbentuknya penyempitan saluran udara yang diperlukan untuk bersiul.
"Kita perlu mendapatkan geometri bibir yang tepat, kemudian mengatur posisi lidah terhadap langit-langit mulut. Jika seseorang memiliki celah langit-langit, mereka mungkin tidak bisa bersiul karena tidak dapat membentuk penyempitan saluran udara dengan benar," jelas Ruiz.
Istilah geometri mungkin terdengar rumit untuk aktivitas sesederhana bersiul. Namun, tubuh manusia sebenarnya mampu mengatur posisi bibir, lidah, dan rongga mulut secara presisi tanpa harus memikirkannya secara sadar. Di luar kondisi anatomi tertentu, kesulitan bersiul umumnya bukan berarti seseorang sama sekali tidak memiliki kemampuan tersebut. Tingkat kesulitannya berbeda-beda. Ada orang yang cepat menemukan teknik yang tepat, sementara yang lain membutuhkan latihan lebih lama.
Usia juga diduga berperan dalam proses mempelajari keterampilan ini. Maureen Stone, ilmuwan bicara sekaligus profesor emeritus di Fakultas Kedokteran Gigi University of Maryland, mengibaratkan belajar bersiul saat dewasa seperti mempelajari bahasa asing ketika usia sudah bertambah.
"Jika seorang dewasa pindah ke negara baru dan diminta mempelajari bahasa setempat, kemungkinan besar ia akan selalu memiliki aksen. Namun, jika seorang anak pindah ke negara baru, hal itu bukan menjadi masalah," tuturnya.
Stone menilai masa pubertas menjadi salah satu titik penting dalam proses tersebut. Bersiul memerlukan kontrol otot bibir dan lidah yang akurat. Setelah memasuki masa pubertas, kemampuan tubuh untuk beradaptasi dalam mempelajari keterampilan baru tertentu cenderung berbeda dibandingkan saat masih anak-anak. Namun, bukan berarti orang dewasa tidak bisa belajar bersiul. Mereka mungkin hanya perlu berlatih lebih keras untuk menemukan koordinasi gerakan yang tepat.
(pal/pal)