Kelelahan mental berkepanjangan (burnout) bisa jadi terwujud dalam bentuk kehilangan rasa ketertarikan terhadap hal-hal yang dulu disukai, sering kehilangan konsentrasi, hingga merosotnya dorongan berinteraksi sosial. Namun, banyak orang keliru mengenali hal-hal ini sebagai bentuk dari rasa malas atau kurangnya motivasi.
Wakil Dekan II Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Onny Fransinata Anggara menyampaikan, di tengah gempuran budaya untuk selalu produktif (hustle culture), orang bisa terjebak dalam situasi functional burnout. Apa itu?
Pengertian 'Functional Burnout' dan Cirinya
Kondisi 'functional burnout' adalah kondisi saat seseorang mampu bekerja, menyelesaikan kuliah, dan menyelesaikan tanggung jawab harian, walaupun energi dan kesehatan mentalnya terus terkuras sampai titik nadir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Onny mengatakan, kelelahan adalah hal yang amat manusiawi. Meski demikian, apabila dibiarkan tanpa penanganan, akan berisiko merusak fungsi diri secara perlahan.
Salah satu indikator utama dari 'functional burnout' adalah penurunan efisiensi kerja. Misalnya, biasanya seseorang bisa mengerjakan lima laporan dalam sehari, tetapi perlahan turun menjadi tiga, dua, atau bahkan satu saja.
"Orang yang sedang burnout tetap bisa beraktivitas, tetapi produktivitasnya mulai menurun," kata Onny, dikutip dari Unesa.
Apa Pemicu Burnout?
Onny menjelaskan, akar pemicu burnout tidak selalu tumpukan beban kerja fisik. Ia menyebut, faktor pola pikir, cara merespons tekanan, sampai kecenderungan seseorang menguras energi mental berupa memikirkan hal-hal di luar kendali pribadi, juga berperan besar.
Sayangnya, situasi akan semakin memburuk saat orang tersebut terjebak dalam kebiasaan membandingkan pencapaian pribadi dengan garis waktu (timeline) hidup orang lain yang jelas berbeda. Di situlah tuntutan untuk selalu produktif berubah jadi jebakan beracun.
Ia menegaskan, saat waktu beristirahat dicap sebagai kemalasan dan mengambil jeda dirasa sebagai kekalahan, maka seseorang bisa terus memaksakan diri sampai tumbang.
Kapan Saatnya Mengambil Tindakan?
Onny menyarankan mengambil jarak sejenak dari sumber tekanan jika sinyal kelelahan mulai mengganggu fungsi harian. Ia menyebut, seseorang bisa memulai dari beristirahat, cuti, bercerita kepada sosok yang dipercaya, sampai menyalurkan emosi melalui aktivitas fisik yang sehat.
Apabila situasi berlanjut dan mengganggu kepercayaan diri, maka ia menyarankan untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental. Ia juga mengingatkan agar kelelahan di tempat kerja tidak dilampiaskan kepada orang-orang di rumah.
"Jangan sampai kelelahan dari pekerjaan dilampiaskan kepada orang-orang terdekat. Keluarga yang selama ini menjadi alasan kita berjuang, jangan sampai justru ikut menanggung dampak dari tekanan mental yang tidak terkelola dengan baik," ucapnya.
Ia menegaskan, karyawan dengan target yang tinggi, mahasiswa yang menyelesaikan skripsi, sampai orang tua yang menjalani peran pengasuhan, butuh sistem pendukung yang sehat.
"Kesehatan mental tidak hanya bergantung pada kemampuan individu dalam mengelola diri, tetapi juga pada lingkungan yang mendukung. Kita perlu membangun lingkungan dan organisasi yang tidak hanya berfokus pada produktivitas, tetapi juga menjaga stabilitas mental. Ini tanggung jawab bersama," terangnya.
"Jangan sampai kita terus memaksakan diri demi menyelesaikan segala hal, tetapi kehilangan kegembiraan dalam menjalaninya. Hidup bukan perlombaan untuk selalu lebih cepat dari orang lain, dan istirahat bukan sesuatu yang harus menunggu sampai kita benar-benar tumbang," tegasnya.
