Perkembangan artificial intelligence (AI) membuatnya menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masyarakat masih sering abai akan etika AI.
Menurut Hafidlotul Fatimah Ahmad, SKom, MKom, selaku dosen Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika IPB University, dua aspek etika yang kerap diabaikan adalah human oversight (pengawasan manusia) dan data privacy (privasi data).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fatihmah menjelaskan AI generatif seperti ChatGPT dan Gemini bekerja dengan memprediksi kata berikutnya berdasarkan data yang telah dipelajari. Oleh karena itu, hasilnya tidak selalu benar.
"Tidak bisa kita menjadikan AI ini satu-satunya sumber kebenaran," jelasnya dalam laman IPB University, Rabu (14/10/2026).
Setelah menerima jawaban dari AI, masyarakat sebaiknya melakukan pengecekan ulang. Ia melihat link yang disertakan oleh AI bisa jadi tidak valid atau mengarah pada sumber yang sebenarnya tidak ada.
Jangan Upload Data Sensitif ke AI
Masyarakat juga perlu menjaga kerahasiaan data saat mengunggah data ke AI. Data sensitif, seperti nomor induk kependudukan (NIK), maupun data penelitian yang bersifat rahasia tidak boleh dimasukkan ke layanan AI.
Untuk menjaga kerahasiaan, masyarakat perlu memahami pengaturan privasi setiap layanan AI. Beberapa layanan menyediakan pilihan agar percakapan tidak digunakan sebagai data pelatihan.
AI sebagai Alat Bantu
Baca juga: Korsel Resmikan 33 Kampus Fokus ke AI |
Dalam pendidikan, AI dapat membantu mencari ide, melakukan brainstorming, dan membuat latihan soal. Namun, menyalin hasil AI tanpa pemeriksaan dan mengumpulkannya sebagai karya sendiri dapat melanggar integritas akademik.
Fatimah menyarankan mahasiswa untuk tetap memegang kendali dalam menggunakan AI, termasuk menjaga privasi data dan meningkatkan keterampilan mengikuti perkembangan teknologi.
"Pesan saya simpel, ingat bahwa tugas yang teman-teman kumpulkan, itu membawa nama teman-teman, bukan nama AI," pesannya.
