×
Ad

Hakim Internasional Asal Afrika Selatan Raih Nobel Perdamaian 2026, Ini Sosoknya

Devita Savitri - detikEdu
Sabtu, 10 Okt 2026 13:00 WIB
Navanethem "Navi" Pillay, peraih Nobel Perdamaian 2026. Foto: UN Photo/Loey Felipe/Loey Felipe (Instagram/Nobel Prize)
Jakarta -

Norwegian Nobel Commitee (Komite Nobel Norwegia) resmi mengumumkan penerima Nobel Perdamaian 2026. Penghargaan tinggi ini diberikan kepada hakim internasional asal Afrika Selatan Navanethem "Navi" Pillay.

Hadiah Nobel ini dianugerahkan kepada Navi Pillay atas upayanya dalam mempromosikan perdamaian dan hukum internasional. Lahir 23 September 1941 di Durban Afrika Selatan, Pillay digambarkan sebagai sosok yang berada di garis terdepan dalam pengembangan tatanan hukum internasional.

Setelah lulus dari ilmu hukum, ia langsung turun gunung dan membela para aktivis yang menentang apartheid. Apartheid adalah sistem pemisahan ras yang ditetapkan oleh pemerintah kulit putih di Afrika Selatan dari 1948-1990an.

Dikutip dari laman resmi Nobel Prize, Sabtu (10/10/2026) berikut ini kisah Navi Pillay selengkapnya.

Perjalanan Karier Navi Pillay

Pillay diketahui dibesarkan dalam keluarga keturunanan Tamil India di Durban, Afrika Selatan. Pada 1967, usai lulus kuliah ia mendirikan firma hukumnya sendiri.

Ilmunya dilengkapi dengan menempuh pendidikan Doktor Ilmu Hukum di Harvard University dan lulus pada 1988. Sejak saat itu, ia terus mengabdikan dirinya dengan menjadi pengacara dan pelopor hukum yang menghadapi diskriminasi struktural, segregasi, dan pengucilan.

Pada 1995, Pillay diangkat menjadi Hakim Pengadilan Tinggi Afrika Selatan. Empat tahun kemudian, ia menjadi hakim dan Presiden Pengadilan Kriminal Internasional untuk Rwanda (ICTR).

Ketika menjadi hakim internasional ICTR, Pillay memperoleh penghargaan atas perannya. Dengan tegas ia menetapkan bila kekerasan seksual dan pemerkosaan serta penyebaran propaganda dapat termasuk dalam dakwaan atas kejahatan kemanusiaan dan genosida.

Berlanjut, karir Pillay kembali meningkat. Ia sempat bertugas sebagai hakim di Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Setelahnya, dari 2008-2014, ia menjabat sebagai Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.

Pillay juga memimpin Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB tentang Wilayah Palestina yang Diduduki dari tahun 2021 hingga 2025, dan pada tahun 2019 ia menjadi hakim ad hoc di Mahkamah Internasional (ICJ) dalam kasus di mana Myanmar dituduh melakukan genosida.

Melihat hal ini, Komite Nobel Norwegia sangat menganggap penting peran Pillay. Ia disebutkan sebagai kekuatan pendorong dalam pengembangan sistem hukum dan ketertiban internasional.

Ketika jumlah perang, konflik, dan lembaga hukum internasional di bawah serangan politik, Komite Nobel berharap ada seorang yang mampu untuk menyelesaikan konflik tanpa kekerasan atau paksaan. Langkah ini bisa diwujudkan dengan supremasi hukum internasional.

"Sistem hukum internasional di mana penjahat perang dimintai pertanggungjawaban dan korban penyalahgunaan melihat keadilan ditegakkan adalah prasyarat untuk dunia yang damai," tulis Nobel Prize.

Respons Navi Pillay Usai Dapat Nobel Perdamaian

Dijelaskan Pillay, ia mendengar kabar mendapatkan Hadiah Nobel saat sedang berada di ruang sidang. Kala itu ia tengah mendengarkan panel membicarakan tentang keadilan dan reparasi.

Di tengah sidang, ia dipanggil oleh Direktur Nuremberg Principles Academy International, Christoph Safferling dengan wajah serius. Ia memberikan kabar tersebut kepada Pillay.

"Mereka semua melihatnya di media terlebih dahulu, jadi saya menatapnya tidak percaya. Secara bertahap saya mendapatkan semua pemberitahuan dan menonton pengumuman itu. Jadi, kemudian saya mulai percaya. Saya benar-benar terkejut dan sangat-sangat merasa terhormat dan tersentuh," ungkap Pillay.

Reaksi Pillay juga dibagikan dalam tayangan media sosial Instagram kantor berita Al Jazeera. Saat keluar dari ruangan, ia mendapatkan tepuk tangan meriah dan dijawab dengan gurauan.

"Terima kasih banyak, terima kasih banyak. Jika kalian bertepuk tangan sedikit lebih banyak, mungkin saya akan berbagi hadiah ini dengan Trump (Donald Trump Presiden AS)," guraunya.

Pillay menyebut tepuk tangan apresiasi itu sangat berarti baginya. Menurutnya, seseorang tidak pantas menerima penghargaan jika publik tidak setuju.

Melalui tepuk tangan yang ia dapatkan, Pillay meyakini publik setuju bila ia layak mendapatkan Nobel Perdamaian 2026.

"Jadi begitulah cara saya menghargai tepuk tangan Anda hari ini, terima kasih banyak. Tetapi, sebagai seorang pengacara dan hakim, sata tetap ingin memverifikasi informasi ini," sebut Pillay.



Simak Video "Video Grup A Piala Dunia 2026: Ceko vs Afsel Selesai dengan Skor 1-1"

(det/nwk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork