Belajar mengendarai sepeda biasanya dilakukan saat usia kanak-kanak. Uniknya, kemampuan ini akan selalu diingat oleh seseorang, bahkan saat seseorang kehilangan ingatannya sekalipun.
Mengapa bisa demikian? Padahal beberapa orang bisa saja melupakan warna baju yang dikenakannya kemarin atau melupakan janji pertemuan dua hari yang akan datang. Hal ini terkait dengan jenis memori yang menyimpan ingatan seseorang.
Menurut seorang profesor neurologi di Boston University, Dr Andrew Budson, manusia memiliki tiga jenis memori jangka panjang yang mengatur bagaimana informasi diproses, disimpan, dan diakses oleh otak.
"Mengendarai sepeda tentu saja merupakan suatu aktivitas motorik, dan itu tergantung pada beberapa struktur jauh di dalam otak yang disebut sebagai ganglia basa. Itu adalah wilayah-wilayah kunci, dan itu sangat berbeda dengan ingatan akan peristiwa-peristiwa dalam hidup kita, seperti mengingat (menu) makan malam tadi malam," katanya, dikutip dari Popular Science, Senin (18/10/2026).
Apa yang Terjadi pada Memori Kita?
Kita memiliki memori semantik mengatur penyimpanan informasi dan fakta yang memungkinkan untuk menavigasi dunia, seperti bagaimana menggunakan obeng atau membedakan kucing dan anjing. Memori episodik berkaitan dengan ingatan jangka panjang yang subjektif atau berkesan bagi seseorang.
Memori yang menyimpan kemampuan mengendarai sepeda adalah memori prosedural. Cara kerja memori ini memungkinkan seseorang untuk mempertahankan pengetahuan tentang tugas-tugas yang telah menjadi kebiasaan. Contoh selain bersepeda adalah berenang dan bermain gitar.
Memori prosedural memang tertanam kuat di otak, namun tidak menutup kemungkinan bagi manusia untuk beradaptasi. Dalam hal mengendarai sepeda, manusia bisa beradaptasi dengan berbagai jenis sepeda.
Misalnya, saat pertama kali belajar menggunakan sepeda roda empat, kemudian saat sudah beranjak dewasa, seseorang menjadi bisa menggunakan sepeda roda dua, bahkan hingga sepeda gunung.
"Yang membedakan memori prosedural adalah ketergantungannya pada struktur otak yang berbeda, yang secara umum jauh lebih tahan terhadap perubahan seiring waktu," jelas Budson.
Meski kemungkinannya lebih rendah, informasi yang dimuat pada memori prosedural tetap bisa memudar. Maka dari itu, belajar mengendarai sepeda juga perlu dilakukan berulang kali sebelum benar-benar mahir.
Pengulangan adalah kunci untuk membentuk memori prosedural yang sempurna, bahkan setelah tidak digunakan dalam waktu yang lama.
"Memori prosedural kita memang mengalami penurunan, tetapi penurunannya lebih lambat daripada memori episodik. Jadi tidak diragukan lagi bahwa latihan membantu memori tersebut tetap sangat aktif dan kembali lebih cepat," tutur sang profesor.
Bersepeda Bisa Memengaruhi Memori Jangka Panjang
Berdasarkan studi yang dipublikasikan pada 2017 lalu, bersepeda dapat meningkatkan memori jangka panjang seseorang. Studi ini melibatkan 30 anggota komunitas Bike to Work Bandung dan kelompok lain yang berangkat kerja mengendarai sepeda motor.
Para peserta kemudian diminta untuk melihat 15 kata acak yang sama sekali tidak berhubungan satu sama lain dalam kurun waktu 1,5 menit atau 90 detik. Mereka diminta untuk menulis ulang angka yang diingatnya. Peneliti kemudian memberikan skor berdasarkan kata yang ditulis dengan benar.
Hasilnya, skor rata-rata pesepeda mencapai 75,53 dan pengendara sepeda motor hanya 63,97. Karena perbedaan secara statistik signifikan, peneliti menyimpulkan bahwa bersepeda memang memengaruhi memori jangka panjang secara positif.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
Simak Video "Video: Neurolog Ungkap Sakit Kepala Seperti Ini Bisa Jadi Tanda Gejala Stroke"
(faz/faz)